archives

Archive for December 28, 2008

too available

Sometimes,
I hate my self for being too available for someone I really like.

Whenever he calls… I pick up his call, like I would be dead if I don’t.
Kalau dia mengirim SMS… saya akan segera membalas. I won’t keep him wait. Well, kecuali saya memang benar-benar nggak denger bunyi dering SMS, HP ketinggalan, atau saya sedang ngambek nggak jelas sama dia.
Kalau dia mengajak keluar… dinner, casual lunch, anything… saya tidak berpikir panjang untuk bilang iya. Ok, a little drama at first, tapi ujung-ujungnya.. saya tetap bilang, “Okay. Kapan? Sekarang? Kamu jemput atau ketemu di sana?”

And I hate myself for being too available.

Apalagi ketika saya melakukan apa yang dia lakukan,
dia tidak se-excited saya saat menerima sms.
dia nggak ‘mati’ kalau membiarkan telepon saya berdering..
dan enteng bilang, “hmm.. jangan sekarang deh… aku lagi sibuk…” ketika saya ingin ketemu.

Damn.
I hate it.
Saya nggak mau jadi perempuan yang terlalu available.
I’m tired become one… for twenty eight years and 10.5 months…I think, that’s enough.

Ya.
I had enough.
Just enough.

The Ex File


I got a message in my cellphone.
Dari seorang teman… okay, I won’t lie to you… it was from my ex.

He was my second boyfriend. Teman satu divisi tapi beda cabang. He’s in Jakarta and I’m in London. Okay, I won’t lie to you again… :) Saya di Surabaya, lah. Where else?

It was such a short story, by the way. We met, we fell in love, and several months later, I just knew that he already had a girl friend and about to marry her in a year. I still remember. It was October 17th 2004 when I found out his dirty secret *it’s dirty, isn’t it?* and asked for goodbye. Dia selalu bilang, belum tentu juga bakal berjodoh dengan perempuan itu… well, helloooww… Gimana saya juga bisa tahu kamu jodoh saya atau bukan? Meanwhile I was waiting for you and then… you would say, “Sorry, La… kayaknya gue bakal bener-bener menikah sama cewek gue…” Gila kan?

I was sane enough to make that decision. Meskipun dia selalu bilang, “at least, give us a try…”
Halah! ‘Give us a try’… give US a try… US?? Apa maksud kamu dengan bilang “US”? Tidak ada ‘US’, yang ada adalah saya seperti perempuan nggak bener yang ngerebut pacar orang! And by US is you and her. Bukan kamu dengan saya…

We were totally separated on November 2004, but we’re still having a great relationship as friends… til now.

Once, saya liburan ke Jakarta dan mengadakan reuni kecil-kecilan dengan rekan-rekan HRD & GA kantor pusat. Kenapa dibilang reuni? Karena di antara enam orang (lima di Jakarta dan saya sendirian di Surabaya), hanya tinggal saya dan Inang saja yang masih belum beredar ke mana-mana. Di situlah pertama kali kami ngumpul dalam formasi lengkap. And when I say “formasi lengkap”, itu bukan saja berarti kami berenam ngumpul semua… tapi… lengkap dengan pasangan… suami.. istri.. anak-anak..

..ya.
Termasuk istrinya.

That was the first time I met his wife. Perempuan yang tidak cantik, tapi saya tahu, dia sangat sangat baik dan ramah. I knew it then… dari caranya tersenyum, tertawa, bercanda, bertutur kata… Damn! Saya ngerasa sedih sekali karena dulu sempat ‘berselingkuh’ dengan kekasihnya meskipun saya nggak pernah tahu..

Eniwei,
Hubungan saya dengan si EX ini tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah dia sudah nggak bisa lagi mencium dan memeluk saya; we just keep on calling each other setiap saat ingin cerita. Kami tetap saling mengirim kabar lewat email. Ketemuan kalau sempat. Dan ya, SMS-an.

I never thought that a simple message from him could ruin the day.
I always thought that after four years, saya sudah bisa menghilangkan perasaan sakit hati saya.
Dan segala sms, email, atau telepon darinya adalah tanda bahwa saya sudah memaafkannya.

Tapi saya salah.
Karena ketika saya menerima SMS-nya pagi tadi,
saya tahu…. saya ingat… kalau saya pernah sakit hati karena dia…
dan luka itu, belum hilang.

Hm… tau apa isi SMSnya?
With gladly, he said… “Thanks God… our baby daughter is born this morning…”
…and several details, yang membuat saya merasa sangat, sangat bitchy dan baru bisa membalas sms-nya, malam ini.

“You must be very happy…”

…and I’m sorry, it will take a little more time to make me feel the same thing for you. Don’t wait, coz maybe, a lot more time…

there’s something about the mall

Semua bisa terjadi ketika saya nge-mal bareng sama GangGila.

Cekakak cekikik di coffee shop sampai modar… selalu!
Iseng mampir ke cosmetic booth cuman buat touch up karena lupa bawa alat-alat tempur a.k.a make up… sering!
Makan di resto dari sore ketemu malem… hidih, ini hobby kalee! :)
Buang hajat entah besar atau kecil… hampir selalu! (dan seringkali… sayah! hehe)
Photo-photoan sampai lupa sama umur dan menganggap orang lain itu cuman bayangan doang… ugh, yeah.. jangan tanya..

Ada beberapa hal lagi yang kayaknya akan segera bikin kamu ilfeel sama saya *apa udah? hehe*, cuman ada satu hal yang perlu kamu tahu tentang satu fakta penting about me. Iya. Saya. Lala. Kandidat terkuat di ajang Miss Universe 2009 (saya kan bilang terkuat, yang artinya paling kuat ngangkat air galonan.. hehehe).

Tau apa?
Hmm… saya ini seringkali beli baju yang nggak penting setiap nge-mal. Dan tahu kenapa? Karena saya sering nggak pede dengan baju yang saya pakai! (gebleg aje lo) Baju seperti apa yang saya beli? Jangan bayangin yang mahal, yah.. Karena seringkali baju yang saya beli itu.. cuman lima belas ribu-an! Hehe… kadang-kadang, itupun sudah pakai voucher belanja 10rb dan saya musti bayar cukup lima ribu sajah! Hebat kan?

Setelah bayar… pergi ke kamar mandi.. ganti baju… beres. Jalan lagi! Tebar pesona lagi! hehe

Dan kebiasaan gebleg saya itu kembali saya lakukan kemarin, pas jalan-jalan sama Yuan dan Linda di Tunjungan Plaza, Paris.. eh, Surabaya deng :)
Lihat aja photo di atas. Photo diambil di lokasi yang sama (kamar mandi, Matahari Dept Store lantai empat), pukul 1-an dan 7 malem. Bener-bener kurang kerjaan kan? (gpp.. yang penting seneng! hehe)

Jadi, jadi..
kamu sudah semakin ilfeel sama saya, kan?
Udah deh ngaku aja…
Tapi kamu juga harus ngaku, kalau saya tetep cakep kan biar makeup-nya udah luntur… hihihi.. maksa aaammmmaaatttt…

Udah ah.
mandi dulu! :)

exactly, like him

Last night,
when the rain poured down like hell.
when I was so cold, waited alone in front of a supermarket.
when I felt so lonely and afraid.

He came for rescue.
Just like a knight in white horse,
he saved me from a cold, frustrated, and frightened night.

I saw him.
With a light smile in his face,
with those tired eyes, but still… he laughed when I told him about my feeling.

Yeah.
He was there.
Just like days before… just like any days before that day.

I wish I’ll have a husband… someone exactly like him… The one who always does his best shot to make me comfortable and put me in one of his priorities. The one who will say, “Okay… ” maybe not in an instant, but he did always say that whenever I need him. The one who never said that he really cares but I know… he really does.

God, I love you..
I love you, Bro.
This naughty, spoiled, and childish girl… yeah, me, your sister.. just can’t help to admire you.. to love you.. to feel so much grateful… to have a brother like you…

I hope I’ll meet someone like you and let him marry me, no doubt :)
It’s not too much to ask, right?
Right?

(thanks for lastnite, yah.. God, aku nggak tahu musti gimana lagi kalau kamu nggak jemput aku yang lagi keujanan di pinggir jalan, without knowing what to do, dan menelepon taksi adalah tindakan paling konyol yang akan aku lakukan…)

My Addiction

Once,
I loved a song: Ordinary People, John Legend.
…then I played that song, over and over again. Berjam-jam. Menemani saya menulis sampai pagi. Menemani saya saat menunggu Bro menjemput setiap pulang kantor. Menemani saya saat minum kopi di pagi hari, sebelum jam kantor. I played that song….. over and over again.

Then I loved another song: The Blower’s Daughter, Damien Rice.
…i did my habit, again. Memutarnya dalam notebook, memutarnya di handphone… and yeah, asked my brother to play that song in his MP3 player, in his car. I did this.. over and over again… Seolah tidak pernah bosan. Seolah saya nggak punya cadangan lagu lain. Seolah menganaktirikan lagu-lagu lain yang akhirnya terbengkalai kedinginan ..cieh, kayak nelantarin anak tiri aja gua.. haha…

Then there was another song: Big Girls Don’t Cry, Fergie.
Masih sama. Masih mendengarkannya seolah candu. Masih menikmatinya seolah saya bakal mati kalau nggak mendengarkannya, sekali aja dalam sehari. Anytime anywhere, selagi sempat dan bisa, that song filled my brain…

Geez..

Saya memang perempuan aneh, yang mungkin bakal dicurigai memiliki kelainan karena terlampau kecanduan pada sesuatu. Sebuah lagu… sehelai pakaian… sepasang sepatu dan sandal… satu pilihan kopi di sebuah kedai kopi tertentu… one colored lipstick… satu film drama romantis Hollywood… sebuah blog baru (see?)…

and yeah.
Lelaki :)
Seorang lelaki yang saya begitu mencanduinya sehingga saya lupa…
kalau semua ini salah.

(Previous experiences has taught me not to fall for guy easily and let time works magically… satu hal lagi… don’t be the only one who love him… but be loved by him, too)

In the middle of confusion, kenapa saya selalu mencandu sesuatu dan bukannya biasa-biasa saja, I began to question myself:

Would it be worse, if you turn yourself into a great someone else? A girl who loves any different coffee… A girl who will easily change her style… A girl who thinks that this man she’s dating is another ordinary guy for her… A girl who listen to music without soul…

Hm..
Guess.
I would rather to be me.
And consider that my addiction…
is a blessing.

Yeah…
I am blessed to be a weirdo … it’s me! Myself :)

The One

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Barbra%20streisand%20&%20bryan%20Adams&title=I%20finally%20found%20someone&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1612_15002213.mp3&song_info=31+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Sore tadi Linda bilang, dia sudah menemukan “the love of her life”. Ya, ya, ya. Si Bajingan Kampret itu :( Dia bilang, apapun yang telah terjadi, sesakit apapun luka yang dia rasakan sekarang, tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa cuman si Bajingan Kampret itu yang berhasil memiliki dia… body and soul, completely! Hah!

Lepas dari kebencian saya dengan cowok yang gebleg surebleg itu, saya tak bisa untuk tidak terkagum-kagum sama Linda.
Bukan karena kerelaannya untuk sakit hati yang memungkinkan dia untuk menangis bombai again and again, tapi karena dia telah berhasil mendefinisikan seseorang sebagai The Love of Her Life; dan itu kan bukan hal yang gampang!

Bayangkan saja.
Cinta dalam hidupnya.
Ketika kita sudah memberikan gelar itu kepada seseorang lalu kemudian suatu saat nanti kita putus dan punya pacar baru… then what is he? The Love of My Life, the sequel? Kemudian putus lagi… apa jadinya? The Trilogy? Kalau sampai punya pacar sebanyak saya, gimana? *hidih, punya mantan banyak kok sombong sih, La… itu kan artinya lo gebleg aja pacaran bolak balik tapi ga pernah berhasil nyeret mereka sampai ke depan penghulu! hehe*

Dan saya pun bilang sama sahabat saya.

“Gua pernah kayak elo kan, Bu… yang dikit-dikit bilang, he’s the one.. he’s the one… sampai akhirnya gua sadar kalau cinta itu bukan kata yang sembarangan. Bahkan, menurut gua, kata cinta itu bakal kehilangan maknanya kalau diucapkan tanpa hati dan perasaan.. yang diucapkan sambil lalu ketika buru-buru menyudahi telepon… the magic will be lost.”

“He eh.”

“Dan ini bikin gua sekarang mikir-mikir panjang dulu sebelum memvonis seseorang sebagai the love of my life…”

“He eh.. I know.”

“I’d rather think that he’s a great guy, instead of The One.”

“Hm… iyah..”

“Lo tahu, lo ha-ah he-eh dari tadi… tapi benernya, lo ngerti maksud gua, kan?”

“Lo mempertanyakan soal kenapa gua bilang Bapak Satu Itu as The One, kan? The Love of My Life, kan? Lo kuatir gua sembarangan bilang gitu, kan? Lo kuatir karena lo tau banget, gue ini orang yang trauma sekali sama komitmen, kan?”

“Gua cuman khawatir elo terlalu membebani diri lo sendiri dengan label itu, Say.”

“So?”

“Apa lo nggak gegabah untuk bilang kalau dia itu Your One?”

Linda tersenyum. “Hey, gue pernah bilang kan, soal ada sesuatu yang sifatnya nggak bisa diterjemahkan dengan apapun kecuali dirasain sama hati?”

…yeah, been there.
and still doing it! :)

Saya mengangguk. Pasrah aja. Pasti kalah deh, argumentasi saya.. :)

“He completed me, La. With anything that he did to me… he just completed me.”

Saya terdiam.

“Dan ketika gue sadar kalau dengan sama dia gue merasa komplit… di situlah gue tahu… laki-laki itu… is the love of my life. Dan nggak butuh kata-kata untuk menjelaskan ke banyak orang kenapa gue menganggapnya begitu, kan?”

Detik itu juga, saya seolah tahu bagaimana rasanya menjadi orang bisu.
Saya..
speechless.

*Sambil pikiran saya terbang kemana-mana… membayangkan… siapa yang bakal berduet dengan saya, menyanyikan lagu Finally Found Someone, di hari pernikahan kami berdua… di sebuah pesta kebun… my picture perfect of wedding party….*

SokRomantis Mode : ON
And ON
and ON
and yeah…
STILL ON….. :)


Catatan Harian

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers