Sudah sekian lama saya jarang berdoa.
Sholat memang selalu wajib dilaksanakan. Bacaan-bacaan setelah sholat pun terbaca dengan otomatis; doa buat orang tua, untaian doa sesudah sholat fardhu, juga berdzikir dengan seuntai tasbih. Semua itu seolah otomatis. Usai mengucapkan salam kepada kedua malaikat di bahu kiri dan kanan, doa itu terlantun begitu saja. Ya, otomatis itu tadi.
Tapi, sudah sekian lama saya tidak berdoa. Bermesra-mesraan dengan Allah, sang Maha Pengasih juga Maha Penyayang, lalu mencurahkan seluruh isi hati, seluruh gundah gulana, seluruh gelisah yang menggelora, dan menumpahkan seluruh air mata bersamaan dengan luruhnya semua cerita.
Kenapa?
Entahlah. Entahlah.
Mungkin karena selama ini saya tidak mau dianggap cengeng oleh Tuhan saya. Mungkin karena selama ini, saya ingin Tuhan melihat kalau saya mampu menghadapi semua masalah dengan kekuatan saya sendiri. Saya tidak mau merepotkan Tuhan dengan doa menye-menye saya. Saya ingin mencobanya dulu. Saya tidak ingin melibatkan Beliau dulu, sebelum saya benar-benar tak bisa lagi.
Jadi,
Sudah lama saya tidak berdoa. Sudah lama saya tidak berkeluh kesah. Sudah lamaaaa sekali saya tidak menangis di atas sajadah, menengadahkan tangan, memohon pelukanNya dalam bentuk keikhlasan hati, ketenangan jiwa, dan kelapangan dada. Karena saya ingin Tuhan tahu, makhlukNya yang bernama Lala ini sedang berjuang dan tidak ingin merepotkanNya.
Sampai kemudian, saya menyerah.
Siapa lagi tempat saya mengadu, kalau bukan padaNya?
Siapa lagi tempat saya berkeluhkesah, kalau bukan padaNya?
Siapa lagi yang bisa memberikan kemudahan, menerangi jalan, menggamit tangan, lalu berjalan bersisihan dengan saya, kalau bukan Dia?
Alangkah sombongnya saya kalau masih merasa tak mau berkeluhkesah padaNya! Alangkah sombongnya saya kalau masih tak mau berdoa hanya karena tak ingin Tuhan merasa direpotkan!
Sama seperti seorang Ibu yang memiliki anak.
Jika si Anak memilih untuk menutup-nutupi masalah dari Ibunya karena tak ingin menyusahkan Ibu, padahal sebetulnya si Anak malah jatuh terjerumus makin dalam, bukankah Ibu malah bersedih? Bukankah Ibu malah berkata, “Kamu seharusnya cerita sama Ibu, Nak… Kamu anak Ibu, buah hati Ibu. Ibu sayang sekali sama kamu…”
Saya yakin, kini, Tuhan pun begitu.
Dia menciptakan saya, tanpa cela. Utuh dengan jari-jemari lengkap dan fungsi organ tubuh yang sempurna. Saya adalah makhluk ciptaanNya yang sempurna, karena saya adalah manusia, makhluk dengan derajat paling tinggi di antara semua makhluk yang tercipta olehNya.
Saya yakin, Tuhan menyayangi saya.
Saya yakin, jika saya menangis di bahuNya, meluangkan waktu untuk curhat padaNya, lalu meminta tolong padaNya agar masalah saya segera selesai, Tuhan tidak akan berpaling. Tuhan tidak akan menutup telinga. Tuhan akan menjadi seperti seorang Ibu yang akan merangkul tubuh anaknya yang sedang bergetar.
Tuhan tidak akan marah.
Tuhan tahu kalau saya membutuhkanNya.
Dan Tuhan menyukai orang-orang yang merindukan hadirNya, menyukai orang-orang yang memohon pertolongan padaNya.
Bukan karena Tuhan gila hormat, tapi karena Tuhan tahu kalau kita dekat denganNya dan masih membutuhkan kasih sayangNya…
Hari ini, saya ingin berdoa lagi.
Hari ini, saya ingin meluangkan waktu untuk memejamkan mata lalu menengadahkan tangan saya.
Hari ini, saya ingin bercakap-cakap dengan bahasa Ibu saya, bukannya untaian-untaian doa dengan bahasa Arab seperti biasanya.
Saya ingin berdoa padaNya.
Saya ingin berkata padaNya… “Tuhan, tolong!”
Karena tidak ada yang bisa menolong saya selain Dia…
Tidak akan pernah ada.
***
Kamar, Senin, 16 November 2009, 10.04 Malam
Kepada seorang perempuan bernama Aulia Fita
November 16, 2009 at 10:21 pm
karena tuhan adalah maha mengetahui…
memang enak curhat sama padaNYA la…
apapun itu DIA akan selalu tau yang terbaik untuk dirimu…
don’t stop to talk with Allah SWT
November 19, 2009 at 9:08 am
Iya, Ri…
Dia memang tahu yang terbaik buat diriku…
I won’t stop talking to Allah from now on..
November 16, 2009 at 11:24 pm
ini jeung lala yg terkenal itu ya? hehehe salam kenal aja ah..
btw kalo berdoa yg penting jangan minta dipindahin ‘gunungnya’ tapi mintalah diberi kekuatan utk mendaki ‘gunung’ itu:)
November 19, 2009 at 9:09 am
Huekekeekke..
terkenal gimanaaaa????
Se-RT RW sih iya banget.. hihihi…
Bener, bener.
Mending emang minta diberi kekuatan untuk bisa mendaki daripada bisa mindahin gunung.. berat boo!
November 17, 2009 at 7:19 am
Semoga semua doamu terkabul ya … Amin …
November 19, 2009 at 9:10 am
Amiiinn…
Doa pak Grandis juga dong..
November 17, 2009 at 9:28 am
TUHAN tidak pernah TERLALU SIBUK untuk umat-NYA yang ingin ‘intim’ dalam doa-doanya.
TUHAN tidak pernah TERLALU SIBUK untuk meluangkan waktu-NYA memberikan pelukan hangat yang kita butuhkan.
karena TUHAN mencintai kita..entah kita bisa merasakan cinta-NYA atau tidak.
Selamat menikmati keindahan cinta Tuhan, La
November 19, 2009 at 9:10 am
Nikmati bareng2, yuk, Mbak..
November 17, 2009 at 4:27 pm
Bicara dengan Tuhan itu tidak perlu Reserved dulu …
Just talk …
apapun bahasanya …
DIA pasti mendengar
DIA pasti mengerti
Salam saya
November 19, 2009 at 9:12 am
Bener, Omm…
Apapun bahasanya, Allah pasti ngerti, kok..
Walopun lebih enak dan nyaman kalo berdoa dengan bahasa Ibu ya, Om…. Terasa lebih menjiwai…
November 17, 2009 at 8:52 pm
idem dengan yang diatas, sama2 kalo begitu, salam D3pd…
November 19, 2009 at 9:13 am
salam balik ya…
November 18, 2009 at 7:56 am
percayalah Jeung, Dia pasti memberimu yang terbaik…
November 19, 2009 at 9:13 am
Iya..
Sekarang aku makin percaya, Mama Ray..
November 18, 2009 at 9:22 am
Berdoa kala sholat malam akan terasa lebih khusyu. Curhatnya jadi lebih plong… I used to do it and I have to do it more often..
Makasih sudah diingatkan lewat tulisannya, Mba…
November 19, 2009 at 9:14 am
Bagus tuh kalo bakal do it even more often..
Sama-sama saling mengingatkan, yah… Aku juga perlu diingetin juga..
November 18, 2009 at 11:53 am
Hmm.. one way or another.. in the end kita akan menyadari kalo we’re nothing without Him, Laa
And hanya ketika kita kembali kepadaNya kita akan menemukan kekuatan serta ketenangan dalam menghadapi tiap badai kehidupan kita yaa, Laa
Jangan lupa untuk terus menjalin komunikasi dengan Tuhan yaa, Laa
*sambil ngingetin diri sendiri juga, ahahaha :p*
November 19, 2009 at 9:16 am
Iya, Ndah.. We’re nothing without him. Setelah curhat dengan Tuhan, gue langsung tenaaaanngggg banget
Ayo, ayo. Kalau kita sering banget chatting sama temen2, kita juga musti adil sama Tuhan ya, Ndah… Masa Dia nggak diajak ngomong2 juga…
November 19, 2009 at 1:50 pm
Numpang
“…Ayo, ayo. Kalau kita sering banget chatting sama temen2, kita juga musti adil sama Tuhan ya, Ndah… Masa Dia nggak diajak ngomong2 juga…”
Sepakat…
November 18, 2009 at 5:10 pm
makasih dah sharing La.. mengingatkan aku jg.. sudah lama tdk berkomunikasi akrab dg Dia.. ngobrol dengan Dia.. ya ngobrol, bukan cuma ngomong aja, tp jg mendengarkan
November 19, 2009 at 9:17 am
IYa, Bro..
Sama-sama ngingetin yaaahh…
Memang harus mendengarkan juga, jangan banyak ngomong tapi ogah dengerin… Percakapan kan paling seru kalo selain ngomong, kita juga mendengarkan lawan bicara…