when hating him is the most possible way out
Have you ever loved somebody so much it makes you cry
Have you ever needed something so bad you can’t sleep at night
Have you ever tried to find the words but they don’t come out right
Have you ever, have you ever…(Have You Ever, BRANDY)
Itu adalah cuplikan dari salah satu lagu yang sempat populer di tahun 1998, masa awal-awal kuliah dulu. Sebuah lagu yang akhirnya menggiring saya pada pertanyaan yang sama, untuk diri saya, juga untuk kamu, untuk kalian.
Have you ever loved somebody, so bad?
Sampai-sampai kamu kehilangan sejuta akal dan logika yang dipersembahkan Tuhan kepadaMu, sehingga kamu melakukan apa saja asal itu bisa membuktikan bahwa kamu mencintai Kekasihmu? Tidak perlu yang terlampau jauh, tapi let’s say… yang dimaksud dengan melakukan apa saja itu seperti kamu mau-mau saja harus dikekang dengan dia yang otoriter. OK. Being sensitive is good, tapi kalau sampai membelenggu kaki-kaki kamu dalam melangkah dan bersosialisasi lalu membuat kamu hanya berada dalam satu rangkulannya saja… Hey! it’s no longer being sensitive… it’s a Hitler in disguishe!
Banyak contoh lain kebodohan-kebodohan yang terjadi ketika saya atau kamu sedang jatuh cinta seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Betapa naifnya saya dan kamu ketika bunga-bunga, berikut dengan kupu-kupu warna-warninya, tergambarkan dengan sempurna di hati. When love is in the air… sepertinya hidup menjadi jauh lebih menyenangkan!
Have you ever found the one you’ve dreamed of all of your life
Just about anything to look into their eyes
Have you finally found the one you’ve given your heart to
Only to find that one won’t give their heart to you
Have you ever closed your eyes and dreamed that they were there
And all you can do is wait for the day when they will care…
Tapi…
Apa yang terjadi ketika kita cinta itu menghabis? Atau bahkan, ketika saya atau kamu menawarkan sejuta kasih sayang berbalut pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya, tetapi si Pemilik Hati yang tengah kita hadiahi cinta itu malah kabur, lari, atau menolak dan mengatakan, “I’m so sorry, saya nggak bisa mencintai kamu, like you always wanted me to do“?
Menangiskah, kamu?
Bersedihkah, kamu?
Berteriak marah-marah, sekaligus menyumpah?
Atau kamu diam… Diam saja.. Lalu perlahan-lahan kamu berkata dari dalam hati, “Seandainya memang ini nggak terbalaskan… Seandainya memang cinta harus berhenti… Saya akan pergi saja... Sampai saya menemukan kekuatan untuk menyentuhnya lagi, minus hati yang bergetar…“
Kamu berhak melakukan apa saja untuk menenangkan hati kamu.
Bisa dengan menangis tanpa henti…
Atau ‘bertapa’ di dalam kamar sampai berhari-hari…
Lalu marah-marah, berteriak, dan menyumpahi… Screw you, a**ho*e…
Apapun itu.
Tapi…
Bagaimana jika kamu berpisah dengan seseorang yang sungguh kamu cintai itu, hanya karena kamu HARUS berpisah? Bahwa kamu TERPAKSA berpisah? Ketika cinta menyala hangat di dalam dada kamu, tiba-tiba saja kamu harus memadamkannya dan membiarkan cinta itu tak lagi menghangatimu?
Padahal saat itu; hanya wajahnya yang teringat di dalam benak…
Hanya senyum lucunya…
Atau guyonan segarnya yang membuatmu tertawa sendiri setiap mengingatnya…
Ya.
Apa yang kamu lakukan ketika kamu harus menyudahi perasaanmu padahal cinta itu masih demikian hebatnya mengguncang duniamu?
Hm…
Ketika ini terjadi pada perempuan terdekat saya, dia hanya bisa bilang begini:
“I’ll try to forget him, La…”
“Bagaimana?”
“Simply by.. hating him.”
“Membenci dia? Apa salahnya?”
“Dia nggak salah.”
“Lantas?”
“Aku harus punya alasan untuk melupakan dia, right in the moment when I love him the most…“
“I am lost.”
“Aku nggak bisa dengan sengaja melupakan dia, La. Aku harus punya perasaan marah sama dia supaya aku punya alasan untuk melupakan dia.”
“Jadi?”
“When hating him is the most possible way out… I think I better doing it…“
Dan ya.
Perempuan terdekat saya itu memilih untuk membenci lelaki yang ia puja. Membenci lelaki yang memberinya mimpi-mimpi indah. Yang menghadirkan surga lebih dekat; only one call away. Yang membuat hari-harinya sungguh lengkap; tawa, canda, dan air mata rindu yang tertahan.
Dia memilih untuk marah saja.
Benci saja.
Lalu membiarkan amarah dan kebencian itu membakarnya…
Dan menumbuhkan inginnya untuk melupakan sang Kekasih.
Kekasih, yang tidak pernah salah apa-apa…
Hhh…
Seandainya itu terjadi pada saya, apa yang akan saya lakukan ya?
Membenci juga? Lalu marah?
Atau… mencoba untuk menikmati saja setiap luka sampai perlahan-lahan saya capek sendiri?
*sigh*
Entahlah.
Kalau kamu? What will you do?










Cinta..
Begitu sulit dipahami.
Sering bikin sakit hati.
Atau nangis-nangis sendiri…
Tapi oh tapi,
tetap saja banyak yang ingin jatuh cinta.
Aneh!
Lho, emangnya.. emangnya.. emangnya…
*nggak bisa membela diri, wong emang idenya dari dirimuh! hahaha*
Jadi ceritanya…
si perempuan jatuh cinta dengan Monyet ya?
Haha…. ngapain juga jatuh cinta sama Monyet… enakan sama manusia aja, deh… Biar bikin sakit hati, yang penting manusia.. hihihi…
Tapi above all…
Daripada kita yang sakit sendiri, mendingan emang melakukan sesuatu yang harus dilakukan.. Jika membenci adalah hal yang terbaik dan bisa membuat kita lupa.. ya sudah lah. Lakukan saja… Nggak ada yang bisa melarang soal hati…
bisa di switch ya? kok saya nggak nemu tombolnya? … malah nemu tombol yang lain! Hus, hus! Hahaha…
Berarti saya masih belum bahagia, Lis…
Karena saya masih benci sekali sama Sarah Jessica Parker yang cantik, pintar, dan pakaiannya ukuran 0! Hahaha… perempuan banget… perempuan banget….
Tapi quotenya keren tuh!
Dan ya… memang sok tua deh, kamu! hihihi…
Lu menghibur siapa??
dan sumprit, gua nggak merasa dihibur.. hahahah….
Lagian..
elu? jatuh cinta? benar-benar prestasi luar biasa, mboi…
Tunggu postingan gua tentang ini ya..
(siap-siap ngomel sana! hihihi)
Hihihi..
sakit sakit enak gitu ya Mbak..
Tulisanku sungguh menarik?
Beneran?
*tersipu-sipu sambil minggirin becak ke tepi jalan*
HAHAHA…
Erase the past tuh udah seperti mantra ya, DM?
Udah berapa kali yaa kamu bilang mantra itu ke aku? Hmm…