Tentang Dua Dunia

Lelaki itu biasa berpetualang; memandang langit dari daratan yang berbeda. Menjelajah satu negeri ke negeri lainnya, menjejakkan langkah dengan berbalut baju tebal sampai celana pendek dan kaos buntung berwarna cerah. Bersepatu tertutup sampai sandal jepit.

Dia berkelana, dari negeri dua musim sampai ke negeri empat musim. Dia merasakan salju di Belgia, cerahnya langit vanila di Venezia, hujan di Hong Kong, atau musim gugur di negara lainnya. Berkelana adalah nama tengahnya, sekalipun seperti pemberian nama sepasang orang tuanya, kalau saja ia bisa memilih, ia ingin memilih ‘nama’nya sendiri.

Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun  dia berkelana. Katanya, “Demi sekian ribu dollar Amerika, I work my ass off…” Sekalipun sebetulnya dia lelah.

Dia adalah seorang penyendiri. Seringkali berkelana sendiri. Tidur di dalam apartemen yang disewanya bulanan, sendiri. Menikmati sarapan, makan siang, sampai makan malam, sendiri. Mengunyah es krim dan coklat praline favoritnya, sendiri. Bercengkerama di depan laptop yang terkoneksi dengan internetnya, sendiri.

Suatu kali, dia bertemu dengan seorang perempuan ketika asyik berseluncur di dunia maya. Dia mengenal perempuan yang terlihat ramai dan enerjik serta memiliki dunia yang penuh warna-warni pelangi itu lalu mulai merasa dekat. Bahkan jatuh cinta. Ada sesuatu yang dimiliki perempuan itu yang tidak pernah ia miliki; kehangatan keluarga dan kegembiraan saat bercengkerama dengan sahabat-sahabat.

“Saya iri dengan duniamu,” katanya.

“Kenapa?” perempuan itu bertanya.

“Karena kamu hidup di dunia yang ingin aku tinggali… Dunia yang hangat dengan keluarga, dunia yang berwarna-warni, dunia yang penuh dengan tawa… Duniamu…”

** Read the rest of this entry »

Posted in Fiktif. Tags: . 7 Comments »