Kekasih yang Bernyanyi

Surga boleh indah dengan segala janjinya.

Dengan janji akan bidadari-bidadari yang akan menjadi teman bercanda kita di sana. Atau dengan janji akan tidak ada segala duka dan lara tapi hanya bahagia. Atau dengan janji akan terpenuhinya segala keinginan yang mungkin tak masuk akal sekalipun. Ya. Janji-janji bahwa indahnya Surga adalah indah yang tak terbayang dengan otak manusia secanggih apapun.

Taman firdaus yang mungkin tidak diterjemahkan dengan baik oleh benak kita dan percayalah, Surga jauh lebih indah dari yang terindah!

Tapi, tapi…

Kalau tiba-tiba sebuah kedamaian yang terasa seperti berada di dalam Surga, seperti menyelinap masuk ke dalam hati, lewat satu tindakan sederhana tapi membuat saya ingin melayang bahagia… apakah salah?

Kalau tiba-tiba Surga bisa ditempuh tak perlu melulu lewat mati yang abadi tapi dengan satu jangkauan tangan dan gerakan jari-jemari saja… apakah salah?

Dan apakah salah…

Kalau Surga terasa begitu dekat… ya. Only one telephone call away? Read the rest of this entry »

Posted in I'm In Love. Tags: . Comments Off

a great start, in the morning

Pagi yang berjalan biasa saja.

Ritual berebut kamar mandi  terjadi seperti pada hari-hari sebelumnya, di setiap pagi, dari Senin sampai Jumat. Urutannya pun tidak berubah. Mbak Ira, saya, lalu Bro. Setiap hari selalu begitu. Dan pagi ini juga tidak ada yang berubah.

Sarapan pagi di depan televisi pun juga menjadi ritual Bro tiap pagi. Dengan sepiring nasi putih panas dan lauk pauk yang baru dihangatkan di atas kompor, dia menikmati sarapan paginya, sementara Istri tercinta dan Adik Gembulnya asyik sendiri di dalam kamar, memadu-padankan pakaian, menaburkan bedak, lalu memoleskan gincu.

Pukul setengah tujuh, mobil sedan berwarna hijau itu mulai keluar dari ‘kandang’nya. Dengan tiga orang anak manusia yang kemudian berceloteh riang tentang banyak hal. Bisa politik, bisa krisis ekonomi, bisa gosip artis-artis (dan Bro langsung berkomentar kalau saya dan Mbak itu ngomong hal yang nggak penting sama sekali! hihi), dan bisa pula cerita-cerita tentang kegilaan saya dan GangGila.

Percakapan ringan. Percakapan yang bisa apa saja.

Percakapan yang mengalir saja, seperti pagi-pagi sebelumnya. Seperti pagi-pagi sebelum pagi ini.

Yang membuatnya berbeda adalah… Read the rest of this entry »

GangGila dan Bioskop

Gara-gara menonton Laskar Pelangi, hari Rabu kemarin, dengan salah satu sahabat GangGila saya, si Lin, saya langsung terkenang kembali dengan kegilaan-kegilaan yang GangGila lakukan pada jaman-jaman kuliah dulu (dan kegilaan yang disangka akan berhenti setelah kami menjadi wanita pekerja itu ternyata tidak pernah berhenti sampai sekarang! DOH!).

Bukan persahabatan si Ikal dan teman-temannya…

Atau ketulusan hati Bu Muslimah ketika mengajar murid-muridnya yang miskin dan minim biaya…

Tapi yang membuat saya dan Lin terkenang kembali dengan masa-masa tahun 1998-2003 adalah keceriwisan sekelompok perempuan muda, yang duduk persis di belakang saya dan Lin, yang cekakak cekikik nggak penting, dan celometan lucu-lucuan sampai membuat saya (yang tadinya risih) ikut ketawa ketiwi nggak jelas. Ya, tiga perempuan itu memang masih tahu diri. Mereka hanya melakukan kegilaan itu di scenes yang tepat. Kalau memang waktunya menangis yaa.. menangis lah. Mereka bisa berubah secepat kilat seperti potongan adegan di layar film!

Saat mereka melakukan kegilaan, saya dan Lin hanya terbengong-bengong, tapi saya tahu, Lin juga memikirkan hal yang sama. “Kayak kita jaman dulu, ya, La…”

Ya.

Dan kerinduan saya pada tingkah polah ajaib saat menonton di bioskop (sekarang duduknya jauh lebih tenang, meskipun tetap saja sering uyel-uyelan sama Lin saking empuknya ini perempuan! hihi) membuat saya segera mengajak ngobrol perempuan-perempuan ceriwis di belakang saya itu setelah film usai diputar dan lampu menyala terang. Read the rest of this entry »

when hating him is the most possible way out

Have you ever loved somebody so much it makes you cry
Have you ever needed something so bad you can’t sleep at night
Have you ever tried to find the words but they don’t come out right
Have you ever, have you ever…

(Have You Ever, BRANDY)

Itu adalah cuplikan dari salah satu lagu yang sempat populer di tahun 1998, masa awal-awal kuliah dulu. Sebuah lagu yang akhirnya menggiring saya pada pertanyaan yang sama, untuk diri saya, juga untuk kamu, untuk kalian.

Have you ever loved somebody, so bad?

Sampai-sampai kamu kehilangan sejuta akal dan logika yang dipersembahkan Tuhan kepadaMu, sehingga kamu melakukan apa saja asal itu bisa membuktikan bahwa kamu mencintai Kekasihmu? Tidak perlu yang terlampau jauh, tapi let’s say… yang dimaksud dengan melakukan apa saja itu seperti kamu mau-mau saja harus dikekang dengan dia yang otoriter. OK. Being sensitive is good, tapi kalau sampai membelenggu kaki-kaki kamu dalam melangkah dan bersosialisasi lalu membuat kamu hanya berada dalam satu rangkulannya saja… Hey! it’s no longer being sensitive… it’s a Hitler in disguishe! :)

Banyak contoh lain kebodohan-kebodohan yang terjadi ketika saya atau kamu sedang jatuh cinta seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Betapa naifnya saya dan kamu ketika bunga-bunga, berikut dengan kupu-kupu warna-warninya, tergambarkan dengan sempurna di hati. When love is in the air… sepertinya hidup menjadi jauh lebih menyenangkan! Read the rest of this entry »