Karena cerita saya di posting berjudul JakartaPhobic, teman-teman langsung ‘menuduh’ saya masih belum bisa melupakan masa lalu saya. Mereka beranggapan, kalau segala ketakutan saya menjelang liburan 10 hari di Jakarta di akhir bulan Juli kemarin, adalah semata-mata karena saya belum bisa berdamai dengan masa lalu saya… yang bernama Orang Jelek; a supposed to be great guy that turned out as a bad one. Dan segala ketakutan saya terhadap Jakarta adalah bentuk manifestasi rasa cinta yang masih saya rasakan.
Bahkan, orang hebat satu ini bilang, “Tidak bisa tidak, kamu masih terpaut padanya!”
Dengan alasan apapun, dia masih keukeuh bilang hal yang sama. Itu artinya: Saya belum bisa melupakan masa lalu… In a nutshell, seorang Lala masih hidup di masa lalunya… tidak berpijak di masa kini…
Seperti yang dibilang Pacar ketika kemarin kami asyik ngobrol kangen-kangenan, tiba-tiba dia menyinggung soal bisakah saya menghadapi masa lalu saya kalau suatu saat kelak saya bekerja di kota Jakarta, kota yang dulu sempat jadi kota Terganas dan Terjahat… khususnya buat seorang perempuan dua puluh delapan tahun bernama Lala alias saya ini.
Segalanya tentang ketidakmampuan saya menyelesaikan urusan masa lalu saya.
“Can you deal with the fact that today is today and yesterday is past?”
Sepertinya itu yang terpikir di benak Pacar yang mungkin sampai hari ini masih meragukan bahwa apapun itu, tidak akan sedikitpun mencuri rasa cinta saya buat dia.
Karena memang…
Seperti yang dibilang salah satu sahabat saya… Saya ini, adalah manusia yang hidup di masa lalu.. Tidak berani menghadapi masa depan… atau orang yang ingin stand still… menikmati apa yang ada sekarang sambil membiarkan imajinasi melayang ke masa lalu… tanpa menikmati apa itu mimpi masa depan…
Benarkah?
Apakah saya hidup di masa lalu?
Tak bisa melepaskan diri dari kukungan masa lalu?
Terjebak dengan kisah-kisah bertahun-tahun kemarin yang masih menyisakan luka, pedih, atau bahagia?
(seperti posting saya belakangan ini yang tak jauh-jauh dari Mami, Mami, dan photo-photo jadul yang membuat saya tersenyum sendiri saat melihatnya)
Tapi apakah itu dengan semerta-merta menjadikan saya sebagai orang yang takut untuk bermimpi tentang masa depan?
Senaif itukah segala faktor itu membuat saya ditahbiskan sebagai perempuan yang tak ingin kemana-mana selain di sini saja?
Hmm…
Mari kita lihat, di bagian masa yang mana saya tinggal.
Kemarin?
Hari ini?
Atau Esok Hari?
Let’s take a look…
You Live in the Present |
![]() You take things one day at a time.And it turns out, that’s a pretty great way to live.You aren’t consumed by the past, and you’re aren’t obsessed with the future. You live in the now, and you enjoy each moment. While most people don’t live in the present enough, make sure you don’t live in it too much. It would be a mistake to forget your past or neglect to plan for the future.
|
