… yes Mom…
Dan hari-hari itu datang lagi.
Hari-hari yang terlihat spesial dan secara otomatis membuat otak saya berpikir kembali tentang kehampaan hidup anakmu ini tanpa kehadiran seorang Ibu yang dulu hadirnya bikin saya terganggu dan baru saya ketahui makna cintanya ketika sosoknya menjauh dari jangkauan jemari.
Hari ketika Mami menghembuskan nafas terakhir, persis di pelukan Papi, persis di depan mata seorang anak bungsu berusia 22 tahun yang tak tahu apa yang harus dia lakukan, telah menerbitkan air mata. Setiap 7 Juli, a repetition mode tentang kesedihan yang tak pernah bisa terlupakan. Hari ketika saya kehilangan Ibu tercinta, ketika saya menyadari bahwa mulai hari itu, tidak ada suara perempuan berumur lima puluh tiga yang akan mencereweti segala kelakuan badung saya… Atau membuat ponsel saya berdering dan menyuarakan pertanyaan-pertanyaan yang (dulu) sangat mengganggu… Hh, tidak akan pernah ada lagi. Tidak akan pernah.
Lalu tanggal 21 Juli… Hari kelahiran Ibunda tercinta. Setiap tanggal itu, saya seperti berjuang meredam segala kesedihan saya. Melawan segala rasa sakit karena kangen yang tak terlampiaskan. Mencoba untuk terus meyakini bahwa memang tidak akan pernah ada provider ponsel yang bisa memberikan akses ke dalam six feet under, tempat jasadnya terkubur dalam tanah basah di suatu pagi, enam tahun yang lalu. 21 Juli adalah hari yang selalu menerbitkan air mata; meskipun tahun ini, saya telah berhasil melaluinya dengan baik. Tidak ada air mata kesedihan di tahun ini, Mom. Bukan karena Lala nggak kangen sama Mami, tapi karena Lala tahu, bukan air mata si anak bungsu yang Mami butuhkan, melainkan doa dari seorang anak perempuan sholihah yang katanya bisa memuluskan jalan Mami ke surga (hey, Mom! I’ll do my very best, okay! It’s a promise….)
Lalu hari Ibu…. Hari yang diperingati setiap tanggal 22 Desember untuk mengingatkan kembali betapa berartinya peran seorang Ibu buat anak-anaknya. Ketika stasiun televisi berlomba-lomba menyuguhkan kisah-kisah indah tentang hubungan seorang Ibu dan anaknya, saya memilih untuk mematikan televisi dan berdiam di kamar. Menyesali, betapa saya telah menyia-nyiakan 22 tahun dalam hidup saya untuk menghargai seorang Mami. Menyesali, betapa 22 tahun ke belakang saya tak tahu bagaimana caranya untuk mensyukuri bahwa Mami adalah anugerah Tuhan yang sewaktu-waktu bisa ‘diculikNya’ pulang… Saya hanya ingat, sekali saja saya mengucapkan, “I love you, Mom” pada suatu 22 Desember tahun 1994, sambil mengulurkan kertas-kertas kupon yang bertuliskan: Pijat 30 menit sebanyak sepuluh lembar. Dan saya ingat, Mami tersenyum lalu mengecup ubun-ubun saya. Kecupan yang saya anggap biasa saja tapi kini saya rindukan.
Dan yang paling membuat saya tak bisa berhenti memikirkanmu, Mami… adalah ketika menjelang bulan puasa seperti ini. Ya, hari-hari panas di Surabaya yang musti kita lewati dengan perjuangan. Do you remember, ketika kita berdua nggak tahan menahan suhu Surabaya yang panas dan memilih untuk berendam di dalam bath tub berisi es batu? Dengan maksud agar kita nggak merasa kehausan karena suhu yang panas? Remember that, Mom? Kita baru keluar hanya pada waktu Sholat saja dan berendam lagi sesudahnya?
Coz I remember that Mom…
As I remember dengan segala hal-hal kecil yang Mami lakukan saat mempersiapkan sahur buat anak-anaknya. Tak pernah ketinggalan menu wajib rendang daging dan paru. Juga opor ayam. Lalu menu buka puasa seperti setup nanas dan kolak pisang yang selalu terhidang di meja makan; sebagai usaha untuk menyenangkan hati anak-anakmu yang seringkali bikin Mami mengelus dada…
Lalu apa lagi, Mom?
Lebaran?
Ah, no question. Lebaran tanpa seorang Mami tercinta adalah cobaan yang luar biasa berat, Mi. Apalagi ketika berziarah di pusara Mami, memanjatkan doa sekaligus meminta maaf atas segala alpa dan khilaf, membutuhkan kekuatan yang luar biasa. Can you imagine how I feel Mom? Berdiri di atas tanah yang mengubur jasadmu? Berdiri di atas tanah yang membungkus segala penglihatanku darimu? Lala bisa frustasi, Mi! Dan ketahuilah, perjuangan untuk tidak menangis di atas pusaramu adalah perjuangan yang sungguh dahsyat…
Yes, Mom…
Kini hari-hari itu datang lagi.
Hari-hari yang menguras energi dan air mata karena saya harus berjuang melawan segala kesedihan karena harus kehilangan Mami.
Sebentar lagi, saya musti berpuasa tanpa Mami… once again.
Menyiapkan sendiri sahur dan buka tanpa Mami… once again.
Lalu bathub itu Mi? No more bath tub moment… No more…
Puasa.
Dan Lebaran.
Seperti mata uang dengan dua sisinya. I love it… but I hate to see the fact that I’m not with my Mom anymore…
Tapi hey….
Saya jadi bertanya-tanya lagi.
Is there any particular day that I don’t miss my Mom? Is there any specific day that I don’t even think of her in my mind?
…
…
Is there any, Lala?
Hmmm…
Karena ternyata…
Setiap hari…
…is my Mommy’s day.
I love her, everyday.
Now…
and ever.
(mmmuachhh, Mami……. kangen Lala nggak?)