Seorang Sahabat selalu iri dengan perempuan-perempuan bertubuh langsing, berkulit putih, berambut panjang hitam tebal dan bergelombang ala salon, wajahnya cantik… Penampilannya ala peragawati. Dan setiap lantai di mal adalah runway tempat mereka berlenggak lenggok dengan cantiknya.
Seorang Sahabat yang lain selalu iri dengan tas yang ditenteng di tangan Si Cantik-Cantik itu. Atau ponsel canggihnya. Atau merk pakaiannya. Atau kaca mata yang bertengger di wajah mereka.
Sahabat-sahabat saya iri dengan penampilan fisiknya. Dengan apa yang mereka tenteng ke sana kemari. Ya. Termasuk lelaki-lelaki ganteng berduit yang biasanya ada di samping mereka seperti layaknya bodyguard yang dadanya membusung karena merasa bangga *hey, ada seorang bidadari di sebelah mereka, bergayut manja di sebelah mereka, masa tidak bangga sih?*.
Pertanyaannya.
Apakah seorang Lala juga mencemburui semua itu? Menderita lahir batin melihat pemandangan-pemandangan itu?
Hm.
Wanna know my honest answer?
OF COURSE I’M JEALOUS!
Saya masih perempuan normal yang mencemburui perempuan-perempuan yang jauh lebih beruntung dibandingkan saya. Kalau saya tidak iri dengan perempuan bertubuh langsing, cantik, dan memiliki segala yang tidak saya punya.. well… saya pasti sudah sekelas biksu yang tidak mementingkan duniawi sama sekali. Saya tetaplah perempuan biasa-biasa saja yang merasakan kecemburuan ketika melihat perempuan lain dikaruniai kelebihan yang tidak saya punya. Hm, buat saya ini wajar. It happens a lot. Jadi, saya tidak merasa sendirian.
Tapi, untuk jawaban yang jauh lebih jujur lagi… Sebenarnya, saya jauh lebih cemburu dengan perempuan-perempuan yang PANDAI. Ahli dalam pendidikan, hebat dalam pekerjaannya, jago dalam dunia yang dia geluti, dan.. ya.. knows what she’s doing.
Saya paling mencemburui perempuan-perempuan yang isi kepalanya sungguh luar biasa. Dibandingkan perempuan super cantik, saya lebih cemburu dengan perempuan yang berpenampilan fisik biasa-biasa saja tapi dia seorang Ahli Fisika, misalnya. Penulis hebat, misalnya. Seorang Sutradara luar biasa, misalnya. Atau… seorang Ibu Rumah Tangga jagoan dari Tokyo, Emi-Chan, yang bisa melakukan apa saja, yang tahu apa yang harus dia lakukan, dan tahu persis bagaimana cara mewujudkannya.
Saya akan menjadi sangat sangat cemburu kalau harus berhadapan dengan orang yang jauh lebih pintar, jauh lebih hebat, jauh lebih kenyang pengalaman hidup, dibandingkan ketika berhadapan dengan orang yang cantik.
Terkesan munafik-kah saya, dengan menganggap bahwa isi kepala jauh lebih penting ketimbang mulusnya kulit seseorang?
Terkesan berlebihan-kah saya, dengan menganggap bahwa yang terpenting adalah prestasi kerja seseorang di bidang yang ia geluti, ketimbang rambut yang tergerai indah dan tubuh langsing berbalut pakaian ala designer?
Hah.
Munafik…
Atau berlebihan…
Biarlah. Biarlah saja.
Saya rela dibilang munafik atau menganggap segala sesuatunya dengan sangat berlebihan, karena buat saya, kecantikan adalah sebuah anugerah yang diberikan pada orang-orang tertentu saja. Tapi kalau kepandaian dan kesuksesan seseorang adalah sesuatu yang hanya bisa diperoleh jika didukung dengan usaha yang keras dan waktu yang tidak instan.
Kesuksesan bukan hadiah. Kesuksesan adalah hasil dari kerja keras. Dan saya jauh lebih menghargai orang yang melakukan sesuatu untuk mencapai mimpinya, ketimbang duduk mesam mesem dan mendapatkan semuanya di atas pangkuannya…
*tapi hey! Meskipun tetap saja, akan lebih menyenangkan kalau menjadi orang yang cantik, sekaligus sukses.. hahahaha*
Dan.. SISTAH! Ini pujian terbuka Asunaro Bungsu buat Kakak Kedua!!