Seorang rekan kerja, tadi pagi, bercerita tentang masa-masa kanaknya. Yang memicu cerita ini adalah sebuah telepon kemarin sore dari kawan akrabnya saat masih bersekolah dengan seragam putih merah. Cerita mengalir, yang tentunya banyak menceritakan soal masa-masa kanak-kanak mereka. Pulang dan pergi ke sekolah bareng, kemana-mana bareng, cekakak-cekikik bareng. All the little stuffs they did back in 1970-s. Betapa menyenangkan! Continue reading
Sore pukul enam, aku membuka sebuah pintu kamar sebuah rumah sakit.
Aku melihat Papi terbaring di atas ranjang. Sepasang matanya terpejam, tangannya dilipat di atas dada, tubuhnya berbungkus selimut sampai ke pinggang, lalu terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Papi terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.
Mbak Piet, kakak sulungku, bilang, “Tadi Papi sempat bangun sebentar, aku ajak omong sedikit, terus tidur lagi…”
Sepertinya, obat yang diberikan Dokter untuk menghilangkan rasa mual di perut Papi mengandung obat penenang, sehingga usai mengkonsumsinya, Papi langsung mudah mengantuk dan tidur dengan tenang.
Papi memang mual-mual terus belakangan ini. Nafsu makannya turun drastis — bahkan tidak makan sama sekali, selain dua butir anggur! Minuman apapun tidak bisa melewati kerongkongannya karena langsung mual. Walhasil, kondisi Papi semakin drop.
Tidak seperti orang-orang yang bobot tubuhnya cenderung turun serta terlihat kurus bila berhari-hari tidak makan, Papi malah terlihat lebih gemuk. Rupanya karena tidak bisa membuang urine dengan lancar hampir seminggu lamanya, membuat tubuhnya membengkak. Belum lagi Papi tidak bisa pup dengan lancar. Duh, aku jadi semakin merasa ngilu setiap harus berkali-kali ke kamar mandi seharian ini hanya karena minumku yang terlalu banyak.
Papiku berjuang sekuat tenaga untuk bisa pipis, sementara di kantor, aku beser sampai bosen! Betapa ironis. Continue reading