Usai menonton film Cintapuccino. Chicklit Indonesia pertama yang kemudian dibuat versi layar lebarnya. Cerita cinta sederhana. Tentang Rahmi yang begitu mencintai Nimo semenjak SMA tanpa pernah memberitahu lelaki itu soal cinta yang ia rasakan. Sampai kemudian, setelah bertahun-tahun terpisah, Nimo menemui Rahmi.. menyatakan cinta.. dan berkata bahwa selama ini ia mencari Rahmi, perempuan yang ia yakini sebagai cinta sejati. Sialnya, Rahmi baru saja bertunangan dengan lelaki baik dan ganteng bernama Raka.
Cerita diakhiri dengan Raka yang memilih untuk menunggu Rahmi benar-benar mencintai dirinya saja dan melepaskan diri dari belenggu obsesi masa lalunya terhadap Nimo. Dan setelah Rahmi mengalami dilema di dalam hatinya, dia pun memilih Nimo.. obsesi cinta terbesarnya selama sepuluh tahun.
Happy end.
Nimo dan Rahmi berpelukan penuh cinta…
..
… lalu, lalu.. Bagaimana dengan Raka?
Tak ada cerita di situ, tentang Raka yang sakit hati.. tentang Raka yang mungkin masih berjuang untuk melupakan mantan tunangan yang begitu dicintainya.. tentang Raka yang masih berharap pada kesetiaan Rahmi… dan mungkin tentang angan-angan tololnya untuk melihat bintang jatuh dan membisikkan keinginannya..
Tidak ada cerita tentang lelaki baik hati itu.
Dan mungkin, tidak ada yang peduli.
Hh…
Entah kenapa, ketika film itu berakhir, kok saya jadi tidak bersimpati dengan kebahagiaan si Rahmi dan Nimo ya? Saya malah berpikir bahwa Rahmi adalah perempuan jahat yang sudah menyakiti hati seorang tunangannya, calon suaminya, yang bulan depan akan menikahinya.
Tapi, tapi…
Soal jahat atau tidak, bukankah itu sangat subjective? Image Rahmi yang jahat belum tentu menempel di benak penonton yang lain. Bisa jadi yang lain menganggap bahwa kisah cinta Rahmi dan Nimo adalah kisah cinta romantis, bahwa mereka memang meant to be together.
Namanya juga isi kepala orang yang berbeda; sah-sah saja untuk menilai sesuatu. As simple as that.
Argh…
Now I’m confused.
Sebetulnya si Rahmi itu jahat atau nggak, ya?
Atau Raka memang sebetulnya tak perlu berdiri di antara cinta sejati Rahmi-Nimo?
Aduh. Pusing.. pusing!
Untung ini nggak terjadi dalam hidup saya… hihihi… (si Karung Beras a.k.a Lala ini nggak mungkin juga direbutin sama banyak lelaki… ups, kecuali kalau lagi krisis sembako kali yee…) Karena kalau ini kejadian *yang nggak mungkin juga, sih! hihi*, sumpah mati bakal ada Cintapuccino the sequel! Haha…
Eh, eh.. btw, yang jadi Nimo, sumpah ganteng banget!
Ps. Iya, iya.. I know… film ini udah rilis setahun kemarin… novelnya pun sudah bikin heboh sejak 2004 lalu… I know that… I do!