there’s no easy way…. I guess

So… Here’s my final question.

What?”

“Should I wait for you… or not?”

There was a silence… twenty seconds of silence.

“I’m asking you… Yes. Or no. That simple.”

Simple? Yeah, right.

“C’mon… Yes. Or no. Please, answer that. I need to know that.”

Lala? Yes or No?”

Saya menghela nafas. Berat. Mencoba mencari kekuatan sebelum bilang perlahan, No, Cha… No.Dan mencari kekuatan yang sama dengan menghembuskan nafas panjang-panjang, ketika Ex menyudahi percakapan kami sambil berkata, Then, this is our real goodbye… I won’t bother you any longer… Bye, Lala…

….and I cried. Exactly, like what he just did.

***

Kini usai sudah.

Setahun penuh saya membiarkan EX berlari dalam arena pacu yang melelahkan, dengan sedikit amunisi bernama pengharapan; suatu harapan bahwa saya mau menjadi belahan jiwanya entah kapan, akhirnya saya memutuskan untuk menyudahinya.

Hm….

Saya merasa tak jauh beda dengan Algojo pencabut nyawa untuk terpidana mati; di mana saya musti menyudahi mimpi-mimpi seseorang, membunuh segala harapan, dan menggiringnya menuju kenyataan bahwa it has to be ended, somehow. Saya telah membunuh perasaan EX, yang masih begitu antusiasnya mendengarkan suara saya *setelah penolakan demi penolakan yang saya lakukan*. Saya telah menghancurkan bangunan pengharapannya, yang katanya ia bangun sejak setahun kemarin tanpa pernah mengenal kata menyerah. Saya telah mematikan salah satu dari mimpi-mimpinya; bisa menikahi seorang perempuan yang dulu pernah dilukainya sampai menimbulkan trauma.

Saya…. Lala…. telah menjadi Algojo pembunuh…. karena telah mengatakan, “No, Cha… No… Don’t wait for me… Please….”

Dan saya yakin, Algojo manapun, pasti memiliki sedikit rasa sensitif dan bersedih ketika harus mencabut nyawa seseorang. Dan saya… yang hanya sekedar perempuan biasa, yang menangis kala hatinya terluka, atau tersenyum ketika hatinya bahagia… tak tahu bagaimana caranya untuk berhenti menangis….. right here… right now… at this very moment… di depan sebuah laptop yang bercahaya sambil jemari-jemarinya menari di atas keyboard untuk mengalihkan apa yang dia rasakan…

I FEEL GUILTY.

Saya ingat wajahnya. Ingat persis dengan garis wajahnya. Ingat persis dengan suara-nya yang berat. Ingat persis dengan semua kenangan-kenangan kami berdua. Every little details.

Saya ingat bagaimana wajahnya ketika kami menangis bersama….

Saya ingat persis bagaimana pelukannya…

Hell, saya ingat semua itu… termasuk segala luka darinya yang menimbulkan trauma tak berkesudahan sampai sekarang. Apa saya salah kalau saya tidak ingin terluka lagi? Meskipun dia telah berjanji memberikan surga, tapi apa yang terjadi bila dia menyuguhkan neraka esok hari? And then I have to blame myself.. again.. and again.. and again…

….

But there are times the best is no damn good
And no matter how you try to be kind
There’s always still a part of you, you’ll leave behind
 

…..

Lepas dari segala rasa ‘I-DON’T-WANNA-GET-HURT-BY-HIM-ANY-LONGER‘, tetap saja… hanya dengan membayangkan wajah seorang lelaki, yang pernah menjadi segalanya buat saya, berkata dengan kalimat yang sederhana, tapi dengan tarikan nafas yang luar biasa hebat…. bahwa dia akan pergi.. bahwa dia akan menyudahi mimpinya… bahwa dia akan menjauhi saya dan membiarkan saya menikmati setiap kepingan waktu tanpa dia….. adalah sangat… sangat… berat.

I guess…

Meskipun cinta itu tak lagi ada…

Meskipun sebetulnya ini adalah untuk kepentingan hati saya sendiri…

Meskipun saya merasa bahwa keputusan untuk menyuruhnya ‘pergi’ adalah yang terbaik….

But still…

There’s no easy way to break somebody’s heart….

(maafin Lala, ya, Cha… I guess, this is…. yes… this is…. our real goodbye… Please take care…. Please don’t hate me… And if by any chance, someday, I’ll come crawling at your knees.. please do… LAUGH… I deserve that…)

 

ketika saya harus pergi… (6/7)

Sebelum saya datang ke rumah kamu, dia sudah berpesan pada saya:
“Kalau kamu benar-benar mencintai dia… you let her go… Dia masih berhak menikmati waktunya… Dia harus melanjutkan hidupnya…”

Dan pagi ini, saya berdiri di samping ranjang kamu, melihatmu tertidur. Tubuhmu mulai mengurus. Wajahmu memang cantik, tapi tak secerah dulu. Tak secerah biasanya. Kini saya baru bisa melihatnya dengan jelas, betapa gelapnya warna kulit di bawah matamu. Betapa kurusnya tubuhmu. Betapa tak bercahayanya matamu. Betapa ringkihnya kamu.

Pagi ini, saya bangun sebelum kamu mulai membuka jendela kamarmu seperti biasa.
Pagi ini, saya ingin menyudahi kekejaman saya.

Saya hanya bisa bilang ini sama kamu:

Terimakasih, Sayang.
Buat hadirmu di saat-saat saya paling membutuhkan kasih sayang seseorang. Kamu adalah satu-satunya orang yang tak pernah menyerah ketika tingkat kecanduan saya semakin parah. Kamu satu-satunya orang yang selalu ada di samping saya setiap saya kehilangan daya karena kecanduan, meskipun tak jarang saya mencakar lenganmu, meludahi wajah cantikmu… kamu tak pernah pergi, kamu selalu ada di samping saya.
Kamu malah memperkenalkan saya pada Dia… pada Tuhan.
Kamu yang membawaNya dalam hidup saya.
Dan kamu telah mempasrahkan saya pada tanganNya….. membiarkan Dia yang merawat dan mencintai saya dengan segenap cintaNya…

Sayang…
Maafkan saya sudah datang dan terus datang dalam hari-hari kamu, dua bulan ini. Mengganggu kamu, membiarkan kamu merasakan kehadiran saya, padahal sudah seharusnya kamu melupakan saya… sudah seharusnya kamu melanjutkan waktu yang kamu punya…
Saya cinta kamu, Sayang.
Saya pergi… juga karena saya sangat mencintai kamu.
Saya nggak ingin egois.
Saya tak ingin memberikan mimpi buat kamu.
It’s time for you to wake up.
Tapi kenang saya selalu…….

Saya mencium kening kamu dan pergi sebelum kamu terbangun. I love you, Baby….

 

masih bersambung….. last episod…. ketika saya harus pergi (7/7)