archives

Archive for October 17, 2008

telepon yang berdering

Bunyi dering ponsel membuat lelaki muda itu mengalihkan perhatiannya dari layar monitor komputernya. Nama si perempuan manis itu tertera di layar ponsel, membuat si lelaki hanya tersenyum sambil menekan tombol hijau dan mulai berbicara.

“Ada apa lagi, hm?” Suara Lelaki itu terdengar begitu lembut. Seperti berusaha untuk menenangkan kegelisahan perempuan yang diajaknya berbicara.

“Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?” tanyanya panik. Nada suaranya terdengar gelisah. Perempuan ini memang selalu tak pernah bisa menutupi perasaannya. Apa yang terceritakan dari mulutnya adalah penerjemahan langsung isi hatinya.

“Aku nggak kenapa-kenapa,” jawab si Lelaki.

“Kamu ada di mana?”

“Masih di studio, Manis,” jawab si Lelaki, masih dengan suaranya yang tenang. “Masih seperti setengah jam yang lalu kamu telepon ke sini…”

“Ngg… yakin kamu di studio? Kenapa suaranya berisik sekali? Kamu nggak bohong, kan?”

Si Lelaki tertawa. “Manis… itu bunyi hujan di balik jendela. Aku sengaja membuka jendela, supaya aku nggak perlu menyalakan kipas angin. Lebih hemat begini, kan? Dan lagipula… buat apa aku bohong sama kamu, hm?”

Lalu tenang sebentar. Hanya suara hujan yang berisik di balik jendela. Ditambah dengan suara hembusan angin yang terdengar begitu pilu. Dan suara desahan napas si Perempuan di ujung telepon.

“Sudah. Tidur saja,” kata si Lelaki akhirnya. “Aku mau melanjutkan tugasku sebentar. Besok ada meeting dan aku harus sudah ada di coffee shop itu sebelum pukul delapan.”

“Sekarang masih sore, kan?”

“Ini sudah malam, Manis… Sudah pukul satu malam. Apa kamu nggak ngantuk, hm? Kamu kan belum tidur seharian…”

Si Perempuan terdiam. Tidak lama kemudian, dia berkata, “Tapi kamu harus janji dulu, kalau kamu bakal baik-baik aja.”

“Iya. Aku janji. Aku berjanji sama kamu, kalau akan baik-baik saja. Okay? Kamu lebih tenang sekarang?”

“He-eh.” Si Perempuan menyahut perlahan. “Aku cinta kamu…”

“Dan aku juga padamu…”

Ponsel itu diletakkannya kembali di sisi kiri monitornya, bersisihan dengan satu cangkir kopi hitam yang kental juga asbak tempat menyimpan abu rokoknya yang banyak. Ingin sekali ia segera melanjutkan pekerjaannya tadi, memberesi file-file yang diperlukan untuk meeting beberapa jam lagi, tapi isi kepalanya sudah penuh dengan wajah perempuan yang manis tadi. Perempuan manis yang sudah belasan kali meneleponnya, mulai pukul delapan malam tadi.

Ah, Manis…

Kamu memang terlalu manis untuk membuatku jengkel karena tingkahmu yang aneh malam ini… Continue reading »

a lesson from a book store

Semalam, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mampir ke sebuah Toko Buku untuk membeli buku rectoverso-nya Dee alias Dewi Lestari. Buku cantik berwarna hijau dengan gambar sampul yang minimalis dan hard cover itu akhirnya terbeli juga karena selama ini saya selalu amnesia’ ketika sedang berada di toko buku (maksudnya saya selalu lupa kalau saya kepingin beli buku ini), padahal minggu kemarin saya dan GangGila sempat kencan sebentar di Gramedia, Tunjungan Plaza.

Hm,

Kalau kamu mengira saya akan bicara soal buku ini… well… you’re wrong. Karena apa? Karena saya memang belum membacanya sampai tuntas.

Lantas, cerita apa yang ingin saya bagi pagi ini?

Okay.

Cerita saya cukup sederhana.

Kalau urusan membeli buku, saya memang paling senang hunting buku di toko buku ini. Selain karena faktor murah (berani memberi diskon sampai dua puluh persen), di sana juga menyediakan fasilitas menyampul buku, yang walaupun tidak gratis, tapi sangat murah. Dilihat dari manfaatnya, seribu rupiah sangat murah, kan?

Dan kebiasaan saya setiap membeli buku di sana adalah meminta pegawainya untuk menyampulkan buku-buku yang saya beli, seperti yang saya lakukan semalam. Continue reading »

Catatan Harian

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers