Naskah itu belum rampung. Tersimpan rapi di dalam sebuah folder komputer yang terletak di sebuah kamar, yang seminggu kemarin masih ramai dengan bunyi ketukan jemari beradu dengan tombol-tombol keyboard. Kini, komputer itu terbengkalai karena pemiliknya tak lagi punya waktu untuk menyentuhnya, menjamah keyboardnya, melanjutkan ceritanya. Pemiliknya sudah pergi, benar-benar pergi. Bukan karena bosan lalu memilih laptop yang lebih canggih, atau keasyikan berlibur lalu lupa, tapi benar-benar pergi. Surga, insyaAllah, tujuannya.
Ya. Penulis itu, lelaki yang jemarinya sering beradu dengan keyboard itu, Ayahku, Edi Purwono, telah berpulang hari Kamis tanggal 28 Januari kemarin. Komputer itu terbiarkan sepi, berdebu, tak tersentuh. Naskah yang sekuat tenaga berusaha dirampungkan sampai maut menjemputnya, belum juga rampung. Continue reading