Kulihat Rei sedang duduk di depan komputernya. Sebentar-sebentar menengok ke mesin print, sebentar-sebentar mengetik sesuatu di atas keyboardnya, lalu kemudian sibuk sendiri dengan teman-temannya.
Aku melihatnya dengan hati yang berdebar.
Jantungku seperti berlompatan keluar dari relnya.
Keringatku menjadi sebesar bulir jagung yang keluar tanpa kendali dari anak-anak rambutku.
Aku takut.
Aku tak sabar.
Aku takut.
Aku ingin segera bilang.
Semalam sudah kuputuskan, untuk bilang saja padanya, ungkapkan semuanya, tanpa membutuhkan jawaban, hanya satu kepastian kalau dia tahu bahwa selama ini aku tidak pernah bercanda saat aku mengatakan betapa inginnya aku dicintai olehnya.
Tak perlu dia mencintaiku juga.
Atau mendapatkan reaksi paling romantis ala Shakespears, yaitu dia berhambur memelukku dan bilang dia mencintaiku juga sejak bertahun-tahun yang lalu tapi menunggu saat-saat seperti ini. Read the rest of this entry »