Tujuh tahun yang lalu, Mami meninggal. Ini di luar ekspekstasi karena saya tidak pernah melihat Mami berperang dengan penyakitnya. Langit secerah vanila dan burung-burung terdengar begitu cerewet, tapi tepat pukul dua siang, Mami meninggalkan saya selama-lamanya.
Hampir empat puluh hari sebelumnya, sahabat Mami, yang juga Ibu dari tetangga yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, meninggal dunia karena kanker Pankreas yang sudah akut.
Saat itu saya membanding-bandingkan perasaan sedih saya dalam kebisuan dan berkata, “Kalau Lia, Atta, Lena, kan sudah tau persis Mami-nya bakal meninggal.. Mereka tau kalau organ tubuh Mami-nya sudah tidak berfungsi sebagai mestinya. Dokter bahkan menyuruh mereka untuk merelakan kepergian tante Fred. Aku yang lebih sedih, aku yang lebih menderita karena kepergiaan yang sangat mendadak!”
Saya memang merasa lebih ‘berhak’ untuk bersedih, meratapi hari-hari tanpa Mami, dengan satu alasan: saya tidak siap. Kalau saja saya tahu Mami sedang menanti ajalnya, mungkin saya akan merasa lebih legawa, lebih siap menghadapinya, tidak terlalu sedih…
Tapi betul, kah?