Left Over Cake

Just opened my refrigerator.
Dasar perut gembul, jam segini malah kelaparan! Seharusnya perut saya tahu persis kalau saya sedang dalam program diet; bukan karena kebaya ‘lontong’ yang akhirnya cukup populer karena sering saya sebut di blog maupun facebook, tapi karena baru saja saya membeli beberapa potong baju yang sengaja dibeli dalam ukuran lebih kecil, karena percaya sebentar lagi bakal muat.

Aduh! Sebentar lagi, dari Hongkong??? Yang ada gara-gara kopdaran di mana-mana, minggu kemarin (ups, udah seminggu yang lalu, ya? Buset, dah. Waktu jalan cepet banget sih!), saya kebanyakan makan, makan, dan makan. OK, sekarang saya resmi menggendut! 

Nah, seharusnya perut mau kompromi dong, jangan rewel kalau malam-malam begini? Tunggu sampai besok pagi, kek, waktunya sarapan? Atau siangan dikit, pas saya janjian kencan sama Lin di Tunjungan Plaza? Asal jangan malam ini, deh, pas saya sudah pake kaos gombrong di atas lutut dan siap-siap tidur. Jangan, jangan. Saya bakal semakin gendut kalau musti makan jam segini. HELP! Read the rest of this entry »

Princess Lala, eh?

Seorang kawan bicara soal Pangeran Berkuda dan Puteri yang ternyata tidak menunggu di atas menara, tapi di bawahnya.
Dalam bayangan saya, mungkin puterinya sedang memoleskan bedak, membubuhi gincu, dan berkali-kali melihat ke cermin sambil bertanya: “Sudahkah aku nampak cantik buat dia?” Lalu bersisir, lalu melirik cermin lagi, lalu melihat jarum penunjuk jam yang merambat terus sampai kembali ke angka dua belas, dan terus menerus begitu. Setiap hari. Setiap saat.

Saya membaca tulisan itu sampai berkali-kali.
Terus dan terus; seolah teradiksi.

Tiba-tiba, hati saya bergetar tak biasa.
Lagi-lagi, ketika saya sampai di satu bagian saat dia bercerita soal rasa enggannya menyelamatkan sang Puteri karena mereka telah menunggunya di bawah, bukan terperangkap bersama Naga dan semburan api panasnya. As a man, dia ingin mencari puteri yang lain… yang memang butuh diselamatkan…

Hm.
I began to wonder:
Apakah saya termasuk seorang puteri yang tak pantas diselamatkan? Yang mengurangi minat seorang Pangeran untuk menyelamatkan saya? Karena saya tidak menumbuhkan nyali kelaki-lakiannya?

Dan satu hal lagi.
Apakah saya benar-benar ingin diselamatkan?
Apakah saya malah menikmati duduk di dalam sebuah ruang, di atas menara, lalu menengok ke bawah, melihat Pangeran Berkuda yang ternyata kurang bisa menggerakkan minat saya untuk berteriak minta tolong, sehingga saya diam saja?
Bersembunyi, malah?
Takut ia melihat, mungkin?

Sampai sore ini, sampai menit saya mem-publish cerita ini, saya adalah Puteri yang tolol dan tak tahu apa yang dia inginkan.
Meskipun saya tahu, di dalam hati saya, jauuuhhhh di dalam sana, ada satu sosok Pangeran Berkuda yang berkali-kali lewat di bawah kastil yang ditunggui Naga dengan semburan nafasnya yang sanggup meluluhlantakkan semua yang ada di sekelilingnya…..
…tapi dia tak pernah menengok ke atas.
…tapi saya tak berani berteriak.

Dan masih terus begitu…


…Sampai hari ini.

***

Five minutes before Bro asked me to come down

(Bandung-Jakarta’s Stories Part. 2) Girls Will Be Girls

I was in the bathroom.
Mengeringkan rambut pendek saya dengan hairdryer.

I was in the bathroom.
Memutihkan kulit wajah saya dengan dempulan moisturizer, alas bedak, mineral powder, dan bedak padat sebelum mulai melukis wajah saya; dari alis, mata, pipi, sampai bibir. Maskara? Tentu saja! Memangnya seajaib itu tiba-tiba bulu mata saya menjadi tebal dan lentik?

I was in the bathroom.
Mematut-matutkan tubuh bongsor saya di depan cermin; memakai pakaian terusan batik di atas lutut dan mesam-mesem sendiri mengagumi wajah cantik saya. Uhui! Pasti kacanya bohong! :D Berputar-putar dengan grogi di depan cermin, mencari-cari apa yang salah karena tiba-tiba perasaan saya berkata, “Idih, kok bukan gue banget, ya?” Dan membayangkan saya bakal seharian beraktivitas, saya khawatir rok selutut itu bakal robek atau tersingkap! Haha… I’m not a ‘real’ girl, btw. Saya terlalu urakan untuk disebut perempuan sejati! Read the rest of this entry »

437

Dari beberapa kali kopdar dengan teman-teman blogger, banyak di antara mereka langsung berkomentar:

“Ternyata Jeung Lala itu edan, ya?”

Haha. Baru tahu, ya, kalau saya ini edan? Sinting? Gila? Nyablak? Doyan becanda? Dan tingkahnya mirip kuda lumping kesurupan? (lama-lama lebay, deh.. udah jelas-jelas rambut lo pendek, Jeung, kuda lumping kan rambutnya model shaggy sebahu gitu! hehe!

Mereka semakin yakin kalau saya ini memang bandel, bawel, cerewet, dan suka bikin geger restoran atau tempat kongkow, setelah melihat polah tingkah yang jauh dari kesan Miss Universe lagi gala dinner (hidih, emang siapa yang tega nyamain elo sama Miss Universe?? Iya, iya, semua orang juga tahu kalau saya lebih cantik ketimbang Miss Universe! Nggak usah maksa gitu, deh! hehe) setelah mereka melihat langsung betapa ‘gila’nya saat kopdar. Ngakak, suka ngeledek, sampai pura-pura ngambek…. lengkap deh pokoknya!

Segera mereka bilang, “Gue udah mikir elo itu edan, La,” kata Mas Nug (yang ganteng banget itu! hihi), “tapi gue nggak nyangka kalau elo lebih edan lagi!” Read the rest of this entry »

Ain’t A Supergirl

Setiap melakukan perjalanan ke Jakarta, saya selalu ditanya:
“Naik apa, La?”

Setelah saya jawab kalau perjalanan kali ini saya masih menggunakan kereta untuk mengantarkan saya sampai Ibukota, muncul pertanyaan berikutnya:
“Kok nggak naik pesawat aja, sih? Kereta kan habis waktu di jalan…”

Oh, Boy, I know.
Dua belas jam perjalanan Jakarta-Surabaya dengan kereta dibandingkan satu jam lima belas menit dengan pesawat terbang yang membelah langit boleh dibilang saya memilih jenis transportasi yang menghabiskan waktu. Saya harus mengambil cuti sehari lebih banyak dan mempersiapkan diri untuk merasa pegal-pegal usai perjalanan. Read the rest of this entry »

(Bandung-Jakarta’s Stories Part.1) Selebritis Vs Penggemar

I am a writer wannabe.

Saya pernah pernah menulisnya di side bar blog saya dan dengan segera seorang teman bernama Donny Verdian bilang, “Hey, kamu itu penulis!” Maksud dia, saya bukannya ‘wannabe’ tapi ‘already’ atau berhenti saja di “I am a writer.” Selesai.

Saat itu saya belum lagi menulis buku, meskipun blog menjadikan saya sebagai penulis yang sangat aktif (ah, terbayang kini di dalam kepala saya betapa dulu saya bisa menulis sampai sembilan cerita dalam satu hari!). Semua kejadian-kejadian kecil di dalam kehidupan saya berhasil saya ceritakan ulang di blog saya yang saat itu masih baru beberapa bulan saja umurnya. Entah kenapa, ketika masih ‘perawan’ dan belum ‘melahirkan jabang bayi‘, seorang saya tidak pernah berani menyebut dirinya sendiri sebagai penulis. Iya, karena menurut pemikiran saya, profesi yang sungguh hebat dan selalu berhasil membuat saya ternganga bangga dan iri tidak boleh disamakan dengan penulis di blog yang standar-nya, for me, that time.

I was a blogger. A writer wannabe.
Not until I can publish my own book and find it in the book store; I’m not qualified enough to be called as a writer.
Sudahlah, blogger saja. Tak perlu bilang bahwa saya adalah penulis; meskipun kini saya mulai menganggap bahwa setiap blogger adalah penulis-penulis yang menunggu giliran agar naskahnya segera dibaca oleh seorang editor lalu mulai berjuang di berbagai sidang agar dianggap layak cetak. Read the rest of this entry »

One Way Ticket, Please!

I’ve told you that life’s moving forward and not the other way around.
Iya kan?

Saya juga pernah bilang sama kamu, kan,  kalau setiap hari, kita harus pintar-pintar mengambil kesempatan sebelum terlambat dan suatu saat kelak kamu akan merasa sangat menyesal karena tak pernah berani mengambil langkah yang seharusnya kamu lakukan itu? Yang kemudian saat itu saya bertanya padamu kamu, “Is that the kind of life that you really wanted to live? Spending the rest of your life, thinking of things that should’ve been said and done?”

Itulah kenapa saya seringkali bilang, hidup adalah soal perjalanan yang maju terus ke depan. Entah itu bukan keputusan yang bijak, tapi tetap saja, mesin waktu yang bisa membawa saya kembali ke pelukan masa lalu saya tidak akan pernah bisa terbeli karena Lang Ling Lung masih sibuk mendapat order-an dari Paman Gober! Jadi, sudahlah! Lelah menantinya! :D Read the rest of this entry »

WHY?

Pagi tadi, sebelum saya ‘hampir kehabisan nafas’ karena banyak pekerjaan, seorang teman mengobrol dengan saya di jendela percakapan Facebook. Namanya Shinta, kakak perempuan dari teman les Bahasa Jepang saya yang ternyata juga sudah mengenal saya dari milis sebuah majalah perempuan. What a small world.

Dia menyapa saya terlebih dulu. Saat itu saya sedang asyik membuka youtube.com untuk mencari video klip 3T, kelompok vokal beranggotakan keponakan-keponakannya Michael Jackson, yang berjudul Why; selain bertujuan untuk mendengarkan lagu tersebut, saya juga berniat untuk menulis sesuatu based on that song. Lagu ini memang termasuk lagu favorit saya dan sumpah mati dulu pernah tergila-gila dengan anggota-nya yang paling bungsu! Haha! Read the rest of this entry »

We’re Growing Up, Aren’t We?

I read someone’s blog, today.
Membacanya pelan-pelan. Tertawa, pelan. Tersenyum, sedikit. Tertawa, masih pelan. Kadang merasa kedua mata saya memanas dan tanpa terasa beberapa bulir air mata terjatuh dan segera saya susut. Kali ini cepat-cepat, dengan ujung jari, sambil mendamaikan badai yang entah kenapa membuat hati saya tidak tenang.

Are you growing up?

Pertanyaan itu terlintas di dalam pikiran saya dari masa ke masa, dari kalimat pembuka sampai penutup, dari cerita yang satu ke cerita berikutnya. Begitu terus sampai usai. Begitu terus sampai saya kehabisan energi untuk mendamaikan perasaan saya.

Are you really growing up?

Masih pertanyaan yang sama. Masih pertanyaan yang berhasil membuat energi saya terkuras hanya dengan tiba-tiba memikirkan betapa banyaknya cerita yang ia tulis di sana dan membaca bahwa perlahan-lahan ia telah berubah menjadi sebuah sosok yang tadinya tidak pernah tervisualisasi dengan sempurna meski saya dan dia harus berebut oksigen, di tempat yang sama. Meski kulitnya kadang bersentuhan dengan kulit saya; tapi tetap saja, sosok itu tidak pernah terlihat sama sekali.

Dia menjadi perempuan yang sama sekali lain.

Bukan seperti perempuan yang beberapa tahun lalu melambai pergi dan saya tangisi diam-diam di atas ranjang kamar saya. Di depan televisi yang menyala dan sekeping disc yang merekam kalimat-kalimat yang tak sempat terucapkan olehnya ketika kami mengadakan farewell party untuknya di sebuah hotel, bulan Desember 2006. She’s different. She’s becoming someone else; but she’s better.

So, are you really growing up?

Yang terakhir saya tahu dari sahabat perempuan saya itu adalah dia masih menganggap cinta di prioritas sekian, jauh di bawah saya menempatkan cinta dan pernikahan dalam hidup saya. Dia tidak peduli dengan boy things, karena baginya, hidup adalah sesuatu yang sudah jauh sangat menyenangkan tanpa campur tangan mereka. OK, she’s been in several relationships, tapi tetap saja, baginya, lelaki bukanlah segalanya. Cinta? Apa itu definisi cinta? Read the rest of this entry »

Heartbeats

Untuk Mbak Dewi


Saya pernah menulis tentang kehidupan saya yang mirip dengan Roller Coaster; ada yang masih ingat? Tulisan itu menjadi tulisan favorit Om NH18 dan rupanya disukai juga oleh Penerbit Grafidia yang memutuskan untuk memasukkan tulisan itu ke dalam buku saya. 

Di situ saya bercerita tentang hidup yang saya ibaratkan sebagai Roller Coaster raksasa, dengan milyaran manusia yang duduk di atas keretanya, berharap-harap cemas, menduga-duga apakah mereka mampu menyelesaikan perjalanan nanti dengan sukses atau muntah di jalan dan ingin berhenti. Ups and downs, sentakan ke kiri dan kanan, berputar sampai tiga ratus enam puluh derajat, bukanlah perjalanan yang mudah. Read the rest of this entry »