(posting yang sangat panjang! hati-hati! hehe)
It’s been almost two weeks and I’ve been a Ghost, an empty spirit.
Berkelana menjalani hari demi hari dengan perasaan yang sungguh tidak bisa terdefinisikan dengan kata-kata, dan terwujudkan dalam sebuah rasa sulit tidur, susah menelan makanan, memandang segala sesuatu dengan hampa, dan hampir tidak berdaya untuk melakukan apa-apa.
Seandainya saya bisa tinggal di rumah saja tapi tetap mendapatkan gaji bulanan dari kantor, mungkin sudah dari dua minggu yang kemarin (atau sudah bertahun-tahun yang lalu! hehe) saya akan memilih untuk tidak kemana-mana. Saya lebih memilih untuk bercumbu dengan laptop saya, di atas ranjang, di dalam kamar, dengan televisi yang menampilkan episod-episod serial Friends atau Sex and The City, dua serial Hollywood yang selalu bisa membuat saya jauh lebih tenang. Oh ya, ditambah dengan bercangkir-cangkir kopi, pasti.
Tapi tidak.
I still had to go to the office. Meskipun pekerjaan seharian saya tidak terlalu berat, tapi bukan berarti saya boleh enak-enakan tidur di rumah dan tetap mendapatkan gaji, kan? Emang kantor mbahmu, La! hehehe…
Dunia saya boleh sedang runtuh sekarang…
Langit boleh saja jatuh menimpa atap rumah saya…
Tapi saya harus tetap melakukan apa yang sudah semestinya saya kerjakan. I don’t have that kind of privilege, jadi mau tidak mau, saya harus tetap datang ke kantor sebelum pukul setengah sembilan dan baru boleh pulang setelah pukul lima. The hell with your problems. You work here. And I pay you. It’s not a charity. It’s a salary.
OK.
Saya memang harus kerja. Saya memang harus mengerjakan laporan absensi. Saya masih harus menyelesaikan pembayaran upah lembur teman-teman saya. Oh ya, masih harus mengurusi kontraktor yang hendak merenovasi lantai satu…. Many things to do, sementara seluruh isi kepala saya penuh dengan banyak pikiran dan membuat saya kehilangan seluruh rasa optimis untuk melangkahkan kaki.
It’s been two stressful weeks!
I was totally screwed.
I was totally messed up.
And for once in my life, I felt that I was nothing to anybody…
Dan ketika saya menangis saat bercerita dengan seorang teman, di ujung telepon satunya dia bilang, “La, go out side, talk to somebody, syukur-syukur kalau kamu nggak kenal sama orang itu.”
Saya bingung. “Buat apa? Talk to somebody? Emang apa hubungannya?”
“Udah… Coba aja. Kamu bakal tahu, kok.”
His voice has calmed me down. Meskipun tetap saja, saya masih belum mengerti kenapa harus go out side and talk to somebody (nggak kenal pula!) akan mengembalikan senyum itu ke raut wajah saya. Tapi saya percaya… his words… always work like a charm… So, I thought it wouldn’t hurt to try…
Dan, ya…
Setelah semalaman tadi saya menangis cukup lama di depan layar laptop yang menyala bisu…
Setelah semalaman tadi saya sulit tidur…
Hari ini, saya putuskan untuk melakukannya.
Go out side.
Talk to somebody.
Tapi apa yang terjadi setelah saya melakukannya?
Hmmm…
Ternyata…
Saya malah menangis.
***
Kamu pernah merasa seperti ini, nggak?
You always think that you know somebody…
And turns out, you know nothing about that somebody.
Well…
Sore tadi, saya memutuskan untuk membuat janji ketemuan dengan sahabat. Sedang butuh energi, sedang butuh untuk didengarkan, sedang butuh tertawa terbahak-bahak…
Tapi ternyata, justru ketika saya selesai bercerita, dia malah akhirnya bercerita banyak tentang dirinya. Banyak cerita yang kemudian membuat saya merasa sangat berdosa…
Ya.
Sore tadi, saya merasa sangat bersalah kepada seorang sahabat baik dan mengaku dosa padanya, setelah dia usai menuturkan seluruh kisah hidupnya.
“I am so sorry, ya, Yun…” kata saya sambil memegang bahunya. Saat itu kami duduk di depan sebuah kedai teh.
“Minta maaf kenapa?” si Yun memandang saya dengan pandangan tidak mengerti.
“Karena ternyata… aku nggak kenal kamu sama sekali…”
It’s been ten years… Dan saya baru melihat seorang Yun dalam kaca mata yang sangat, sangat berbeda. She wasn’t all tough like I’ve suspected before. I just knew… that she had her nightmares… She had her lonely nights… She had her scary nights and spent them with tears… She had her fears… Her doubts… Her own f**king problems…
(Ah, Lala! Kamu kemana aja, sihhhh!!!)
“La, nggak usah minta maaf. Mungkin, ini memang waktu yang paling tepat untuk tahu banyak tentang aku. Tepat ketika kamu sedang menghadapi banyak masalah, kamu jadi tahu kalau ternyata, aku sedang menghadapi badai yang sama…”
Saya mengangguk. Could be…
“Aku nggak percaya kebetulan, La. Semuanya terjadi karena memang sudah seharusnya terjadi.”
“Iya… aku tahu. Everything is meant to be happened. Dengan alasan-alasan yang baru kita ketahui kemudian… Yeah, I know…“
“Sebetulnya kamu sudah tahu kok, La… Sama seperti saat aku down, aku sudah tahu bahwa percuma aja mikirin sampai stress segala kalau stress tidak akan mengubah apa-apa. Aku sudah tahu, tapi masih sangat perlu untuk diingatkan… Iya, kan, La?”
“Hm… actually, aku malah sudah nulis banyak tentang ini, Yun, di blog..”
“See? Kamu tuh sudah tahu, La… Kamu cuman perlu untuk diingatkan lagi. Dan seperti yang aku bilang tadi, tidak ada yang disebut dengan kebetulan, karena semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Kamu tahu kan kalau aku hampir aja nggak bisa berangkat ketemuan sama kamu? Tapi apa? Aku tetap berangkat meskipun harus meninggalkan keponakan yang menangis… Dan aku baru tahu kenapa aku memaksa untuk berangkat. Karena aku harus ada di sini, sama kamu, dan mengingatkan kamu. Sekaligus untuk ketemu kamu dan mengingatkan aku bahwa setiap orang memiliki badainya masing-masing.“
Saya tersenyum. “Dan setiap badai itu tidak datang untuk menghancurkan, tapi justru untuk menguatkan kita…”
“Seperti imunisasi, La.”
“Hah? Apa?”
“Imunisasi. Kamu tahu, kan, kalau kita sakit hepatitis, misalnya, yang disuntikkan ke dalam tubuh kita itu sebetulnya virus hepatitis juga?”
“Hmmm… kayaknya sih gitu… *hehe, begonya nggak ketulungan deh, La!*”
“Sama seperti badai yang datang… Sama seperti masalah-masalah yang datang. Mereka ada di dalam hidup kita, justru untuk menguatkan kita, bukan untuk membuat kita menderita…”
See? I thought I knew somebody… and infact, I didn’t know her… at all! Since when she could say these beautiful thoughts? Since when she got all these inspiring stories? Since when she could be so very optimistic?
Yun memandang saya dengan matanya yang berbinar sangat cantik, meskipun ketika dia cerita panjang lebar tentang kisah hidupnya dan ketakutan-ketakutannya, serta masalah-masalah yang menghimpit hatinya, kedua mata itu tersaput dengan air mata yang membayang.
“La… segala kesedihan yang kita alami sekarang ini pasti akan berguna suatu saat nanti. Mungkin bukan untuk kita sendiri… tapi bisa jadi, kesedihan ini… someday… akan membantu kita ketika ingin menguatkan orang lain yang kita sayangi…”
***
Masih di sore yang sama, di tempat yang sama, dan duduk dengan posisi kaki yang sama… I saw my high school’s friends. Ties dan Rumi. Ini adalah sebuah kesempatan yang sangat jarang terjadi. Saya memang seringkali bertemu dengan Ties, tapi kalau Rumi? Ah, seingat saya, terakhir bertemu dengan Rumi adalah hampir enam tahun yang lalu… Sudah sangat, sangat lama.
A little chat about this and that…
Ketawa mengenang masa lalu…
Dan membuat janji untuk bertemu lagi kapan-kapan, dengan waktu yang lebih longgar supaya bisa ngobrol dengan enak.
Ketika dia pamit pulang, entah kenapa, mulut saya tiba-tiba berkata, “Are you OK, Mi?” Dan percayalah, saya bukan paranormal. Saya bukan dukun, apalagi dukun beranak atau cabul (hehe). Saya hanya spontan bertanya sama dia, out of the blue.
Dan kamu tahu?
Hanya selang beberapa detik setelah saya ‘accidentaly’ bertanya sama dia, Rumi langsung memeluk saya dan menangis. “No, I am not OK…” isaknya. Dia masih menangis di bahu saya.
Saya hanya mengelus punggungnya, tanpa banyak bicara. “I understand…“
“Aku masih inget dia, La… Aku masih sedih…” Her alcoholic boyfriend… yang meninggal di atas ranjang sebuah rumah sakit, tiga bulan yang lalu.
“Iya, Mi…”
Setelah itu saya bilang sama Rumi, bahwa saya mengerti perasaannya. Mengerti sekali kenapa air mata itu bisa dengan mudah tertumpah hanya dengan mengingat garis wajah sangat Kekasih. Sangat mengerti kenapa hatinya masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Kekasihnya itu telah meninggalkan dia. Karena, i’ve been in her shoes. Tidak kehilangan seorang Kekasih dengan cara seperti ini, tapi kehilangan seorang tercinta yang membuat saya tak bisa berhenti menangis dalam beberapa bulan pertama..
Tapi ternyata…
Saya bisa melewatinya juga, masa-masa terberat ketika saya harus kehilangan seorang Ibu ketika usia saya masih dua puluh dua tahun dan sedang mengerjakan ujian akhir. Sebentar lagi saya segera wisuda dan saya ingin Mami ada di sana, duduk di deretan bangku orang tua yang bangga karena anak bungsunya akhirnya sudah menyelesaikan kuliahnya, tapi Mami memilih untuk pergi dan melihat hari wisuda saya di suatu tempat yang indah, somewhere out there.
Kalau saya bisa melewati ini semua… saya yakin, Rumi juga pasti bisa. At least, dia tahu, bahwa segala tangisan tiap malamnya, suatu saat kelak, akan berhenti juga. Not because she forgets him… But it’s all because she already moves on.
Dan ketika Rumi melambaikan tangannya dan berlalu bersama Ties dari hadapan saya…
I smiled.
Sama seperti yang Yun lakukan ketika saya menoleh dan melihat senyum itu di wajahnya…
***
There’s no such thing called coincident.
Everything is meant to be happened.
Kesedihan saya ketika saya kehilangan Mami…
perjuangan yang tidak mudah ketika saya harus meghadapi hari-hari tanpa omelan Mami, tanpa harum masakan Mami, tanpa teriakan Mami yang selalu minta pijit setiap malam…
Telah membuat saya bisa sedikit menenangkan hati Rumi dan membuatnya berhenti menangis… I spent the first whole year… nangis.. kangen… marah.. sedih… kecewa… Tapi yang dilihat Rumi sore tadi adalah seorang Lala yang tersenyum. At least, dia punya banyak harapan, bahwa kelak, dia bisa tersenyum seperti saya sekarang…
Kesedihan seorang Yun ketika banyak masalah menghimpitnya…
membuat Yun bisa berkata banyak hal dan menumbuhkan kekuatan pada saya. Mengingatkan saya bahwa sebetulnya saya sudah mengetahui semua itu… Saya hanya perlu diingatkan saja… Saya selalu butuh reminders ketika saya sedang jatuh…
Dan kesedihan seorang saya, yang menjadikan saya seolah kehilangan semangat…
Membuat saya ingin bertemu dengan sahabat-sahabat saya, sekedar untuk tertawa dan ngobrol-ngobrol mengenai masa lalu yang konyol. Dan kemudian, membuat saya akhirnya mengenal betul seorang manusia yang sudah menjadi sahabat selama sepuluh tahun itu.. Seorang Yun yang tadinya hanya tersenyum dan banyak tertawa saja.
Bahwa saya memang tidak sendirian….
Bahwa saya bisa membantu orang lain, dengan cara yang tidak saya duga sebelumnya…
Ya.
Memang tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena memang sudah sepatutnya untuk terjadi. Coba luangkan waktu sejenak untuk mengenang masa lalu dan menarik benang merah dari setiap kejadian. Saya percaya, kamu akan tersenyum-senyum sendiri setelah tahu bahwa sebetulnya kamu adalah orang yang sangat, sangat beruntung telah ditempa oleh banyak kejadian yang legit, atau pahit.
Well..
I already did it.
Dan..
Saya menangis,
Bahagia.
***
Special for Yun, for those 4 hours of chit chat in front of Tea Spot
and also for OM NH18, for asking me to go out side and talk to somebody
(psstt.. and for you too, Sis… for making me laugh… the laughter that I needed!)
November 9, 2008 at 5:04 am
Abang…
Kalimat-kalimatnya indah sekali….
Memang benar, saya butuh untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan… biar semakin menyadari bahwa ini adalah sebuah tahap yang musti dilewati, bagaimanapun pahitnya..
Makasih, Abang….
November 9, 2008 at 5:53 am
Benar Ibu.
Setiap masa-masa terberat sekalipun akan selalu ada hikmahnya…
Semoga Lala menjadi perempuan yang lebih tabah dan kuat.. Dan nggak cengeng lagi seperti sebelum-sebelumnya..
Saya suka kata-kata ibu yang terakhir.
Seperti langit yang cerah setelah hujan deras mengguyur… dan muncullah pelangi.
Ah, Ibu…
*
Cantik sekali…
*seperti Ibu Enny yang nampak cantik dengan sanggul dan kebaya adat Jawa itu..
November 9, 2008 at 6:04 am
Iya, Siss…
Dan aku selalu akan ingat.
Dengan acara launching di tenda sirkus itu! hahaha… I just need to remember our chat whenever I need to laugh! hehehe…
November 9, 2008 at 7:17 am
Panjang ya?
Kan udah saya peringatin sebelum baca.. hehehe…
Eniwei..
Makasih ya, Mas, udah baca biarpun panjangnya seperti kereta api.. hehehe..
November 9, 2008 at 7:36 am
Hai, MBak…
We will never know God’s Master Plan of life.
Benar sekali..
Makasih Mbak..
Nice to know you too..
November 9, 2008 at 11:28 am
HAHAHAHAHA….
I just need to hear some practical jokes like this, Yes.
Dan bener…
gua ngakak!!!
*emang lu mau suntik putih beneran Yes? gua juga mau ah… * hehe
November 9, 2008 at 11:30 am
Makasih Yes…
Makasih banget!!!
November 9, 2008 at 11:36 am
Eh, Hilman.
*
Kalau hari itu saya ketemu kamu, Mas…
Yang nangis bukan temen2 saya, tapi saya sendiri… hehehehe… *yang ini ga becanda, Mas!
Kemarin saya sudah membuka jendela.
Dan benar… there’s life outthere.. yang bisa membuat saya sadar bahwa hidup memang tidak selamanya indah-indah saja…
November 9, 2008 at 12:54 pm
Lagi kepikiran banyak hal, Pimbem…
Banyak sekali, sampai-sampai kepingin nangis aja tiap hari..
Iya.. hidup emang naik turun ya?
Mungkin emosi saya sedang turun nih… jadi serba nggak jelas aja…
Makasih ya, Pimbem…
November 9, 2008 at 5:17 pm
We are strong people, right?
Benar banget yang kamu bilang, Mas… Kesadaran seperti ini memang harus ditemukan sendiri, dijalani sendiri… dan biasanya, ini lebih sangat sangat bermakna dan teringat terus…
Thanks for the support.
Saya menjadi semakin yakin…
November 9, 2008 at 7:11 pm
Sip, sip…
We were meant to live for so much more..
For more reasons that we haven’t noticed them.. not yet..
Makasih ya, Raffaell…
November 9, 2008 at 7:42 pm
Iya, Blue.
Sudah selesai kok acara menangis2nya…
Makasih ya…
November 9, 2008 at 8:03 pm
Ah..
Bener banget tuh…
Emang ceritanya yang belum selesai aja, ya, Nat..
Lagipula, selama masih bernafas dan waktu masih berdetik, bukannya emang segalanya ini belum selesai?
Makasih ya, Say…
*entah kenapa kok kita mendung-nya bisa barengan gini ya?*
cup mwah
November 9, 2008 at 8:25 pm
Iya, Ret.
Lagi banyak pikiran; campur aduk.
Janji bakal lebih tahan lagi…
Makasih ya…
November 9, 2008 at 11:35 pm
Pak Grandis,
you always know how to make me feel better. Makasih ya, Pak..
Buat segala hiburan dan keyakinan Bapak ke saya yang masih sangat kekanak-kanakan ini…
November 10, 2008 at 12:21 am
Udah besar nggak boleh nangis??
Boleh kok…
Tapi nggak boleh nangis sampe gegerungan dan nggak mau keluar dari rumah ya..
November 10, 2008 at 8:40 am
Makasih, Zoel…
Cuman kata-katanya aja yang keren?
Kalo orangnya, gimana??
hehehe…
November 10, 2008 at 9:01 am
Ya, Don..
Makasih banget…
Kamu apa kabar?
Sekarang udah hari keberapa ya, Don?
November 10, 2008 at 9:10 am
hihihi… cincay tuh apa, ya, Ndah?
Saya tahunya cincau… enak tuh dikasih sirop sama es batu… hehehe…
Tapi bener…
Suatu saat, kita pasti bisa lebih mudah melaluinya…
Ujian diberikan supaya kita lebih pinter ya, Ndah..
Makasih ya…
*masih pingin kawin lari? hehe*
November 10, 2008 at 10:32 am
Ya..
I know that… thanks, ya, Om…
November 10, 2008 at 11:40 am
Chichi…
Suka sekali sama kata-kata ini:
…with God, everything happens for a good reason.
Ahhh… you are the best, Bu… !
Ketemuan yaa…
Hari Jumat kamu dateng kan?
atau ketemuan setelah book launching?
Pokoknya kudu mesti ketemu ya BU!
November 10, 2008 at 1:10 pm
hihihi…
lagi maenan themes..
sekarang kan udah pake yang unlimited .. hehehe…
Lah?
kok bisa lupa tho?
Ayo, ayo… ga usah ngeblog terus.. kerja, kerja! *hahaha, kapan lagi bisa nyuruh2 begini.. hihihi*
November 10, 2008 at 1:48 pm
berhentilah menangis dan berkeluh kesah
sebab Jeung salah satu idola
kami para bloger
soalnya Jeung sedang menapaki
karier yg sdh jelas muaranya dan
segera akan menuai sukses
btw, kl sang idola saja bersedih
lalu kami kaum protelar ini harus
bagaimana lagi….?
November 10, 2008 at 1:49 pm
ralat bos : protelar ganti proletar
November 10, 2008 at 4:04 pm
Bagus nih postingnya. Jadi inget masa2 lalu.
November 10, 2008 at 9:28 pm
Big and warm hugs for lala
U were there when I really need someone to cheer me up and this time I open my arms and give u biggest and warmest hugs ever.
There’s always something in a simple hug, that always warms the heart. That’s why I hug u….love u sist…hope to see the smiles again
November 11, 2008 at 10:37 pm
Begitulah kiranya…
Mengatasi kesedihan dengan memberikan cinta dan empati kepada orang lain…
Inspirasi buatku La…
November 11, 2008 at 11:23 pm
Semua nasehat sahabat Jeung Lala diatas menunjukkan kepedulian, perhatian dan kecintaan mereka pada Jeung Lal. Semangat jeung, pintu sukses sudah menanti dedepan mata. Jadikan kesedihan dan kepahitan sebagai obat untuk menjadi lebih sehat dan kuat dalam menjalani hidup ini. Seperti komentar Jeung Lala di blog saya “Everything is happened for reason” Cheers up dan sukses untuk Jeung Lala. thanks
November 18, 2008 at 3:57 pm
Itu disebut juga ujian kenaikan tingkat, Mbak.
Setelah saya berhasil melewati ujian dengan baik, InsyaAllah saya menjadi lebih dewasa..
Makasih yaa…
btw, coklatnya keliatan so very delicious!
December 10, 2008 at 10:42 am
Benar.
Sebetulnya saya berprinsip: bahagia atau tidak, itu hanya permainan otak semata…
Tergantung kita mau menganggap itu sebagai pelajaran atau malah beban.
Cuman kadang, ketika ditimpa dengan masalah yang bertubi-tubi, yang ada malah tak bisa berpikir lebih jernih.
Ya, saya sedang belajar…
Makasih sudah mampir yah..