Kamu pernah mengalami ini nggak:
Sedang patah hati karena diputusin sama si kekasih yang ternyata berselingkuh, datanglah seorang sahabat atau siapapun juga dengan kata-kata standar begini: “Ah, sudahlah… the show must go on… Dia bukan laki-laki satu-satunya… Kamu pasti mendapatkan laki-laki yang lebih baik…” dll, dsb, mirip-mirip dengan kalimat penghiburan seperti tadi.
Atau..
Sedang gagal mendapatkan promosi yang sudah menjadi incaran kamu sejak jaman hidung gajah masih pesek, dan membuat kamu males makan, malas kerja, malas ke kamar mandi sampai-sampai rekan kerja yang duduk di dekat meja kamu lalu mulai berbaik hati dengan berkata, “Sudahlah… Nantinya, kalau memang sudah tepat waktunya, pasti Tuhan akan kasih kesempatan kok… Kamu kerja yang baik aja.. tetap semangat ya!” Dan ya, masih banyak varian nasehat lain yang sejenis dengan tujuan sama, yaitu membangkitkan hawa nafsu.. eh, maksudnya, membangkitkan semangat kamu.
Atau..
Ketika kamu kehilangan HP di kereta (siapa yang merasa kesindir ya? Hayo, tunjuk jari! hihihi)? “Sudah lah.. berarti bukan rejekimu… Ntar pasti dapet yang lebih baik…”
Ketika proyek kamu nggak tembus sampai direksi? “Siapa tahu, kamu bakal dapat kesempatan yang lain?”
Ketika kamu bosan di tempat kerja yang sekarang lalu heboh mencoba cari pekerjaan di tempat lain tapi nggak juga berhasil? (Nah, sekarang siapa yang tersindir ya? hihi) “Barangkali memang rejekimu di situ…”
Dan lain-lainnya.
Dan sebagainya.
Nasehat-nasehat.. untaian kata-kata mutiara indah yang memang bertujuan untuk membangkitkan semangat kamu supaya bisa segera bangkit dan mulai menemukan diri kamu yang hilang… hanya supaya kamu bisa get back on your feet again…tapi kamu menganggapnya: SUPER ANNOYING!!
Alasan kamu:
Hey, it’s easy for you to say…
It has nothing to do with you…
Okay.
Sekarang saya nanya sekali lagi: PERNAHKAH KAMU MERASA BEGITU?
Merasa bahwa kata-kata itu hanyalah aksesoris bibir saja, pemanis bibir saja, dan tidak akan mengubah apapun… Bahwa kamu tetap saja sedih karena sang kekasih yang selingkuh… Bahwa kamu tetap saja kecewa karena tidak lolos promosi… Bahwa kamu tetap saja marah bukan main dengan pencopet yang nggak tahu diri…
Tidak ada yang berubah.
Not a single thing.
Hmm…
Saya selalu berpendapat, bahwa nasehat tidak akan menjadi nasehat yang berguna kalau kita sedang tidak ingin mendengarkan apa-apa. Jadi, jejalan kata-kata semanis apapun, akan terasa tawar saat kita mendengarkannya. Annoying, mungkin. Malah bulls**t, barangkali.
Tapi salahkah mereka kalau ingin memberi kita nasehat? Memberi saya nasehat tentang tidak terlalu ketakutan terhadap project buku perdana saya, barangkali? Memberi kamu nasehat tentang tidak perlu khawatir tentang pekerjaan kamu, barangkali?
They are just trying to be nice.
Karena hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk membuat kamu bisa tersenyum kembali. Dan saya sih percaya, kalau saya bisa dan mampu, saya akan:
Memperkenalkan seorang model celana dalam Calvin Klein buat seorang sahabat yang patah hati…
Mengajak Bos-nya si Sahabat, untuk lunch di New York dengan menumpang pesawat jet pribadi saya, lalu bernegoisasi untuk mempromosikan sahabat ke jenjang yang paling atas sekalian…
Memberikan satu toko HP dan seluruh hasil penjualannya tidak perlu disetor ke saya supaya teman saya yang kehilangan HP itu nggak terlalu bersedih… dan oh ya, panggil Superman sekalian supaya malingnya bisa masuk penjara!
Proyek nggak tembus??? Nggak masalah. ADA SAYA. Kenapa harus sedih segala??
Dan juga, masih ada perusahaan multinasional saya yang akan menampung tenaga potensial seperti seorang teman yang resah setiap hari karena merasa stuck dengan pekerjaannya yang itu-itu saja tanpa perkembangan karir yang jelas….
Itu kalau saya bisa.
Tapi kenyataan, I CAN’T.
Dan suntikan pertolongan apa yang paling mungkin dilakukan?
Dua hal.
Memberikan kata-kata penghiburan…
And just being nice.
Dengan tujuan yang sama, bahwa saya ingin teman-teman saya itu bahagia. With or without my capability of doing magical things! Tidak ada bedanya, dengan atau tanpa melimpah ruahnya uang warisan saya atau kenalan saya di panggung runway Milan
Sampai di sini akhirnya saya menyadari sesuatu.
Kenapa saya harus merasa marah kalau nasehat itu tidak mempan di telinga saya? Kenapa saya harus menghujat bahwa nasehat macam apapun tidak akan membuat saya lebih baik? Dan orang-orang si pemberi nasehat itu tidak akan tahu bagaimana sih rasanya berdiri di dalam sepatu-sepatu saya? Berdiri di atas kaki saya?
Ah…
Bukankah mereka hanya menjadi seseorang yang baik, seperti peri baik hati yang memberikan mantra buat kamu, hanya supaya kamu tidak terlalu larut dalam kesedihan yang pasti akan usai, meskipun belum tahu kapan itu? Bukankah mereka melakukannya karena alasan yang sangat sederhana: want to make you happy?
Ya.
They’re just being nice to us.
Then why u bother so much to say that it’s worthless and say to their faces theseĀ lines, “It’s easy for you to say, coz you have no idea to be me….”
Why?
WHY??
Argh, come on!!
Iya, Fish.
Menghibur dengan cara mereka yang unik… dengan tujuan supaya kita hepi lagi..
Ah, indah banget….
Tapi emang,
jangan asal ngomong… Biar nggak basi..
Memang lebih enak juga, kalau si pemberi nasehat sudah pernah mengalaminya, biar ada contohnya begituuhhh… ^^
Posted by fisha17 | October 22, 2008, 5:59 pmIya, Bu…
Saya hanya mencoba menghargai maksud baik mereka aja….
Tapi dengan mereka hanya memeluk saya, mengelus punggung saya, dengan sayang… I know, they want to make me happy…
Bukunya udah sampai?
Alhamdulillah…
Posted by edratna | October 22, 2008, 6:46 pmMasih pingin sih..
tapi liat sikon juga.. tunggu sampai selesai nangis-nangisnya..
Paling aku bakal elus aja punggungnya… sambil kasih mantra: “Everything will be OK…”
Posted by emiko | October 22, 2008, 6:55 pmsalam
Jeung kata2 yang tulus, penuh empati akan sangat terasa kok di hati, dan itu akan sangat menguatkan, trust me!!!
Posted by nenyok | October 22, 2008, 8:09 pmIya, Blue…
Makasih yaa…
Salam hangat…
Posted by bluethunderheart | October 22, 2008, 8:16 pmHehehe…
cara begitu juga asyik tuh, yes…
So,
kapan lu traktir gua?
Posted by yessymuchtar | October 22, 2008, 11:02 pmNyanyi???
Boleh, sih…
Tapi gua boleh request nggak Yes?
Plis, plis…
Untuk kali ini… lu jangan jogedan dangdut kayak biasanya….
Emang sih, elu paling ahli, tapi, tapi… gua kan butuh variasi Yes…
HAHAHAHA
Posted by yessymuchtar | October 22, 2008, 11:27 pmOh ya?
Terus, terus, gimana?
Posted by ciwir | October 23, 2008, 12:26 amHai Wira…
Saya setuju. Emang harus ada yang ‘waras’ biar nggak kebablasan kemana-mana…
Soal blogroll? Ah, silahkan, Wir… Saya juga ya…
Posted by infowira | October 23, 2008, 5:00 amHehehe..
Bener banget…
Daripada jengkel sendiri kan…
Posted by bisaku | October 23, 2008, 8:57 amBut at least they tried…
And at least… they wanted to help with their own ways..
Kecuali kalo diucapinnya nggak pake hati… berarti emang annoying banget! Plis deh.. diem aja napah…
Posted by mary | October 23, 2008, 9:45 ambegituuuu..
Ah, Om ini pintar sangat!
Posted by nh18 | October 23, 2008, 10:06 amHe eh..
Basa basi banget sih kalau diomongin dengan nada cuek dan setengah hati…
Oh ya, bukunya launching di Jakarta Convention Centre, tanggal 14 Nov, jam 10.30
Ada flight dari Menado kan jam segitu?
Posted by yu2n | October 23, 2008, 11:19 amIya, Yaya…
Biasanya saya bakal diem dulu.
Kalau memang dia nanya, “what should I do?”
baru saya maju….
Tapi saya berusaha untuk menghibur hatinya… entah bagaimana caranya!
Posted by cahayadihati | October 23, 2008, 11:24 amIya…
Jangan terjun bebas, kalau istilah saya sih..
Posted by tukangobatbersahaja | October 23, 2008, 12:55 pmLha?
Sejak kapan Pak Grandis jadi orang Madura?
Iya, Pak.
Selama dilakukan dengan hati… Dan benar-benar tulus…
Terasa bedanya kok, antara yang setengah hati dengan yang benar-benar pake hatiii…
Nah, kalau pak Grandis, pas nasehatin saya, pake hati berapa? setengah? Seperempat? apa full?
Posted by Oemar Bakrie | October 23, 2008, 1:03 pmHai, Setiaji…
Segalanya pasti akan bermanfaat buat kita. Ntah itu kegagalan atau keberuntungan.
Makasih Aji karena udah ngingetin saya..
Posted by kodokijo | October 23, 2008, 2:00 pm….nggak sekalian ambil tipi-nya Mbak? hihi
Posted by rhainy | October 23, 2008, 3:26 pmItu yang saya maksud, Mbak…
Daripada dicuekin atau malah diplirik-plirik dengan pandangan, “Idih, kasihan banget deh lu…”
Posted by IndahJuli | October 24, 2008, 4:38 pmIya, DM.
Aku boleh pinjam telinga kamu nggak, sekarang?
Posted by Daniel Mahendra | October 25, 2008, 12:38 amYang penting niatnya kan, Bu? Hahaha….
Nat, gimana kalau setiap kita mengucapkan kata-kata baik, kita anggap sebagai mantra aja?
Posted by natazya | October 26, 2008, 8:56 pmHaha…
Todong aja si Om DM-mu itu, Nat…
Sekali-sekali perlu tuh… hihihi…
Posted by natazya | October 26, 2008, 8:58 pm