Sebuah Cerita Hujan

always_raining_in_my_heart_by_chix0rSurabaya hujan.

Saya melihat tumpahan air hujan itu dari balik jendela, di tempat saya duduk   untuk bekerja (okay, okay, untuk blogging, chatting, dan maen games… Nggak boleh ya, biar Perusahaan nggak keliatan sia-sia harus menggaji saya setiap hari? hihihi). Posisi meja kerja saya memang cukup strategis untuk melihat tumpahan air hujan itu; ruangan di sebelah jendela dan lantai tiga. Saya tidak hanya sekedar bisa melihat peristiwa alam yang sungguh saya cintai itu, tapi saya juga bisa menikmati bunyi angin yang bergelung-gelung ramai dan cukup membuat kuduk berdiri. Suara anginnya begitu bising dan menciptakan efek dramatis, lalu dengan segera membuat saya berhalusinasi tentang film-film horor.

Dan ya.. emang saya ini adalah orang dengan kadar ke-hiperbolis-an (emang ada? hehe) yang cukup tinggi… Tapi saya nggak pernah hiperbolis dengan kecantikan saya ini… (yang ini bukan hiperbolis yang cukup tinggi, tapi kadar narsisnya yang sangat akut dan faktor males ngaku kalau sebenarnya jelek! hehe)

Hujan selalu sanggup membawa kenangan-kenangan masa lalu untuk menghinggapi lagi pikiran saya. Tentang peristiwa kebanjiran yang membuat motor saya mogok di pinggir jalan dan membuat saya menjadi tontonan karena jarang-jarang ada perempuan cantik nongkrong sambil berbasah-basahan (tolong jangan menganggap salah baca karena memang saya menulis kata PEREMPUAN CANTIK barusan.. hehe). Tentang berbagi jas hujan dengan Tat, karena saking kompaknya dan menjunjung tinggi persahabatan, kami harus membagi dua setelan jas hujan milik si Tat; dia kebagian celananya, saya kebagian jaketnya (dan pastinya, kami sama-sama tetap basah!). Juga tentang banjir yang masuk ke dalam kantor karena hujan yang turun sangat, sangat deras semalaman, sehingga saya dan teman-teman yang lain harus menggulung celana panjang dan melepas sepatu saat melewati lantai satu… ^_^

Banyak cerita-cerita lucu yang terjadi ketika hujan dan membuat saya terkikik geli setiap mengingatnya. Tapi ada satu cerita di musim penghujan yang sungguh-sungguh tidak mudah terlupakan sampai sekarang, yang selalu bisa membuat saya ketawa ngakak dan kepingin pipis (apalagi kalau pas mengingatnya, saya memang sedang kebelet pipis! hihi).

Sebuah cerita di musim penghujan, hampir dua tahun kemarin…
Sebuah cerita tentang GangGila, Musim Hujan, dan Hotel Berhantu…

***

Semua berawal dari kebiasaan GangGila yang selalu enggan pulang kalau sedang asyik bercanda dan ngobrol-ngobrol nggak penting. Dan biasanya, yang paling ndableg karena nggak mau pulang itu adalah saya, Yun, dan Lin. Tiga perempuan yang masih single dan nggak jelas kapan segera mengakhiri masa lajang ini memang paling bisa untuk mencari-cari alasan untuk tidak segera pulang. Kalau Tat sudah pulang duluan karena si kecil Hector-nya sudah menanti di rumah dan Els memang selalu dicari orang tuanya karena kemana-mana dia bawa sendok makan (soalnya kalau sendok itu nggak ada, orang rumahnya bingung mau makan pake apa! hehe), saya, Yun, dan Lin malah makin seru bercerita. Apalagi di luar sana hujan turun sangat deras. Jadi, daripada kedinginan, mendingan kami tunggu saja sampai agak reda…

Nah, awal dari disaster ini adalah ketika ponsel Yun berdering. Kenapa saya sebut awal dari disaster? Karena setelah beberapa detik bercakap-cakap di telepon, Yun langsung berkata, “Eh, aku nggak boleh pulang nih, sama Mama-ku. Gimana nih?” Ternyata kamar si Yun sudah banjir, jir, jir karena bocornya genting yang nggak mau kompromi (kenapa coba, milih bocor saat musim hujan??? Kenapa nggak pas musim kemarau aja, sih??? hehe).

“Nginep rumahku ajjjaahh…” Sambil mikir-mikir, baju-baju yang bertebaran di atas kasur dan di seluruh penjuru lantai kamar itu sudah diberesin sama si Tumini belum ya…

“Aduh, jauh La…” *idih, kenapa masih milih-milih juga sih, ini anak…*

“Di rumah Lin aja deh…” Rumah Lin memang yang paling dekat dengan lokasi kami kumpul-kumpul malam ini.

Tapi, si Bungsu di GangGila itu (biar bungsu, tapi memang dia-lah yang paling sehat di antara kami berenam.. hehe) segera bilang, “Eh, nggak bisa.. nggak bisa.. Rumahku udah penuh.. Sodara-sodara pada kumpul semua di rumah malem ini.. Besok pagi kan ada undangan kawinan sodara…”

Lalu setelah itu, saya menyebutkan beberapa alternatif menginap, salah satunya adalah tunggu saja di MCD 24 jam sampai besok pagi! Hehe… Dan alhamdulillah, usulan ini ditolak oleh sahabat-sahabat saya sembari menuduh saya sudah berhalusinasi…

“Di hotel aja, gimana?” Dan saya menyebutkan nama-nama hotel terdekat.

“Aduh, hotel itu kan mahal La… Yang ecek-ecek aja, deh…”

“Ogah kalau yang model short time gitu ah, Yun!” Ntar ketauan kalau saya sering kesana… wekekekeke! Boong! Sumpah! :)

Dan saat itulah, Yun menyebutkan sebuah hotel yang terletak di dekat rumah Lin, di depan sebuah pasar, yang katanya, “Murah, La.. Kan kita nggak butuh yang mewah-mewah… Asal bisa tidur enak aja…”

Asal bisa tidur enak…
Murah…
dan memang, hanya cukup semalam saja.

Hm,
Sepertinya sih, ini adalah pilihan yang masuk akal.

Ah… tapi seandainya saja saya tahu… Kalau Hotel itu tidak hanya murah… bisa untuk tidur enak… dan dekat dengan rumah Lin… Karena ternyata… Hotel itu juga sangat, sangat ramah dalam memberikan banyak ‘bonus ‘khusus…

***

grave2aPukul setengah dua belas malam saya sampai di hotel yang dimaksud. Sumpah, meskipun sudah 27 tahun tinggal di Surabaya, belum pernah sekalipun saya mengetahui keberadaan hotel ini. Mungkin karena letaknya yang nyempil di dalam gang, sehingga meskipun sudah berkali-kali lewat di jalan ini, saya nggak pernah ngeh kalau di daerah situ ada sebuah hotel.

Di depan gang, saya sudah disambut dengan dua patung berwujud Macan gedhe dari bebatuan. Hih! Taring-taringnya itu lho… Saya makin deg-degan saja. Apalagi hujan masih turun cukup deras dengan kilat yang menyambar-nyambar, sehingga suasana semakin mencekam.

Sampai di hotel saya langsung terheran-heran. Kenapa seperti nggak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, ya? Lampu-lampunya jarang sekali ada yang menyala… Malah ruang lobby-nya pun sunyi… Saya semakin merinding dangdut ketika masuk ke dalam lobby yang seperti rumah peninggalan Belanda dan sisi-sisi dinding yang dipenuhi kaca-kaca segedhe Bagong. Belum lagi interior ruangan yang penuh dengan furniture antik (kayu-kayu gitu, deh) dengan warna yang kusam! Huaaa…

Makin mencekam lagi ketika saya hendak memesan kamar di seorang Mas-Mas yang keliatan asyik sendiri memunggungi saya dan Yun. Yang terbayang di dalam benak saya adalah wajah rata si Mas-Mas saat menoleh dan lelehan darah di mulutnya! Dan untunglah…. wajahnya tidak rata… Meskipun wajahnya tidak ganteng-ganteng amat… (ih, Lala… mendingan jelek daripada setan, kann?!!) :D

Saya dan Yun diinterogasi kayak maling. Ini karena Hotel yang sepertinya Berhantu itu jarang sekali menerima tamu dari Surabaya dan ogah menerima tamu untuk ‘tujuan yang tidak jelas’. Saya dimintai KTP, diamati raut wajahnya satu persatu, lalu setelah yakin bahwa kami benar-benar manusia, baru deh kami mendapatkan ijin untuk menginap di sana.

Oh-oh.

Jangan bayangkan sebuah kamar yang normal ya? Karena ketika sampai di sana, saya harus merinding dangdut sekali lagi karena kamarnya sangat jauh dari bayangan. Pertama, faktor sprei yang kusam. Kedua, lantai kamar mandinya kotor dengan ubin yang pecah-pecah. Ketiga, jendela kamar yang bermodel kaca tumpuk (apa sih, istilahnya??) dan tidak bisa ditutup sempurna sehingga mengakibatkan kain kelambu-nya bergerak-gerak sendiri tertiup angin dari luar…

Hih…. mendingan juga nginep di Shangri-La deh Yun… (Orang Bego aja tau, La! haha)

Karena menginap tanpa rencana, saya dan Yun memaksa Lin untuk membawakan kami seperangkat alat sholat.. eh, maksudnya, membawakan baju ganti untuk tidur saja. Jadi tepat pukul dua belas kurang sedikit, Lin sudah datang dengan pakaian ganti dan minuman-minuman kaleng. Kami sempat nyeletuk, “Eh, Lin, emang lu yakin supir becak yang lu tumpangi tadi manusia beneran?” Dan ketika Lin bilang, “Iya, lah.. Masa Setan..” Saya pun dengan polosnya (haha! polos, La???) bilang, “Bukan.. bukan setan.. Gua malah nyangkain dia itu Superman, soalnya kok kuat banget narik becaknya sampai ke sini…” Lalu Sahabat saya itu pun ngomel-ngomel nggak jelas :D

Ketika Lin pulang, suasana semakin horor. Mungkin karena bos Setan-nya sudah pulang jadi anak buahnya pada keliaran semuanya… hahaha… maaf, Bu… I love you, dah! :)

Saya dan Yun memutuskan untuk tidur saja ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih. Hujan masih turun sedikit, tapi suasana masih mencekam. Saya dan Yun segera berebut untuk tidur di sisi yang jauh dari jendela. Ntar kalau gua digrepe-grepe sama Setan gimana dong…. Dan adegan perebutan itu dimenangkan oleh Lala karena faktor ukuran tubuh yang jauh lebih perkasa…

Kehororan tidak berhenti sampai di situ. Saya mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi, padahal seingat saya, tadi keran sudah tertutup dengan sempurna. “Periksain, Yun… Liatin dong tolong…” Si Yun memilih untuk budek dan menarik selimut. Dasar gebleg! :)

Yun yang biasa tidur dengan lampu redup (bahkan mati sama sekali), segera mematikan lampu dan membuat saya berteriak histeris. Plis deh… sudah horor begini masih pake acara matiin lampu segala???

Semakin horor ketika dalam suasana yang gelap itu, angin terus menderu dari balik jendela dan memainkan kain kelambu dengan nakalnya… ah mistis banget pokoknya… Saya pun memejamkan mata dan memaksa tidur. Mendingan merem deh, daripada ngeliat setan…

Dan ketika suasana semakin tegang… Tiba-tiba terdengar sebuah bunyi yang cukup dahsyat dan membuat saya segera terbangun…

Paniklah saya. Apalagi dibarengi dengan bau-bauan yang cukup busuk… Jangan-jangan bau setan ini kayak begini nih…
Dan ternyata… “Sorry, La.. ndak kuat nahannya…

Hahaha… Malam yang sangat spooky itu diakhiri dengan ketawa panjang dan pukul-pukulan bantal karena si Yun nekat kentut di dalam selimut… :)

***

Sejak saat itu, setiap musim penghujan datang, saya selalu teringat dengan cerita ini. Tentang pengalaman menginap di sebuah hotel yang sepertinya berhantu, yang keesokan harinya ketika matahari bersinar dengan cantiknya, saya melihat kumpulan cowok-cowok manis kamar sebelah yang lalu lalang di depan kamar…hehe…

It was really something to remember.

Meskipun meninggalkan penyesalan juga…
kenapa oh kenapa waktu itu nggak tukeran nomer henpon ya… ^_^

38 Responses to “Sebuah Cerita Hujan”

  1. natazya Says:

    hauahuhauhauah takut cowo cowonya jejaden juga bu??? ;)

    eh hari ini mentang mentang musim ujan kali yah… kayanya makin banyak yang posting tentang ujan!!!

    skarang sih selain suasana romantis gila yang dibawanya, gw akan selalu teringat pada selokan tiap ujan!!! :lol:

  2. yessymuchtar Says:

    wakakakkakakakak..dasarrrrrrrrrr..

    eniwei..la…lucu ajaa

    tuh hotel spoky yaa..gue jadi inget film tusuk jalangkung wakakka

    hotelnya juga serem gitu keke

    jadi penasaran…

    semalam berapa si la??

  3. oRiDo™ Says:

    jadi *ketakutan akan* hantu nya terusir oleh kentut yah mba?
    :D

  4. nkusuma6210 Says:

    Duh, kerjanya enyak banget…..
    Hujan…kadang enak, kadang nyusahin,
    kadang bikin adem, kadang bikin emosi,

    Yes, can’t waiting for the birth at 14th

  5. michaelsiregar Says:

    Trus….Mimpi yang serem ngak…?? mimpi saya maksudnya….he..he..he….
    BTW saya ada titipan Award dari Wi3nd…diambil yah…..

  6. nh18 Says:

    Hah …
    Just one sentence …
    “LALA IS BACK …!!!”

    Gini dong La …
    (manggutmanggut.com)

    Baca lagi aaahhh … tadi belum selesai bacanya soale …:)
    Lho belum selesai baca kok udah komen ???
    Biarin … suka-suka gua kan ??

  7. okta sihotang Says:

    jeng..loe cantik bngt yaks ??
    *kayak sapu..hu..hu..hu

  8. tanti Says:

    Hahaha seru La… waktu baca cerita masuk ke spooky hotelnya aku jadi kebayang kisah Scooby Doo & The Mystery Inc-nya… hahaha…

  9. Oemar Bakrie Says:

    Saya malah sering ketinggalan momen hujan, karena di dalam ruangan tertutup kadang tidak kedengaran, keasyikan kerja dll. Saat pulang baru sadar kalau barusan hujan. Mungkin sudah saatnya saya menikmati kembali momen hujan ini, sekali-sekali …

  10. retie Says:

    ha ha ha ha :)
    Asyik (sambil loncat2 seneng) akhirna aunty kembali. Kembali cerita yang bikin ketawa…..
    Kalau bilang ujan sich… seneng cuma kalo ujannya deres aku tersiksa… :( tanganku yang bekas patah jadi ngilu banget kadang sampe ga kuat untuk apa2 :(
    Wah hotel di gangnya pasar??? Pasar mana nich aunty?? :)
    Ternyata kentut bisa membuat setan takut ya ha ha ha ha :)

  11. 1nd1r4 Says:

    hahahaha…..kentut dalam selimut benar2 membunuh la, secara anginnya muter2 ga ketemu jalan keluar. Untung ga pingsan yah…. :D

  12. deny Says:

    hahhha, bner ” sahabat yay.. lucu mbagi jas hujannya,. apalagi hotelnya, jadi pingin nyobain hehehe

  13. Donny Verdian Says:

    Aku juga pecinta hujan.
    Tapi aku belum merasakan romantisnya hujan di tanah ini.
    Aku sangat rindu hujan di Indonesia…

  14. a3u5z1i Says:

    Saya pecinta hujan yang hidup di kota hujan :D
    Jadi saya ga pernah bawa payung kalau pergi ke mana-mana..
    Hujan ga hujan, tetap jalan :D

  15. qzplx Says:

    Yap, pengalaman khusus tuh, jadi pengalaman unik kalau kita mau sdikit menurunkan lifestyle nya… otomatis pengalaman juga banyak, waktu di singapur juga, aku pernah nginep di hotel yang ga ada orang nya sama sekali… hotel buluk, bau india, ga ada jendela ga ada kaca, cuman kotak segi empat aja ama rampu redup……… tapi aku menikmatinya :D

  16. yessymuchtar Says:

    @okta

    maksudloo..cantik kayak sapu?!?!

  17. tren di bandung Says:

    sore itu hujan deras banget turun seperti gajah menimpa genteng rumah. ditengah suara hujan yang sedemikian dahsyat itu ternyata masih ada suara yang lebih keras lagi…

    guedhubruakhh…!!!#@$
    “waduh, apa tuh…???”
    dari luar kedenger orang nyaut…
    “maaf pak, ada baju jatuh”
    “koq kenceng banget suaranya”
    “iya pak, didalem bajunya ada saya”

  18. nh18 Says:

    “Farting beneath the blanket …”

    Huahahaha …
    Kalo ada guling disitu … aku yakin gulingnya berubah menjadi hijau … jamuran …

    Kalo ada singkong disitu … yakin besok paginya akan jadi Tape bermutu tinggi …

  19. gbaiquni Says:

    seru…!

    ada yah hotel seperti itu…?

    saya sih mikir dua kali untuk check in disitu… :???:

    [senyum] :)

  20. welly Says:

    musim hujan, adalah musim yang paling saya nantikan…. salam kenal aja..

  21. bluethunderheart Says:

    wakakakakkkkk kali ini baru aku tersenyum membacanya.duh,emang bukan temanya jeunglala jika tidak bikin suasana jadi ceriah.
    salam hangat selalu

  22. Resti Says:

    Hhhh… Hujan memang selalu indah, Mba :)

  23. *hari Says:

    udah terlanjur takut tau.. :mrgreen:

  24. yakhanu Says:

    bila hujan basahi aku..
    temani sepi yang mengendap..
    kah..aku mengenagmu…
    dan semua ..saat manis itu…

    aku… selalu bahagia…
    saat hujan turun..
    karna aku dapat mengenang mu
    untuku sendiri..

    aku bisa tersenyum..
    sepanjang hari…
    karna hujan tlah ..menahan mu disini ..
    untuku..

  25. Pakde Says:

    Spooky Night? Di depan gang, saya sudah disambut dengan dua patung berwujud Macan gedhe dari bebatuan. Hih! Taring-taringnya itu lho… Saya makin deg-degan saja….bola mata terus menatap patung, meyakinkan…apakah patungnya bergerak atau tidak, Gardeng yang terkibas angin dibarengi sambaran kilat dan suara petir yang menggelegar itu ternyata membuat kedua patung itu terbangun. Pelan tapi pasti, pertama yang bergerak ekornya yang terjuntai di ikuti lehernya yang tiba2 berpaling arah menatap jenglala…Lala terdiam kaku, sementara kedua patung semakin mendekat, tiba2 ketika macan itu siap menerkam dengan ganas. Lala makin kaku, dan tiba2 tanah yang dipijak berubah jadi lumpur, lala terjerembab masuk dalam kubangan lumpur, Hujan makin deras kecoa ganas bermunculan. Kelabang…dan semua yang berujud nampak menakutkan.
    Dalam lumpur ada tangan menarik kaki lala….dan perkelahianpun terjadi. lala terbangun Rupanya lala sedang bermimpi.

    Mudah2an phobianya tak berulang ya…la

  26. Ikkyu_san Says:

    La, kalo kamu dan gang gila ke Tokyo …
    jangan masuk hotel dekat stasiun yang ada tulisan gini
    “Istirahat 5000 yen/jam …. overnight 8000 yen” (wakaru yo ne)
    (biasanya hotel semalam dekat stasiun 15.000 an)
    apalagi cewe semua… ntar dipikir hentai deh hihihi.

    but kalo kamu sendiri mungkin lebih baik nginep di hotel kapsul deh
    semalam cuman 3000 yen tuh. Tapi….serasa tidur dalam peti mati, karena memang seperti masuk kapsul sih…. (ati-ati kejeduk tapi)

    so… you’ll leave for Jakarta tomorrow ya sis.
    take care….
    (sebel knp gue harus di negara yang dingin gini ya di saat sebetulnya aku bisa menikmati jakarta….)

    EM

  27. Hilman Says:

    La masa ada yang ngatain loe cantik kaya sapu..??? hahahahahaha…, kasian juga tuh sapu di samain sama loe… :D

  28. Didta Says:

    Salam kenal m(_ _)m

  29. goenoeng Says:

    tak kira cerita horor…tiwasan aku tegang…lha aku juga baru dihotel ni…
    eh, di jakarta besok nggak nyari hotel spooky kan La ?
    kapan berangkatnya ? :)

  30. yulism Says:

    Selama ini hanya dengar cerita tentang musuh dalam selimut. Tapi cerita Jeung Lala tentang Kentut dalam selimut lucu banget deh.. :P Surabaya masih suka banjir ya Jeung kalau hujan. Jadi ingat waktu musti pulang kerja dan Jl. Kartini Banjir selutut, berharap ada tukang gethek.. :P thanks

  31. tutinonka Says:

    Hujan gerimis mencipta suasana romantis
    Hujan deras membawa cemas karena rumah tempias
    Hujan lebat membuat was-was banjir bakal menerabas
    Hujan badai membuat pohon, rumah dan manusia tiarap
    Hujan uang … ? Nggak mungkin lah yauw!

  32. kajiankomunikasi Says:

    Kalau saya inginnya hujan dijadwal mulai 22.00 hingga 05.00. Jadi, enak tidur ngrungkel… :mrgreen:

  33. indah rephi Says:

    jadi inget lagunya november rain ehehe..
    aku suka hujaan..
    suka banget,,,
    walo hujan sering bikin masalah.. ya banjir…ya longsor…dimana2 jadi basah dan becek..
    hujan ngingetin aku sm kampung halaman…selain itu juga, yg paling kusuka dari hujan adalah.. ada pelangiii!!..walo di jakarta pelangi ga pernah keliatan :(

    sepertinya commentku ini ga nyambung sm postingannya mbak lala :D

  34. agustusnugroho Says:

    Hujan selalu memberi inspirasi ya La… Sering kali juga memberi kebahagiaan… Apalagi kalo hujan duit*…. Xixixi :)

    *Maksa Mode On.

  35. lee2 Says:

    dan burisa pun ngomen-in aku yang ‘ngguyu kok dipek dewe’
    hehe
    miss u girls…

  36. deedee Says:

    misi misi, mampir nih…
    dengan harapan mampir juga ya jeung, ketempat ku

    salam kenal
    http://deedeeprasatya.wordpress.com

  37. lathifulamri Says:

    anda cocok jadi penulis novel…

    mantap deh..

    salam kenal ya

  38. nadin Says:

    hi….kikikkk….
    yang satu ituh emang paling susah ditahan ya jeung!hi….
    btw, maaf ya ga bisa datang ke launchingnya!hikss…ngiri deh liat foto2nya di blognya yessi!hiiiiksssss…

    hehehehe…
    itu udah panggilan alam… :)
    kapan2 harus dateng yah… kan dirimu yang minta kopdaran tho.. :)


Leave a Reply