So here I am.
Just finished few pages (11, so far) of my new project. Judulnya Second Wives Club, well.. ini masih rencana sih, karena bisa jadi bakal berubah di tengah jalan.. hehe… maklum, amatiran…
Saya kasih cuplikannya dikit yah…
Bocoran 1:
Don’t you just love to see your man talking about his dreams and how he could manage to make those dreams come true? Don’t you just love to see the sparkling stars in his eyes? And at the same time, dia memelukmu erat dan membiarkan jari-jemarinya mengusap bahumu pelan dan lembut?Ah, memang akan selalu ada hal-hal yang tak pernah bisa terbeli dengan uang.
Zara, Mango, Banana Republic… well, itu adalah barang-barang yang bisa dibeli dengan uang atau kartu plastik hebat bernama Credit Card.
Hachi Hachi Bistro, Penang Village, Jade Imperial… hem, those fancy restaurants just only accepted cash or credit card, bukan kasih sayang atau rengekan penuh simpati.
Toilet yang gratisan pun sudah jarang, kecuali toilet di apartemen atau rumahmu sendiri.
There’s something that money can’t ever buy.Let me tell you mine.
Pelukan Kekasih ketika lama tak bertemu, kalimat-kalimat nakal dan bawel di telepon saat berjauhan, sentuhan di dahi saat merapikan poni yang jatuh berantakan di dahi, bantuan Kekasih ketika mengkaitkan gelang silver bersepuh emas putih, dan sekedar bertanya, “Hey, kamu keliatan nggak sehat. Aku antar ke dokter, ya?”
Tidak akan bisa tergantikan dengan uang, dalam jenis apapun. Logam, kertas, dan jenis mata uangnya.
Bocoran 2:
“Dan elo tuh yang nggak sopan, udah tahu gue ngasih kado yang bombastis begitu, elu masih ngata-ngatain gue dan nggak nraktir gue makan kemana gituh…”
“Bukannya siang ini gua udah nraktir elo, Bu?”
“Hey! Thirty three years old dan elu masih nraktir gue di Food Court? Kelas elu tuh udah yang Jade Imperial, Bu. Rekening elu di bank juga nggak bakal sadar kalau elu nraktir gue makan di sana…”
“Haha… usaha minta traktiran yang sangat dahsyat, Len. Lo emang tahu kalau gua paling suka dibilang pintar…”
“Hayah, emang kapan gue nyebutin gitu???” Tanya Helena bingung.
“Suka-suka gua, dong.. Elo masih mau gua ajak dinner di Jade Imperial, kan?”
Helena mengikik geli. “Iya lah…”
“Ya udah, nurut ama gua…” kataku sambil memasang mimik wajah pura-pura galak.
“Iya deh, iya… Ibu Kelana Lesmana Dewi yang baik, cantik, pintar menabung pula..” lanjut Helena yang kemudian sukses membuatku tertawa. Ah, Helena, Helena…
Hanya karena aku menjanjikan dinner di resto mahal, dia sudah repot-repot memuji sahabatnya ini sampai setinggi langit. Gimana kalau setelah dinner nanti malam aku bilang sama dia soal tiket Mariah Carey dan permintaan khusus supaya dia menemani aku menonton konser serta menginap di hotel berbintang empat, sambil belanja sampai bangkrut di Singapura ya? Harus siap-siap membawa tim medis nih, nanti malam.
Jaga-jaga aja, siapa tahu Helena beneran pingsan.
Bocoran 3:
Radit memandangku dengan kesal. Ya, bukan yang pertama kali ini dia merasakan kekesalan yang sama. Aku tak bisa berkata apa-apa, kecuali memeluk tubuhnya yang bergetar.
Ah, I am truly a weirdo.
Pernah nggak sih, di sepanjang sejarah, ada seorang perempuan muda yang rela menjadi wanita kedua, tapi membiarkan lelaki tercintanya itu untuk tidak menikahinya dan melarangnya untuk meninggalkan istrinya demi perempuan itu?
Pernah nggak sih, di sepanjang sejarah yang pernah kamu tahu, kalau itu semua dilakukannya atas nama cinta, karena di matanya cinta adalah memberikan segalanya tanpa menuntut mendapatkan segalanya?
Kalau memang tidak pernah terjadi dalam sejarah, well, then let me be the first.
Aku akan telepon MURI atau Guiness Book sekalian supaya segera mencatatnya karena aku adalah perempuan pertama yang rela menahan sakit hatinya sendiri dan sangat naïf dalam menerjemahkan isi hatinya.
So, maaf ya, kalau agak membiarkan blog terbengkalai..
Yah, lagi sibuk nyelesein novel nih… mudah-mudahan cepat kelar, okay…
Love ya, all…
Goodnite…
Saya sudah sampai di Surabaya lagi, after 4 days holiday di Jogjakarta.
Semalam tadi, pukul delapan malam, saya sudah sampai di depan rumah, setelah melalui perjalanan Jogjakarta-Surabaya yang ditempuh dalam waktu delapan jam kurang sedikit, dengan kendaraan sedan hijau milik Bro. A couple of first hours, saya duduk di kursi belakang… okay, tidak duduk, tapi saya memilih untuk tiduran seperti kebo *eh, emang kebo bisa tiduran, yah? hehe* dengan alasan, “Ah, ntar abis ini Mbak Ira juga bakal ngantuk dan minta pindah ke belakang.. Jadi aku musti nabung energi dong supaya bisa melekan nemenin Bro…”
Kalimat sakti ini masih terbukti keampuhannya sampai sekarang *at least, sampai perjalanan panjang semalam tadi*, buktinya Mbak Ira langsung menurut dan mau duduk di sebelah suaminya pada beberapa jam pertama sehingga saya bisa bebas ‘ngebo’ sampai pukul empat sore-an (the journey was started on 12 o’clock and I was stay awake at the beginning of two hours).
As usual, setelah memaksa melek dan menemani suaminya, Mbak Ira pun menyerah lalu bertukar posisi dengan saya. Sejak pukul empat sore-an itu saya menjadi navigator untuk Kakak Lelaki tercinta saya itu. Oh ya, not just as a navigator *which btw, ini sangat-lah berlebihan karena sebetulnya saya ini buta geografis! hihihi* but as his standing comedian. Yah, orang yang bisa membuatnya ketawa which it would help him a lot on keeping him awake and yes, also alert. Continue reading