it has nothing to do with it…

Suasana ruang IT ketika pagi tadi saya masuk ke sana untuk scanning beberapa gambar dan mentransfer data absensi untuk laporan harian cukup hening. Hanya ada saya dan seorang teman yang in charge untuk segala urusan komputer dan tetek bengek pemrograman di kantor. Ya, hanya ada saya dan Pak Set, lelaki yang sudah saya anggap sebagai seorang teman diskusi yang menyenangkan.

Topik diskusi kali ini adalah tentang Yoenoes dan bayi-bayi kembarnya yang kemarin lahir prematur. Bukannya kebetulan kalau Yoenoes juga dekat dengan Pak Set; apalagi yang membuat kami dekat kalau bukan karena Pak Set adalah teman diskusi yang menyenangkan sehingga kami bisa bebas bercerita dan meminta pendapat? Read the rest of this entry »

And, that was it

Do you have the tickets?”

“He eh.”

He knows that you’re coming, right?”

“Seharusnya begitu.”

So, he knows that you’re going to say something really important?”

“Nggak tahu juga.”

“Lah, what’s the point, then, Darl?”

“Aku nggak tahu.”

So?”

What ‘so’? I have no idea and I don’t care.

Dia menghela nafas. Dia tahu, aku adalah perempuan yang keras kepala; seolah tahu apa yang kuinginkan tapi sebetulnya tak pernah tahu apa yang aku butuhkan. Dan seperti hari-hari sebelumnya, dalam ratusan… bahkan ribuan hari sebelum saat ini, dia hanya menghela nafasnya, sebuah tanda bahwa dia memang tak bisa meladeni argumentasiku yang tak mungkin patah (saking keras kepalanya aku).

Careful, alrite?!”

Every time, Babe…. Every time!”

** Read the rest of this entry »