Saya adalah seorang yang paling bisa membuat orang ‘membocorkan rahasianya’.
Ah.
Siapa bilang?
Sahabat blogger saya, si Kakak Kedua di the ‘famous’ (uhui!) Asunaros, EmiChan yang mengatakannya pada saya via chatting tengah malam, beberapa jam yang lalu.
Dan bukan Lala, si Tukang Ngeyel itu
, kalau tidak mengelaknya dengan beralasan, “Buat bahan cerita, Sis… Kan lumayan jadi bahan untuk menulis…”
Dan si Kakak itu pun langsung bilang, “Dasar!” Dengan emoticon ketawa lebar.
Haha…
Saya lantas ingat dengan sahabat-sahabat Gila saya, Si GangGila. Tidak sekali dua kali mereka bilang sama saya, “Lu musti kasih royalti ke kita, La… Kita kan udah berbaik hati mau-maunya jadi bahan elu nulis…”
Dan saya selalu bilang, “Lah, salah sendiri jadi orang kok banyak banget masalahnya… Ya gimana gua nggak ngiler buat cerita?”
Lalu biasanya, mereka nggak akan segan-segan untuk menjitak saya (ya, kecuali percakapan itu dilakukan di telepon! Teknologi belum secanggih itu, lah! UNTUNG! hihi).
Tapi, tapi, bukankah seperti yang dibilang teman saya, si Daniel Mahendra, bahwa ide untuk menulis bisa didapatkan dari mana saja dan semua hal bisa menjadi bahan tulisan? Jadi sah-sah saja kan, kalau saya terinspirasi dari hal-hal ringan (atau malah berat) yang terjadi di dalam kehidupan orang-orang terdekat saya, lalu mencoba untuk menuangkannya dalam bentuk kata-kata dengan harapan ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sana? (aih, aih…)
Dan siapa yang menyangka juga, bahwa ternyata, setelah saya mengulik-ulik isi blog saya ini, ada banyak tulisan yang terinspirasi dari cerita-cerita kehidupan sahabat-sahabat saya ini?
Hmm.. coba perhatikan deh…
Dari seorang LIN, saya bisa menuliskan cerita-cerita ini…
when you just can’t picture him in your fantasy
partner in culinary *yeah, Lin, it’s you ^_^*
Dari seorang LY, saya terinspirasi untuk menulis…
Dari YUN yang dibilang EmiChan sebagai perempuan yang paling keliatan ‘sadis’ dan ‘jangan macem-macem sama saya yah!’
, lahirlah cerita-cerita ini…
kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?
Seorang TAT yang hebat, telah membuat saya berhasil menuliskan ini…
can you really forgive someone?
Si ELS, si mungil yang kecil mirip upil itu (haha), telah membuat saya bisa sekali menuliskan satu cerita tentang hari bahagianya yang berjudul my bestfriend’s wedding.
Dan kelima orang hebat tapi gila dan super najiz itu (ah, but I love you, Guys!) juga paling bisa membuat saya bercerita panjang lebar, rada ngomel, tapi penuh kebanggaan saat menceritakan ini semua…
are you willing to let go or not?
See? Betapa banyak yang bisa saya tulis hanya dengan mendengarkan cerita mereka, mengulik kenangan-kenangan saya dengan mereka-mereka yang sableng tapi pinter dan menggemaskan itu (aduh, fitnah nggak sih kalau saya bilang mereka dalah makhluk yang menggemaskan? hihi). Bermodalkan telepon sampai tengah malam dengan Lin, bergosip dengan Tat saat dia sedang malas menciptakan makanan baru di pabrik tempatnya bekerja, ngobrol sampai larut di Starbucks dengan GangGila (minus Ly), lalu guyonan bak orang sinting via yahoo!messenger dengan Ly di Hongkong… saya bisa mempunyai banyak ide dalam menulis!
Dan benar..
Masih seperti yang dibilang Daniel Mahendra, bahwa segala irama dalam hidup saya adalah materi untuk menulis. Di saat saya sedang menghadapi masalahpun, sebetulnya adalah materi yang bisa ditulis. Katanya, penulis harus bisa mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya.
Aha!
Jadi nggak salah kan, kalau saya mencoba untuk mencari berita, dengan cara saya? Yang terkadang, saking kepengennya punya bahan menulis, saya menelepon Lin dan mengajaknya bertemu… Dan selalu saja, first thing that crosses in her mind is… “Lu mau jadiin ini sebagai bahan postingan blog elu ya, La?”
HAHA…
I am sorry Guys…
Saya musti memanfaatkan stolen stories ini…
Terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja…
Dan terlalu najiz untuk tidak dibagi-bagi dengan teman-teman blogger saya…
Ah..
I could never thank you enough, Guys!
(“Bisa kok, La.. pake royalti tiap bulan kalau buku elu sukses!” kata si Lin dengan cengengesan.. hihi)
Hihi.. luv ya all… Kalian akan terkaget-kaget kalau tahu betapa saya merasa sangat beruntung telah menemukan kalian di dunia ini!
PS. Ya.. dan kalian-kalian yang telah menginspirasi tulisan-tulisan saya… (dan memang cuma kamu yang tahu bahwa itu kamu — seringkali anonymous soalnya nggak tega euy! Haha…)
Things change.
People change.
People move on.
Kalimat ini adalah percakapan Joey dan Dawson, dua karakter utama di serial Dawson’s Creek yang mencetak prestasi hebat, sebelas tahun yang lalu. Kalimat itu diucapkan oleh Joey ketika ia hendak mengambil beasiswa di Perancis, sebuah excuses untuk menjauh dari Capeside, dari himpitan masalah-masalah keluarga di mana kakaknya menikahi lelaki negro dan Ayah yang masuk penjara, juga ketakutannya karena mencintai sahabatnya sendiri, Dawson.
Tapi Joey tidak menyadari, bahwa Dawson pun mengalami ketakutan kalau harus ditinggalkan olehnya.
Dan apa kata Joey?
“Things change, Dawson. People change, people move on…”
Ya.
Bahwa waktu akan mengubah semua hal.
Mulai dari ulat, kepompong, lalu menjadi kupu-kupu yang cantik.
Mulai dari luka yang menganga, lalu menjadi kulit yang lengkap.
Mulai dari rambut yang hitam, lalu berubah menjadi putih.
Dan ya…
Mulai dari nobody menjadi somebody.
Hmm…
Lalu saya teringat dengan sahabat-sahabat saya, GangGila, lima orang hebat dalam kemasan yang mungkin nggak banget
Dalam suatu percakapan yang agak serius di sebuah coffee shop favorit kami, Starbucks, sahabat saya, si Tat, menyeletuk begini.
“Eh, mungkin orang-orang di kampus kita dulu, nggak menyangka kalau kita semua ini bakalan ‘survive‘ sampai hari ini ya…”
Karena GangGila memang makhluk-makhluk manis (ehm!) yang super bandel di kampus. Meskipun nilainya tidak pas-pasan, tapi perilaku kami memang super annoying. Mahasiswi-mahasiswi yang bandel, yang susah diatur, yang dimana-mana selalu keliatan cuek dan cekakak cekikik dengan volume suara sangat keras dan bisa bikin telinga budek seketika!
Para dosen sampai angkat tangan. Aha! Mungkin mereka kesulitan untuk berkata-kata. Mau dimarahin, kok nilainya bagus. Mau nggak dimarahin, kok kebangetan bandelnya. Haha… What a year.. what a year…
Dosen pembimbing tugas akhir saja malah nyuruh saya nyanyi saja kalau sedang bimbingan. Di saat teman-teman yang lain deg-degan menghadapi pertanyaan-pertanyaan si Dosen Pembimbing yang galak, saya malah cengar-cengir. Dan percayalah, sahabat-sahabat saya yang lain pun demikian. Apalagi si Gebleg Lin. Dia itu jagonya!
Itulah kenapa, Tat bilang, “Apa mungkin ya, La, pas kita lulus dulu, kampus langsung bikin nasi tumpeng dan bikin syukuran diem-diem?”
Kami pun tertawa. Dan tentunya, masih dengan volume suara yang tidak berkurang seperti masa kami kuliah dulu. Haha. Inget umur, Guys!
“Tapi, tapi.. bener lho, La. Mungkin temen-temen kuliah kita dulu nggak akan menyangka kalau kita bisa seperti sekarang…”
Tat adalah perempuan hebat, sudah berkeluarga, dan memiliki karir cemerlang sebagai Kepala Divisi R&D di sebuah pabrik makanan yang berkonsentrasi ekspor.
Yun adalah akuntan yang canggih, paling encer soal urusan matematika dan pajak (sama sekali nggak nyambung dengan mata kuliah yang kami ambil dulu yaitu Teknologi Pangan dan Gizi!)
Lin adalah marketing di sebuah pabrik yang memproduksi Minyak Kayu Putih/Telon dsb dengan merek yang sudah terkenal di mana-mana..
Els adalah pegawai administrasi dan keuangan di sebuah pabrik sepatu yang berorientasi ekspor ke luar negeri, bersuamikan koki hebat ‘jebolan’ Amerika, dan mereka sedang merintis usaha rumah makan…
Ly adalah perempuan sableng yang kini bekerja di luar negeri, mengais rejeki sebanyak-banyaknya di sana lalu akan pulang membawa duit banyak akhir tahun ini…
Dan saya?
Ah.. kamu tahu lah, saya seperti apa..
Saat masih kuliah dulu, kami sering dianggap sebelah mata. Hanya bisa cekakak-cekikik. Hanya bisa begajulan nggak jelas. Hanya sekelompok manusia tanpa masa depan yang jelas. Enam orang yang hanya Badut-Badut penghibur kelas saja. Ah!
Betapa waktu telah mengubah apa saja.
Betapa waktu berkuasa penuh untuk membuat kami menjadi manusia yang lebih baik.
Dan membuat kami menjadi manusia dengan masa depan, yang setidaknya, tidak terlalu mendung
Seperti pemandangan yang saya lihat, beberapa bulan yang lalu, di sebuah mal dekat rumah.
Saya melihat seorang perempuan, cantik, berdiri di depan sebuah restoran, sambil membawa buku menu restoran tersebut dan sibuk menawarkannya pada para manusia-manusia yang lalu lalang di depannya. Saya tahu siapa dia. Siapa perempuan yang cantik itu, si Cantik yang kemudian menunduk ketika matanya menatap mata saya.
Dia adalah salah satu perempuan ‘hebat’ di sekolah saya. Si Cantik yang tergabung dalam Gang Gaul yang selalu terbungkus dengan pakaian trendy dan hanya mau bergaul dengan Si Cantik dan Ganteng saja. Saya adalah pengamat mereka. Saya adalah perempuan yang hanya bisa memandang mereka saja tanpa mimpi untuk bisa bergabung di dalamnya.
Ketika saya melewatinya, sapaan saya ternyata membuat dia rikuh. Entah apa yang ada di dalam isi kepalanya, ketika melihat saya lewat di depannya. Malu? Atau marah? Atau apa? Entahlah. Yang pasti, sejak saat itu, jarang sekali ia berani memandang saya, bahkan menyapa, ketika saya lewat di depannya (ya, mal itu adalah taman bermain saya!).
See?
Things change.
People change, people move on.
Waktu punya kekuasaan penuh untuk mengubah siapa saja. Bahwa segalanya tidak akan berhenti ketika segalanya masih bisa bergerak. Seperti halnya manusia yang bisa berubah, from nobody to somebody, waktu pun bisa sekali mengubah manusia, from somebody to nobody. Sehebat itulah waktu. Ya. Sehebat itu.
Selama nafas masih ada…
Selama itulah kamu akan berubah.
Menjadi apa?
Menjadi apa saja… Apa saja…
Menjadi orang hebat? Menjadi orang biasa-biasa saja? Menjadi orang yang seperti hari ini (tapi dengan keriput-keriput halus di sekitar mata dan bibirmu)?
Yang pasti…
Empat orang GangGila telah berubah…
Dari yang ini…
Empat orang mahasiswi yang masih sibuk mempersiapkan tugas akhirnya.
Menjadi seperti ini…
Empat orang perempuan yang sibuk hang out di coffee shop favorit, dengan uang sendiri
Ya.
Segala hal berubah.
Tidak terkecuali kita. Kamu dan saya.
Sekarang yang penting adalah: kamu ingin berubah menjadi bagaimana? Somebody? Or nobody?
Hm.
It’s all up to you, Guys..
It’s your decision, eh?
ps. Dari empat manusia itu, siapa yang paling berubah ya?
Dan ya.. posting ini sebetulnya diawali dari saya yang pingin narsis pamer photo masa kuliah dulu! hihi…