Di suatu sore, saya menunggu kakak ipar saya, Mbak Ira, yang masih belum turun dari lantai tiga sebuah gedung Bank, tempatnya mengais rejeki dari Senin sampai Sabtu. Berdua dengan kakak saya, Bro, seperti biasa, kami menunggu di dalam sedan hijaunya, menyetel musik dari stereo setnya, lalu bernyanyi-nyanyi bersama. Sudah bukan rahasia kalau anak-anak Mami dan Papi adalah ‘penyanyi kamar mandi’ semua, sehingga sering sekali kami melewatkan waktu dengan nyanyi-nyanyi gila barengan.
Namun ada yang berbeda dengan sore itu, ketika saya memutuskan untuk merekam suara saya dan Bro dengan ponsel saya. Saat itu, kebetulan lagu-nya Maliq & D’Essential, Untitled, yang terputar dari MP3 playernya. Aksi pertama memang diam-diam, karena Bro sebetulnya nggak suka hal-hal yang narsis seperti ini. Tapi entah, saat itu dia kesambit setan apaan, karena begitu tahu kalau suaranya direkam, dia malah makin asyik bernyanyi dengan suara sok dimerdu-merduin!
Continue reading