Bunyi dering ponsel membuat lelaki muda itu mengalihkan perhatiannya dari layar monitor komputernya. Nama si perempuan manis itu tertera di layar ponsel, membuat si lelaki hanya tersenyum sambil menekan tombol hijau dan mulai berbicara.
“Ada apa lagi, hm?” Suara Lelaki itu terdengar begitu lembut. Seperti berusaha untuk menenangkan kegelisahan perempuan yang diajaknya berbicara.
“Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?” tanyanya panik. Nada suaranya terdengar gelisah. Perempuan ini memang selalu tak pernah bisa menutupi perasaannya. Apa yang terceritakan dari mulutnya adalah penerjemahan langsung isi hatinya.
“Aku nggak kenapa-kenapa,” jawab si Lelaki.
“Kamu ada di mana?”
“Masih di studio, Manis,” jawab si Lelaki, masih dengan suaranya yang tenang. “Masih seperti setengah jam yang lalu kamu telepon ke sini…”
“Ngg… yakin kamu di studio? Kenapa suaranya berisik sekali? Kamu nggak bohong, kan?”
Si Lelaki tertawa. “Manis… itu bunyi hujan di balik jendela. Aku sengaja membuka jendela, supaya aku nggak perlu menyalakan kipas angin. Lebih hemat begini, kan? Dan lagipula… buat apa aku bohong sama kamu, hm?”
Lalu tenang sebentar. Hanya suara hujan yang berisik di balik jendela. Ditambah dengan suara hembusan angin yang terdengar begitu pilu. Dan suara desahan napas si Perempuan di ujung telepon.
“Sudah. Tidur saja,” kata si Lelaki akhirnya. “Aku mau melanjutkan tugasku sebentar. Besok ada meeting dan aku harus sudah ada di coffee shop itu sebelum pukul delapan.”
“Sekarang masih sore, kan?”
“Ini sudah malam, Manis… Sudah pukul satu malam. Apa kamu nggak ngantuk, hm? Kamu kan belum tidur seharian…”
Si Perempuan terdiam. Tidak lama kemudian, dia berkata, “Tapi kamu harus janji dulu, kalau kamu bakal baik-baik aja.”
“Iya. Aku janji. Aku berjanji sama kamu, kalau akan baik-baik saja. Okay? Kamu lebih tenang sekarang?”
“He-eh.” Si Perempuan menyahut perlahan. “Aku cinta kamu…”
“Dan aku juga padamu…”
Ponsel itu diletakkannya kembali di sisi kiri monitornya, bersisihan dengan satu cangkir kopi hitam yang kental juga asbak tempat menyimpan abu rokoknya yang banyak. Ingin sekali ia segera melanjutkan pekerjaannya tadi, memberesi file-file yang diperlukan untuk meeting beberapa jam lagi, tapi isi kepalanya sudah penuh dengan wajah perempuan yang manis tadi. Perempuan manis yang sudah belasan kali meneleponnya, mulai pukul delapan malam tadi.
Ah, Manis…
Kamu memang terlalu manis untuk membuatku jengkel karena tingkahmu yang aneh malam ini… Read the rest of this entry »