Sudahkah kamu tahu kalau saya sedang diet merumput yang artinya hanya makan sayur-sayuran aja? No carbs, hanya sayur mayur dan sedikit lauk saja? Diet macam ini sudah berhasil membuat saya turun sampai delapan kilo pada masa awal-awal saya diet merumput.
Ya. Saya memang berhasil.
Tapi tahukah kamu, kalau saya akhirnya bandel dan mulai kembali menjadi karnivora, yaitu pemakan segala? Selain saya mulai aktif lagi mengunyah nasi, kentang, dan jenis karbohidrat lain, saya bilang “Pemakan Segala” adalah “Pemakan Segala.. yang ada di meja makan”! Alias.. um, rakus!
Lebih-lebih setelah semingguan ini saya menginap di rumah Mbak Piet, kakak perempuan saya. Di mana isi meja makan selalu penuh dengan makanan, kulkas selalu penuh dengan cemilan, dan ada toko kelontong yang jaraknya cuman sepelemparan tombak saja. Bisa terbayang betapa gendutnya saya sekarang, kan? Mungkin saya udah nambah beberapa kilo lagi! U’oh!
Makanya, seringkali saya bilang, “Gara-gara Mbak Piet, sih…”
“Lho, kok bisa salahku?” tanya Mbak Piet.
“Ya, soalnya, di rumahmu banyak makanan!”
“Eh, ya salahin mulutmu, tho, Mbhienk. Wong mulutmu yang ngunyah terus kok nyalahin aku…”
Saya cuman tertawa. Ya jelas ini memang salah saya, sih. Memangnya seluruh makanan yang ada di meja itu tersaji khusus cuman untuk saya semata? Memangnya siapa yang suruh buat menghabiskan cemilan-cemilan enak di dalam kulkas? Dan kalau ada toko kelontong di deket rumah Mbak Piet, memangnya gara-gara saya, dia musti pindah tempat?
Yang salah tuh saya sendiri. Mulut-mulut saya sendiri. Nafsu pingin ngemil saya sendiri.
Mbak Piet, Mbak Meneer (asisten rumah tangganya), Chitato, Biskuit Trendz, es krim, nasi putih punel, sambel bajak yang super delicious, sayur asem yang seger…. jelas bukan mereka yang salah, melainkan saya! Kenapa juga musti menyalahkan orang lain?
Later on, it got me thinking about how I often blame others for things that happened to my life.
Saat berjanjian dengan seorang sahabat di Tunjungan Plaza lalu datang terlambat, saya bilang, “Angkotnya lelet! Kayak semut! Gue sampe stresss! Be there in thirty minutes…“
Padahal kalau saya berangkat tepat waktu dari rumah, dengan memperkirakan jarak tempuh berikut dengan perhitungan menitnya, saya mungkin hanya terlambat sepuluh menit kalau memang angkotnya lelet luar biasa. Why should I blame others?
Saat tugas kantor belum selesai juga padahal sudah deadline, saya bilang, “Salah sendiri emailnya baru dateng jam tujuh malem, aku kan udah pulang!”
Padahal bisa saja, kalau saya mengerjakannya tanpa menunda lagi, saya bisa mengumpulkan laporan yang dibutuhkan tepat waktu alias tidak perlu minta kelonggaran sampai sejam. Why should I blame others?
Banyak lagi kedodolan-kedodolan saya dalam menyalahkan orang lain, when the blames were on me.
Saya musti berhenti menyalahkan orang lain dan mulai melihat ke dalam diri saya sendiri.
Apakah saya sudah berangkat tepat waktu?
Apakah saya segera mengerjakan tugas yang dimau tanpa perlu menunda?
Dan apakah saya benar-benar berniat untuk diet ketat no carbs?
Segala pertanyaan itu musti terlontar ke dalam hati kecil saya sendiri sebelum menyemburkan kata-kata emosi jiwa buat orang lain. Maybe, ada beberapa orang yang bisa mentolerir sikap ini, tapi, hey… memangnya semuanya bisa?Dan berapa sih kapasitas toleransi orang lain untuk mentolerir saya? Memangnya saya tahu?
Nah,
Berhubung saya nggak tahu apa-apa soal batasan toleransi orang lain buat saya, memang sebaiknya saya menahan mulut saya agar tidak terlalu sering berkata, “Abisnya…”
…angkotnya lelet.
…emailnya ndadak.
…rumahmu full makanan.
Dan mulai berkata..
…aku tadi berangkat terlambat.
…nanti akan segera saya kerjakan, secepatnya.
…makanku emang kebangetan! Rakus bener!
Dengan begitu, saya nggak perlu bikin sewot orang lain yang nggak merasa bersalah tapi disalahin melulu, seperti nasib kakak perempuan saya yang akhirnya berkata, “Dasar, Sihombing! Kalau pengen kurus, ya nggak usah makan. Beres!”
Daripada diomelin seperti itu, mendingan saya mulai berubah dari sekarang, deh…
***
Kantor, Kamis, 29 Oktober 2009, 3.14 Sore
October 29, 2009 at 3:49 pm
Dan komentar saya singkat saja …
“Prove it … !!!”
October 29, 2009 at 3:56 pm
Siaaaappppp!!!
October 29, 2009 at 8:58 pm
aq jd takut mo ngasih cheese cake…nanti yg ada..”abisnya echa pake bawain cheese cake” ;D
October 29, 2009 at 9:37 pm
Mungkin lagunya si Milli Vanilli udah meresap masuk tanpa disadari, Laa, ahahaha :p
November 3, 2009 at 2:48 pm
abisnya perut mbak lala segede gentong…
hahahah…
*kaburrrr…
November 7, 2009 at 11:42 am
Saya setuju..
Itu juga salah satu kelemahan saya
Hiks..
Mau berubah juga kok mbak.. -.-