Saya sudah sampai di Surabaya lagi, after 4 days holiday di Jogjakarta.
Semalam tadi, pukul delapan malam, saya sudah sampai di depan rumah, setelah melalui perjalanan Jogjakarta-Surabaya yang ditempuh dalam waktu delapan jam kurang sedikit, dengan kendaraan sedan hijau milik Bro. A couple of first hours, saya duduk di kursi belakang… okay, tidak duduk, tapi saya memilih untuk tiduran seperti kebo *eh, emang kebo bisa tiduran, yah? hehe* dengan alasan, “Ah, ntar abis ini Mbak Ira juga bakal ngantuk dan minta pindah ke belakang.. Jadi aku musti nabung energi dong supaya bisa melekan nemenin Bro…”
Kalimat sakti ini masih terbukti keampuhannya sampai sekarang *at least, sampai perjalanan panjang semalam tadi*, buktinya Mbak Ira langsung menurut dan mau duduk di sebelah suaminya pada beberapa jam pertama sehingga saya bisa bebas ‘ngebo’ sampai pukul empat sore-an (the journey was started on 12 o’clock and I was stay awake at the beginning of two hours).
As usual, setelah memaksa melek dan menemani suaminya, Mbak Ira pun menyerah lalu bertukar posisi dengan saya. Sejak pukul empat sore-an itu saya menjadi navigator untuk Kakak Lelaki tercinta saya itu. Oh ya, not just as a navigator *which btw, ini sangat-lah berlebihan karena sebetulnya saya ini buta geografis! hihihi* but as his standing comedian. Yah, orang yang bisa membuatnya ketawa which it would help him a lot on keeping him awake and yes, also alert. Read the rest of this entry »