archives

Archive for October 9, 2008

I can make it through the rain…

Setelah lama kehilangan mood dan membuat hari-hari menjadi tak bercahaya, seperti yang saya tuliskan di sini, kemarin sore…

Setelah akhirnya saya melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk menerbitkan senyum itu kembali di wajah saya…

I am proudly saying….

That I am back :)

Dengan tulisan-tulisan yang mengalir lancar padahal belum lagi pukul dua belas siang (ah! sounds familiar! Ini kan saya, dulu! hihi)

Pecinta Hujan... tentang saya dan rasa cinta saya pada hujan

Lelaki Yang Menangis… tentang seorang lelaki yang jarang menangis lalu akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya…

Dan Sebuah Dialog di Malam yang Hujan… tentang seorang perempuan yang sedang kehilangan hasrat untuk melakukan apapun karena ketakutan-ketakutannya…

Adalah tiga cerita yang menjadi pertanda bahwa saya memang harus bisa menemukan mood saya dan bahwa benar seperti yang dibilang teman saya, bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup ini selalu bisa untuk menjadi bahan tulisan! Aih! Saya lupa. Sekarang saya adalah penulis (hihi… baru ngeluarin buku satu aja udah segitunya deh, La!)

Ahh…

Yang terpenting adalah… Saya tahu. Bahwa life wasn’t meant to be easy, anyway. Tapi Tuhan telah menciptakan saya untuk bisa menakhlukkan hal-hal yang bisa saya takhlukkan.

Seperti ketakutan yang tidak penting..

Seperti mood yang naik turun…

Dan seperti perasaan yang campur aduk.

Hell yeah!

I can make it through the rain! :D

When you get caught in the rain with no where to run
When you’re distraught and in pain without anyone

when you keep crying out to be saved
but nobody comes
And you feel so far away
That you just can’t find your way home
You can get there alone
It’s okay, what you say is

I can make it through the rain
I can stand up once again on my own
And I know that I’m strong enough to mend
And everytime I feel afraid I hold tighter to my faith
And I live one more day and I make it through the rain

And if you keep falling down don’t you dare give in
You will arise safe and sound, so keep pressing on steadfastly
And you’ll find what you need to prevail
What you say is

I can make it through the rain
I can stand up once again on my own
And I know that I’m strong enough to mend
And everytime I feel afraid I hold tighter to my faith
And I live one more day and I’ll make it through the rain

And when the rain blows, as shadows grow close don’t be afraid
There’s nothing you can’t face
And should they tell you you’ll never pull through
Don’t hesitate, stand tall and say-ay-yeah-yeah-hey-ey

I can make it through the rain
I can stand up once again on my own
And I know that I’m strong enough to mend
And everytime I feel afraid I hold tighter to my faith
And I live one more day and I make it through the rain

I can make it through the rain
And stand up once again
And I live one more day
And I can make it through the rain
(Oh, yes you can)
Ohh, You’re gonna make it through the … rain

(I Can Make It Through The Rain, Mariah Carey)

sebuah dialog di malam yang hujan

Hujan turun di depan sana. Seperti ribuan panah yang menancap ke tanah, lalu membasahinya.

Di balik jendela yang terbuka lebar, saya melihat seorang perempuan berdiri. Memandangnya. Memandang saja, dengan angan yang melayang-layang, menari-nari di antara ribuan panah air yang membuatnya ikut basah karena percikan tak sengaja.

Seorang perempuan yang seolah bisu, padahal hatinya ramai oleh gundah. Mata yang berkaca-kaca adalah jendela untuk mengintip ke dalam isi hatinya yang sesungguhnya.

Saya melihat wajah sendu itu. Air mata yang menetes itu. Lalu gerakan jemarinya yang berkali-kali mencoba untuk menghilangkan titik-titik air yang jatuh dari matanya itu.

Sebuah helaan nafas panjang terdengar sampai sini, sampai ke tempat saya berdiri. Ke indera pendengaran seorang saya yang ingin segera menghampirinya, lalu bertanya padanya, lalu mendengarkan seluruh ceritanya, lalu mengusap belakang kepalanya… dan membiarkannya menangis, membiarkannya terisak di bahu saya.

Ah,
Perempuan!
Mengapa harus menangis, sementara tetesan air hujan di depan hidungmu itu tertumpah dengan sempurna dari langit gelap di atas kepalamu?
Mengapa harus menangis, kalau kamu benar-benar mencintai hujan dan juga mencintai hidupmu?

Bermenit-menit kemudian, dia masih ada di sana. Memandang hujan sambil matanya menerawang. Ia berhenti menangis, sekarang. Ia memilih untuk menumpu wajahnya dengan kedua tangannya.

Saya mendekatinya.

“Kamu kenapa?” tanya saya, setelah ia menoleh dan tersenyum. Ah, air mata itu masih menggenang sedikit di sudut matanya. “Masih ketakutan?”

Ia diam saja.

“Kenapa harus takut?”

“Kenapa kamu tidak takut?” Dia menoleh, balik bertanya, dan menatap saya lekat-lekat dengan kedua matanya yang bulat.

“Untuk apa harus takut pada semua hal yang sifatnya pasti?”

Ia lalu diam, tapi kedua bola matanya menuntut penjelasan lebih dari mulut saya.

“Kematian… Hm, bukankah itu datangnya memang sudah pasti, kan? Kamu lahir untuk mati, bukan untuk bersenang-senang saja tanpa batas. Itulah kenapa ada hal yang disebut sebagai Waktu. Karena dengan adanya waktu, berarti memang ada batasan untuk segala hal, termasuk hidup.”

Dia masih diam.

“Lalu soal kekhawatiranmu tentang penolakan-penolakan dari orang itu… hey, bukankah kamu sendiri pernah bilang kalau kamu tidak akan pernah bisa membuat semua orang merasa nyaman dengan segala tingkah lakumu, kan? Tak bisa kamu memaksa orang lain untuk jatuh cinta dan tak bisa pula kamu melarang orang lain untuk membenci. Itu hak mereka dan bukan kewajiban mereka untuk selalu jatuh cinta kepadamu. Kamu punya hak untuk sedih.. tapi buat apa? Ini sifatnya sudah pasti, kok. Ini adalah bagian dari kehidupan. Dicintai atau disakiti. Tergantung bagaimana kamu akan bersikap setelahnya, kan? Itu yang dihitung.”

Raut wajahnya mulai berubah.

“Hey… ketakutanmu pada masa lalu itu sebaiknya diselesaikan saja, lah. Seharusnya kamu bersyukur pada masa lalu…”

“Kenapa?”

“Kenapa? Ya karena dengan masa lalu itulah kamu menjadi kamu yang sekarang… Kamu tidak hidup meloncat-loncat dari satu ruang waktu ke ruang waktu lain seperti film Quantum Leap itu kan? Kamu ada di sini, di malam yang dingin dan berisik ini, karena masa lalu yang menggiring kamu ke sini kan? Kamu harus berterimakasih. Sangat, sangat berterimakasih.”

Dia melemparkan pandangannya ke luar jendela. Hujan masih berisik.

“Dan kamu tahu…”

“Apa?”

“Untuk apa kamu takut akan masa depan? Bukan urusan kamu, Sayang. Yang menjadi urusan kamu adalah melakukan segalanya dengan sebaik-baiknya pada masa sekarang. Be a better you, everyday. Dan kamu tahu? Masa sekarang adalah masa depan di masa lalu, bukan? Buktinya kamu bisa survive kan? Meskipun menangis-menangis nggak penting seperti ini…” Saya menggodanya.

Dia tersenyum.

“Sudah deh. Keluar dari tempurungmu, lalu pergilah bersenang-senang. Telepon sahabat-sahabatmu, ajak mereka ngopi atau cekakak cekikik di coffee shop.. Atau, atau… Sana. Pergilah ke halaman depan, lalu menarilah di bawah hujan!”

“Dan saya jadi seperti artis film Bollywood?” Dia menyeletuk sambil menahan tawa.

“Oh, ya nggak dong. Mana ada artis Bollywood yang badannya sebesar karung beras begini?”

Dia mencubit lengan saya dan membuat saya meringis kesakitan.

“Kamu ini… paling bisa deh…”

“Bisa apa?”

“Bikin saya tertawa…”

“Bukankah saya memang ada di sini, untuk membuat kamu selalu tertawa dan bahagia saja?”

Dan si perempuan bermata bulat itu tersenyum lebar. Ia merangkul saya erat-erat sambil berkali-kali mengucapkan kata terimakasih dengan suara yang bergetar.

Ah!

Saya ikut menangis!

Saya memang tak pernah bisa menahan air mata yang tumpah otomatis setiap perempuan ini sedang bahagia atau malah gundah gulana. Tapi tangisan malam ini, adalah tangisan yang benar-benar tak terdeskripsikan dengan ribuan kata.

Karena melihat perempuan ini bahagia… adalah kebahagiaan sejati seorang saya.

Seorang perempuan bernama Lala.
Dan seorang saya… hatinya.

Lelaki yang Menangis

Lelaki itu jarang sekali menangis.

Dalam hidupnya yang sudah tiga puluh tahun lebih itu, hanya beberapa kali ia menangis. Tangisan yang tak terhitung dan tak pernah terekam dalam pita rekaman otaknya sendiri adalah ketika ia masih bayi yang baru lahir dari perut Ibunda tercintanya. Lalu tangisan-tangisannya ketika masih balita, berebut botol susu dengan kakak perempuannya..

Lalu tangisan yang meraung-raung ketika si Lelaki kecil itu terjatuh dari sepeda, untuk pertama kalinya… Tangisan-tangisan yang hanya terceritakan oleh mulut orang lain dan membuat senyumnya tercetak begitu lebar di wajah bulatnya, dengan rambut-rambut kasar yang tumbuh rapi di bagian dagunya.

Tangisan yang mulai bisa terkenang dalam isi kepalanya adalah…

Ketika sang Ayah mencecarnya dengan kalimat-kalimat bernada tinggi dan ini baru terjadi untuk pertama kalinya ketika ia menginjak usia awal belasan. Dia menangis… Karena ia tak menyangka bahwa Ayah yang
dipikirnya tidak akan pernah memukul bahkan mengeluarkan kata-kata kasar, malah memukulnya, menceramahinya panjang lebar, dengan mata yang menyala merah!
Tapi ia menangis juga karena ia merasa bersalah… Bersalah kepada adik kecilnya, yang menangis hebat karena ulah nakalnya… Kursi kayu yang tadi menjadi teman bermainnya telah menimpa adik kecilnya sampai terluka… Ia menangis, karena memang ia merasa sangat bersalah…

Ketika si Lelaki bertengkar hebat dengan wanita yang dicintainya, yang menjadi sahabat terdekatnya selama sembilan tahun… ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri saja, padahal cinta masih menjadi denyut untuk jantungnya.. Tangisan itu terekam sempurna dalam otaknya. Sama sempurnanya dengan tangisan bahagia ketika ia akhirnya menikahi si Perempuan pujaan yang juga sekaligus sahabatnya itu, setahun kemudian.

Tangisan berikutnya datang mendadak dan begitu cepat.

Ia menangis ketika harus melihat Ibunda tercintanya sedang menghadapi Malaikat Maut yang menjemputnya tiba-tiba, di suatu siang yang sedang panas-panasnya. Di mata kepalanya sendiri, ia melihat sang Ibunda
tersengal-sengal, dengan mata terbelalak, lalu perlahan-lahan.. tubuhnya melemas… dan matanya mengatup sempurna. Nafas itu, hilang sudah.

Saat itu si Lelaki tidak sendirian.
Ada Ayahnya.. Ada Kakak Perempuannya… Juga adik kecilnya yang lalu meraung-raung tanpa henti di sisi tubuh Ibunda yang mendingin.

Sejak saat itu, ia jarang sekali menangis.

Mungkin hanya sedikit menitikkan air mata saja, tapi tidak menangis sambil meluapkan seluruh isi hatinya. Ia hanya menangis, sedikit saja. Tidak seperti tangisan-tangisan sebelumnya.

Bertahun-tahun, ia tidak menangis hebat.

Lelaki itu memang bukan lelaki yang berhati sensitif, sehingga jarang sekali ia menangis. Beda sekali dengan si Adik yang bisa saja menangis hebat hanya karena menonton drama seri di layar televisi kamarnya. Ia bukan Lelaki yang mudah menangis. Ia adalah lelaki yang mungkin (malah) tak ingin menangis.

Tapi ia tetaplah seorang manusia biasa…

Yang memiliki rindu.
Yang memiliki rasa takut akan kehilangan.
Yang memiliki jutaan rasa yang berkecamuk hebat ketika ia marah.

Ia tetaplah manusia yang bisa menangis.

Kala hatinya benar-benar sedih…
Atau benar-benar terluka…
atau benar-benar takut…
akan kehilangan.

Dan benar saja.

Ketika rasa rindunya kepada sang Ayah membuncah dan meluluhlantakkan rasa egonya. Ketika ketakutannya akan kehilangan sosok Ayah untuk selamanya… Ketika ia sangat, sangat ketakutan akan hilangnya kesempatan untuk bertemu kembali dengan sang Ayah yang sudah lama tak terlihat dalam batas pandangnya hanya karena rasa segannya untuk memaafkan… Di suatu siang yang panas…Di awal sebuah bulan yang menjanjikan kembalinya hati menjadi putih bersih…

Ia merangkul Ayahnya.
Lalu ia menangis.

Tangisan pertama, yang tak pernah terlupakan olehnya.
Juga oleh si Kakak perempuan.
Juga oleh si Adik perempuan,
yang ikut menangis bersamanya.. merangkul Ayah mereka.

Dan siang yang terasa panas itu, entah kenapa, malah mengademkan segala panas yang bergelora
di dadanya.

Ya, di dada seorang Lelaki.

Lelaki yang menangis.

Pecinta Hujan

It's raining.... Saya adalah Pecinta Hujan.

Saya mencintaiĀ  hujan dan bau tanah basah sesudahnya. Entah bagaimana awalnya atauĀ  kapan saya memulainya, tapi rasa cinta saya pada hujan sungguh membuat saya begitu merindukannya ketika Matahari di belahan kota Surabaya begitu garangnya bersinar dari atas sana.

Saya jarang sekali mencintai Matahari, biarpun dia bisa mengeringkan pakaian-pakaian yang saya jemur di loteng rumah.

Walaupun saya butuh juga energinya untuk membantu proses fotosintesis tanaman-tanaman di dalam pot-pot yang tertata di halaman depan rumah saya.

Oh tentu, saya membutuhkan matahari dan segala manfaatnya.

Tapi apakah salah kalau saya lebih mencintai hujan? Ya, hujan yang turun perlahan, dengan hujamannya yang menusuk ke tanah dengan kecepatan lambat lalu membasahi rambut saya, wajah saya, dan ya, tubuh montog saya ini (haha)… lalu tanah. Ya, tanah. Tanah yang kemudian menarik masuk air hujan ke dalam pori-porinya, lalu mengeluarkan bau harum yang luar biasa! Ah! I love the smell… really do…

Sudah lama sekali saya tidak mencium harum tanah basah yang membasah karena hujan.

Entahlah, terasa berbeda sekali kalau bau yang keluar adalah karena siraman air yang keluar dari pipa-pipa air atau semprotan selang dari keran.

Mungkinkah ini karena saya masih menikmati langit yang mendung saat mencium baunya?

Ataukah mungkin karena saya membiarkan angan-angan saya mengembara jauh, berkhayal tentang keindahan-keindahan duniawi yang pernah terjadi bertahun-tahun di belakang, ketika saya dan orang-orang tercinta beramai-ramai memilih untuk duduk di kursi teras, dan menikmati titik-titik air itu jatuh dan terkadang membasahi kami yang asyik tertawa dan bercanda?

Ah..

Sungguh, saya tak tahu mengapa saya mencintai hujan dan harum tanah basah sesudahnya..

Sungguh, saya juga tak mengerti kenapa baunya terasa begitu sempurna di hidung saya…

Juga mengapa saya lebih memilih untuk berhujan-hujan saja ketimbang meminggirkan kendaraan lalu berteduh bersama banyak orang.

Sungguh.
Saya benar-benar tak tahu.

Tapi yang pasti…

Ketika hujan turun kemarin malam… dan menyambut langkah kaki saya yang baru saja menuntaskan kekangenan saya pada salah satu sahabat saya, dengan nonton bersama dan minum kopi sambil bercanda-canda… I just know, that I’m still in love with it

Ya, hujan.
Saya sangat mencintai kamu…

I’m singing in the rain
Just singing in the rain
What a glorious feelin’
I’m happy again
I’m laughing at clouds
So dark up above
The sun’s in my heart
And I’m ready for love
Let the stormy clouds chase
Everyone from the place
Come on with the rain
I’ve a smile on my face
I walk down the lane
With a happy refrain
Just singin’,
Singin’ in the rain

(Singin’ in the Rain, Gene Kelly)

Psssttt…

Tapi jangan bawa semua pasukanmu untuk membasahi bumi ini, ya? Saya takut kebanjiran, nih! hihi..

Catatan Harian

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers