Rabu.
27 Januari 2010.
Pukul enam sore lewat sedikit.
Sedan hijau Bro melaju perlahan menuju kamar VIP yang memiliki pelataran parkir di depannya sehingga kami bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus melewati lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Sebelum sampai ke rumah sakit, ponselku berdering pendek. Ada sebuah SMS yang masuk. Dari sahabatku.
Dia menyampaikan kabar baik kalau Papi sudah bisa buang air besar. Pas aku tanya, “Seberapa banyak?”
Dia langsung bilang, “Meneketehe. Tanya ndiri gih, nanti kalau udah nyampe.”
Dan tidak lama kemudian, sedan hijau Bro sudah terparkir rapi di pelataran parkir, persis di depan beranda kamar tempat Papi menginap sejak hari Minggu malam. Aku melihat wajah-wajah orang yang kukenal; Om, Bulik-Bulik, Sepupu-Sepupu, sahabat-sahabat, seorang kakak perempuan, dan seorang Ayah yang sedang terbaring di atas ranjang tanpa banyak bicara. Continue reading