(Mi Familia Quiz) Siapa Mirip Siapa?

Warning:

Ini adalah postingan narsis. Barangsiapa yang sedang dalam kondisi mual, tidak enak badan, migrain, flu berat, dan segala penyakit lainnya, mohon berhati-hati dalam membaca blognya Jeung Lala kali ini.

Masih nekat?

… Beneran?

Jangan salahkan saya lho ya.. kalau tiba-tiba kalian merasa mual mendadak dan repot-repot cari tas kresek untuk menumpahkan segala yang mengganjal di tubuh kalian… hihihihi…

Karena apa?

Karena ini adalah ajang pamer photo sekalian mau nanya sama kalian: SIAPA MIRIP SIAPA?

Di bawah ini adalah photo orang tua saya… Papi dan Mami yang saya cintai…

Ini si Papi-nya Lala yang ganteng… :)

My Dad, My Hero

My Dad, My Hero

Dan Mami-nya Lala yang cuantik tenan…. (Mom!!! Kok Lala ga bisa semancung dirimuh???!!!)

My Mom.... my light in the darknes...

My Mom.... my light in the darknes...

Dan di bawah ini adalah photo ketiga putra putrinya yang bandel (ups, maksud saya, cuman Si Bungsu aja yang bandel… Sulung dan Tengah sih  beres semuah! hehe).

Si Sulung, Mbak Pit…

My Role Model

Mbak Pit: My Role Model

Si Tengah, Bro…

My So Called Guardian Angel

Bro: My So Called Guardian Angel

Dan si Bungsu, Lala…

si Bungsu Bandel

Lala: si Bungsu Bandel

Sudah puas mengamati photo saya yang centil dan menggemaskan itu (hey, saya sudah peringatkan kamu supaya hati-hati saat membaca posting ini kan??? Bukan tanggung jawab saya kalau masih kepingin muntah mendadak! Wekekekeke)?

Nah, tugas kamu… Teman-teman saya tercinta…. Tolong perhatikan. SIapa yang lebih mirip dengan siapa.

Siapa yang mirip Mami….

Siapa yang mirip Papi…

Dan siapa yang versi blendednya alias campuran di antara keduanya…

psssttt.. sekalian sama alasan-alasannya ya? (idih, Lala.. udah postingan narsis, pake acara maksa, pula! hahaha)

Mmm.. kenapa tiba-tiba saya nanya begitu?

Karena dari sekian banyak orang yang melihat dan memperhatikan, katanya saya lebih mirip Papi daripada Mami… Ahhh… kok anak perempuan bisa mirip kayak Ayahnya sih…. Garang dong kalau gituh.. (walaupun iya juga sih, saya emang mirip kayak satpam! hahaha)

Dan, dan… oh ya.. katanya nih, Mbak Pit juga mirip sama saya… Tapi lucunya, Mbak Pit dibilang mirip Mami sedangkan saya malah mirip Papi! Lha??? Kalo gitu, kok saya bisa dibilang mirip Mbak Pit??? Piye tho…

So..

So…

What dya think, Guys?

Feel free to insult me! (“Tapi masa sih kalian tega menghina orang sebaik saya??” kata Lala sambil mengerjapkan kedua kelopak matanya dengan centil dan penuh pengharapan.. hihihi)

just because of a bracelet…

Suatu malam, saya membeli sebuah gelang. Dengan tali double berwarna hitam dan ada huruf-huruf dari bahan monel dengan batu permata (imitasi) yang nampak bling-bling. Gelangnya sendiri cukup sederhana, cuman barisan huruf berkilauan yang membentuk nama saya alias LALA sehingga membuat gelang ini cukup menarik.

Tapi…

Saya sempat dibikin jengkel karenanya. Kenapa begitu? Karena ternyata, memakai gelang ini sangat susah! Gelang dengan nama saya itu tidak seperti gelang yang biasa saya pakai, alias tanpa model pengait segala. Gelang baru ini malah memiliki dua pengait (karena tali yang dobel itu tadi) sehingga saya nggak hanya kerepotan sekali, tapi sampai dua kali! :(

Di atas ranjang malam itu, saya heboh sendiri melakukan segala macam usaha untuk mengaitkan gelang tersebut sehingga bisa terlingkar dengan manis di pergelangan tangan kanan saya. Mulai acara menggigit ujung kiri lalu berjuang memasukkannya di lubang rantai kanan, sampai harus pakai acara mengempit ujung yang satu dengan jari-jari kaki segala!

Intinya cuman satu : SUSAH!!! :)

(malah mungkin, kalau malam itu saya iseng mendokumentasikan peristiwa langka itu, saya berani jamin kalau kalian mengira sedang melihat acara sirkus di mana gajahnya sedang akrobat! hahaha)

Dan ketika saya akhirnya menyerah karena sudah tak mungkin lagi memakai gelang itu tanpa bantuan siapapun, dengan segera pikiran konyol ini terlintas dalam pikiran saya: “Coba kalau aku punya suami, pasti deh nggak akan ada cerita aku bikin atraksi akrobat segala seperti ini…”

karena pasti, dengan mudahnya saya akan minta tolong dia dan masih dengan mudahnya, dia akan mengaitkan gelang ini, dalam waktu tidak lebih dari satu menit saja…

Pikiran konyol ini membawa saya kembali ke salah satu scene di serial favorit, Sex and The City. Saat itu, Samantha memiliki kesulitan yang sama ketika memakai gelang berlian menjelang pernikahan kedua Charlotte York, sahabatnya. Dia sampai bergulingan di atas kasur, terjatuh-jatuh, terguling-guling… dan berkeringat.. dan jengkel.. dan marah-marah…

Then what did she do?

Hm, dia menelepon pacarnya, mengajak si Pacar untuk have sex with her, lalu setelah itu… minta tolong si Pacar untuk membantunya memakai gelang!

SAMPAI SEGITUNYA!!

Seketika itu saya langsung sadar.

Apakah senaif itu? Hanya karena saya kesulitan memakai gelang lantas dengan semerta-merta saya merasa betapa beruntungnya memiliki seorang Suami? Dan menggebu-gebu segera ingin menikah? Yang mungkin, akhirnya bisa jadi melupakan apa esensi dari pernikahan itu sendiri…

Pernikahan bukan sekedar finding a husband or wife to live together… hopefully till forever…

Tapi menurut saya, pernikahan adalah having a partner to make our lives better than ever… happier than it used to be… and stronger to struggle in life…. ever after.

…bukan sekedar untuk dimintai bantuan memakaikan gelang.. membetulkan genting.. memasakkan nasi… memuaskan nafsu biologis.. dll.. dsb

Setelah sadar pada konsep pernikahan yang saya inginkan, pada esensi sebuah pernikahan yang saya tahu, akhirnya saya meletakkan gelang tersebut di dalam tas, sambil berkata dalam hati, “Ah, besok pagi minta tolong Mbak Ira aja ah….”

And yes…

I was smiling.