Ketika seseorang menjemput ajalnya, pernahkah kamu berkata, “Ah, aku sudah berfirasat demikian sebelumnya.”
Dan pula berkata, “Pantas saja waktu kemarin bertemu, dia sempat ‘pamitan’ segala.. Aduh, ternyata firasatku benar…”
Ya. Firasat. Sebuah tanda-tanda yang diberikan oleh orang-orang yang hendak berpulang ke pangkuan Tuhan, yang mungkin terabaikan hanya karena kita lost in translation, tidak pernah menyangka bahwa setiap kalimat yang teruntai, setiap gesture tubuh, telah menyimpan makna. Sebuah makna yang akhirnya baru diketahui setelah segalanya terjadi. Setelah mereka benar-benar telah kembali pulang.
Dan saat itu kita hanya bisa bilang, “Ah, pantas saja saat itu firasatku bilang begitu…”
Entah dengan kamu, tapi biasanya, ketika orang-orang terdekatku akan tutup usia, sebuah firasat meracau di benakku. Kalimat-kalimat yang mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan merasa kehilangan yang amat sangat, sebuah perasaan yang tidak bisa kuterjemahkan tapi aku merasakan kalau wajah dan pancaran sepasang mata mereka saat memandangku menyimpan duka yang mendalam dan berusaha untuk berpamitan. Continue reading