Unnecessary Madness

Learning From The Movies Vol. 3

Selain punya adiksi berlebihan terhadap drama romantis Hollywood, orang seganteng George Clooney, frappuccino-nya Starbucks atau Cookies and Cream Coffee-nya Grazia Cafe, juga warna pink yang sama sekali tidak mencerminkan karakter pribadi *oh, I am cute, but definitely not that cute! wekeke*, saya juga punya beberapa adiksi yang lain, salah satunya adalah: SELF TORTURING.

Self torturing alias menyakiti diri sendiri adalah salah satu dari kebiasaan buruk saya. Kalau boleh pinjam istilah teman saya, “Lo itu, ya, La… suka banget si Read the rest of this entry »

THE Events!

Tahun ini, Indonesia bakal menggelar beberapa fantastic events.
Tahu nggak, event apa saja?

Mmm…

Java Jazz 2009? Yang tahun kemarin saya pingin banget datang ke sana tapi dilarang sama dompet dan perusahaan kartu kredit itu? :)

Pemilihan caleg DPRD dan DPR lalu diikuti dengan Pemilu 2009 yang memperebutkan gelar Presiden periode 2009-2014? *eh, masih lima tahunan, kan? soalnya kan sering banget tuh, belum lima tahun udah dilengserin duluan… hehehe* 

Atau pernikahannya si Titi Kamal sama Christian Sugiono, yang dikabarkan bakal menikah tahun ini di Australia karena beda agama? *idih, penting ya, La, infotainment banget….*

Atau mungkin pernikahnnya jeung Lala Purwono  sama cowok yang belum bisa disebut namanya itu? *yah gimana bisa nyebut nama cowok itu, wong wujudnya aja belom ada, gemana seehhh!!! wekekekekeke…* Read the rest of this entry »

Stop Playing God

Learning From The Movies Vol.2

Pernah nggak, once in your life, kamu bilang begini: “Nggak bakal, deh, gue mau menikah sama orang seperti dia. Kaku, pendiam, nggak gaul. Gue hobi nge-mal, dia hobi benerin koleksi vespanya. Gue pingin dinner di tempat agak mahal, dia ngajakin di emperan. Gila aja. Gue bisa mati kali kalau punya suami kayak dia!”

And then, in five years, kamu sedang mengandung anak keduamu dengan lelaki yang kamu sebut pendiam, kaku, nggak gaul, dan sebagainya itu…?

Kamu pun cengar-cengir nggak jelas ketika temanmu bertanya: “Kok elu bisa mau sih, sama cowok itu?”
Lalu kamu bilang, “Ya, gue juga nggak tahu kenapa. Yang jelas, gue sekarang udah terlanjur jadi bini-nya…”
Dan akhirnya, kamu dan temanmu itu tertawa terbahak-bahak sampai dua pasang mata kalian berair hanya karena mengingat kembali semua kata-kata sumpah disambar geledekmu di masa lalu itu. Read the rest of this entry »

Faith : how about trying to read the signs?

Learning From The Movies Vol.1

Life’s full of signs.

Rambu-rambu lalu lintas yang bertebaran di pinggir jalan; mulai dari perintah untuk jalan terus kalau hendak belok ke kiri, dilarang berhenti sampai rambu berikutnya, dilarang parkir di sini, dilarang putar U, dilarang masuk, sampai petunjuk kalau jalan yang benar adalah belokan ini dan beberapa kilometer lagi kamu akan sampai ke tempat tujuanmu.

Safe and sound. Read the rest of this entry »

Sebelum Dia Pergi (7 dan Terakhir)

1/2/3/4/5/6

Kulihat Rei sedang duduk di depan komputernya. Sebentar-sebentar menengok ke mesin print, sebentar-sebentar mengetik sesuatu di atas keyboardnya, lalu kemudian sibuk sendiri dengan teman-temannya.

Aku melihatnya dengan hati yang berdebar.
Jantungku seperti berlompatan keluar dari relnya.
Keringatku menjadi sebesar bulir jagung yang keluar tanpa kendali dari anak-anak rambutku.
Aku takut.
Aku tak sabar.
Aku takut.
Aku ingin segera bilang.

Semalam sudah kuputuskan, untuk bilang saja padanya, ungkapkan semuanya, tanpa membutuhkan jawaban, hanya satu kepastian kalau dia tahu bahwa selama ini aku tidak pernah bercanda saat aku mengatakan betapa inginnya aku dicintai olehnya.

Tak perlu dia mencintaiku juga.
Atau mendapatkan reaksi paling romantis ala Shakespears, yaitu dia berhambur memelukku dan bilang dia mencintaiku juga sejak bertahun-tahun yang lalu tapi menunggu saat-saat seperti ini. Read the rest of this entry »

Sebelum Dia Pergi (6)

1/2/3/4/5

Seorang teman yang lain pernah bercerita padaku soal istilah “I love you came too late”. Cerita yang diawali dengan kisah romansa malu-malu tentang kata-kata cinta yang lenyap di udara setiap pandangan mereka beradu, kemudian diakhiri dengan penyesalan lalu kata-kata yang mengusik ketegaran seperti ini.

“Luna, kita nggak pernah tahu cara membaca hati seseorang. Kecuali orang-orang yang punya gift, kita ini hanya orang-orang yang buta aksara dalam membaca huruf-huruf yang bertebaran di dalam hati. Tapi kita bisa mendengar, Luna. Dan suara yang tersiar di telinga itu bisa menyampaikan informasi dan memberikan sinyal-sinyal ke impuls syaraf lalu sisanya, hati yang memutuskan. Jangan menebak-nebak, jangan menerka apa yang ada di hati seseorang. Tanyalah. Jangan membiarkan orang bingung menilai. Jadi bicaralah. Jangan pernah membiarkan kamu tersesat dalam masquerade ciptaanmu sendiri. Ungkapkan saja. Katakan saja. Dan dengarkan dia.”

“Tapi… aku takut…”

“Kalau kamu takut, mulai sekarang, harus kamu ingat baik-baik.”

“Apa?”

“Seandainya suatu saat nanti, bertahun-tahun sesudah hari ini, kamu baru tahu kalau ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama tapi tersimpan kuat hanya karena dia sama nggak beraninya seperti kamu… ingat ini baik-baik. NEVER REGRET.”

“…”

“Nggak usah nangis… why bother? Nggak usah sedih dan meratapi nasib… well… I’ve told you so? Nggak usah menyesal… you did it, no pressure.”

“…”

“Tuhan punya maksud, Luna, kenapa peristiwa ini terjadi.”

“…”

“Mungkin… Dia bermaksud begini… supaya kamu segera jujur padanya dan mengungkapkan semua.”

“… kamu yakin, Ta?”

“Mm… sudah berapa lama sih dia ada di hati kamu?”

“… hampir seribu hari…”

“Luna…” Dia memandangku. Memberi jeda. Lalu meremas jemariku, sambil tersenyum. “I think it’s time…” Read the rest of this entry »

Sebelum Dia Pergi (5)

1/2/3/4

Hari-hari seperti berlari cepat semenjak dia berpamitan padaku untuk segera terbang ke langit di sebelah sana yang katanya menjanjikan terang yang lebih terang. Tentang tempat yang katanya banyak tertabur ribuan bintang dan memudahkannya mencapai semua mimpi yang pernah terkubur bertahun-tahun lamanya karena harus terperangkap dalam sistem 9 to 5 selama belasan tahun.

“Aku ingin bebas.”
Katanya di suatu hari yang cerah dan berlangit vanila. Senyumnya terkembang manis dan matanya bercerita lebih banyak dari bibirnya.

“Aku ingin terbang saja… Melayang-layang… tanpa perlu takut terjatuh… lalu terbang lagi sampai aku menyentuh tempat yang paling indah…”
Masih matanya yang berkata lebih jujur.

“Kamu tahu, Luna? Aku lelah… Aku ingin menciptakan sebuah dunia yang kumau, bukan yang mengaturku untuk berbuat sesuatu. Aku bosan terperangkap dalam aturan yang mengikat kaki-kakiku. Aku ingin pergi, Luna… Aku ingin berlari…”

Hatiku berdebar saat itu.
Berlari dari sini, berarti lari dari hidupku juga. Terbang dari sini, artinya sama saja dengan terbang dari kehidupanku juga. Read the rest of this entry »

Sebelum Dia Pergi (4)

1/2/3

Sebaliknya, Rei sungguh berbeda dengan aku. Dalam sejarah napas yang kuhitung bersamanya, tak pernah kumelihat ada bunga-bunga yang sengaja mekar dan mewangi di sekelilingnya. Tak pernah terhembus berita tentang dia mencintai siapa, seperti apa yang bisa menarik hatinya, dan apa yang terjadi dengan dunianya sebelum dia masuk ke dalam hari-hariku.

Yang kutahu dia berbeda.
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.

Dia tak pernah menyadari tentang mukjizat Tuhan paling nyata yang pernah kulihat, ada pada dirinya. Kesempurnaan wajah, kesempurnaan tubuh, kesempurnaan hati, kesempurnaan yang nyaris sempurna.

Tak pernah dia menyadari tentang keindahan yang ada pada dirinya. Tak pernah sedikitpun aku mendengar tentang dia melukai hati, memainkan hati, mencubit hati, mengolok-olok hati… tak pernah sama sekali. Atau cerita tentang masa lalu yang membentuk Rei masa kini dengan segala keunikannya yang mempesona, tak pernah sama sekali.

Rei yang kukenal hanya seorang Rei yang:
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.
Dan satu lagi:
Dia tak pernah sudi memberikan hati buat perempuan yang diam-diam menggilainya… Read the rest of this entry »

Sebelum Dia Pergi (3)

1/2

 

Ribuan kali aku berkata,
“Aku cinta kamu, Rei.”

Tak terhitung berapa kali aku bilang padanya,
“Kamu adalah pencuri hatiku sejak pertama kita bertemu…”

Hampir selalu kubisikkan padanya,
“Aku ingin melahirkan anak-anak yang lucu buat kamu, Rei…”

Tapi di setiap ujung kalimat penuh romansa dan rayuan gombal itu, aku selalu menambahkan kalimat-kalimat tak penting, yang melenyapkan efek magis yang mungkin sempat tercipta karena betapa jujurnya aku mengungkap sisi terdalam sebuah hati padanya. Read the rest of this entry »

Sebelum Dia Pergi (2)

sebelumnya…

Di dalam coffee house yang tenang meskipun bermusik lirih dari sudut sana, aku merasa terasing sendiri dalam duniaku.

Air mata meleleh dalam setiap adukan kopi latte yang entah kenapa tak bisa berhenti kuaduk. Setiap dentingnya menciptakan nyeri. Setiap riak airnya yang membentuk bulatan-bulatan melebar lalu hilang menepi, menciptakan letih. Aku letih. Merindunya. Aku tak sabar. Ingin sekali berteriak padanya kalau aku mulai kehilangan dia.
Tapi, bisakah aku? Read the rest of this entry »