Bohong kalau aku nggak deg-degan menjelang perubahan usiaku, kemarin. Aku bahkan curhat habis-habisan di bulan Desember kemarin, di sebuah tulisan berjudul : Menjelang Tiga Puluh. Sekalipun aku mengakhirinya dengan menulis bahwa, “Daripada saya menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan perpindahan age box yang bakal membuat kerut-merut di wajah saya semakin nampak, why don’t I enjoy the ride? Afterall… I will be a fabulous thirty years old gal, anyway… ” Tapi tetap saja, ketika waktu bergulir semakin dekat, rasa deg-degan itu tidak pernah menghilang dari setiap kedipan mata dan setiap denyut jantung.
I was so nervous to death. Kalau kamu bilang aku berlebihan, oh well, bukankah hiperbolis adalah nama tengahku?
Continue reading