ketika saya harus pergi… (5/7)

Kali ini kamu sedang duduk di atas ranjang, menempelkan selembar photo di dada kamu. Mendekapnya erat seolah kamu ingin memeluk seseorang di photo itu… yang ternyata.. itu saya. Hmmm, Sayang… You make things harder

Saat saya datang, wajahmu langsung berubah. Secuil bahagia yang dia ceritakan kini nampak di wajahmu. Kedua bola matamu bercahaya. Ada sisa-sisa air mata di sana. Ah, barusan kamu pasti nangis lagi…

“Lagi apa?”

“Lagi kangen kamu…”

“Kan saya janji, pasti akan datang lagi…”

“Iya… tapi saya takut, Sayang…”

“Takut apa?”

“Takut kamu nggak menepati janji…. Seperti waktu itu….”

I’m sorry, Babe… Saya sudah bikin kamu susah begini…”

“Ngg… never mind. That’s okay. Yang penting kamu di sini…” Kamu memeluk saya.

“Mm….apa kabar si Mey?”

“Kenapa?”

“Sepertinya sudah lama sekali nggak ada kabar soal dia ya…”

“Oow… saya lagi marah sama dia.”

“Lho? Kenapa?”

“Karena dia yang bilang kalau saya mulai aneh. Mulai nggak waras. Mulai ngaco. Mulai nggak penting…. Huuuh.. tahu apa dia soal saya, sih, Babe?” Saya hanya mendengarkan omelan kamu. Let it all out Babe…  “Dia bilang, sudah waktunya saya mulai berpikiran waras… Dia bilang, mencintai kamu itu seperti pungguk merindukan bulan. It has to stop. Sudah terlalu lama saya terbuai sama kamu. It can not be tolerated any longer. It really has to stop. Geez… dia tahu apa…”

Kamu menghela nafas. Saya biarkan kamu mengomel terus.

“Dia nggak tahu rasanya jatuh cinta sih… Cinta sejati, pula. I know it’s hard to see you leave me every morning… tapi.. tapi… setiap malam yang saya habiskan berdua dengan kamu, bisa membuat saya merasa bahagia… merasa saya dicintai… Dia bilang… I deserve someone much better. Akan ada lelaki lain yang jauh lebih baik daripada kamu, Babe. Hey… you’re the greatest! Kita sudah melewati sepuluh tahun ini dengan sempurna…. I know, there were plenty ups and downs… tapi, tapi… sepuluh tahun ini adalah tahun-tahun terbaik saya….”

“Termasuk ketika kamu tahu kalau saya mencandu?” potong saya tiba-tiba, entah kenapa.

Kamu mengangguk. Air mata kamu menetes perlahan. “Iya… bahkan saat itu….” Kamu mendesah. “Saat itu… saya menyadari benar.. kalau saya sangat cinta sama kamu… Kalau saya tak ingin kehilangan kamu…”

“Tapi kamu malah mengenalkan saya sama dia…” kata saya, lirih.

“Itu juga karena saya mencintai kamu… Karena saya sangat, sangat, sangat mencintai kamu.” Lalu kamu mencium bibir saya dan saya membalasnya dengan hangat. Lalu kita saling memadu kasih seperti sekian tahun tak bertemu. Padahal baru kemarin. Padahal baru pagi tadi kita berpisah, tapi entah kenapa, seolah saya selalu merasa begitu lama waktu berjalan tanpa kamu di sisi saya.

Tiba-tiba suara HP kamu berbunyi. Ada telepon masuk. Saya sempat melirik. Itu dari Mey.

“Mey, tuh. Nggak kamu angkat?” tanya saya di sela ciuman kita.

“Nggak.. malessss….” kata kamu, masih mencium saya.

Lalu kita bercinta, seperti hari-hari yang lalu.
Tapi kali ini, saat kamu terlelap dalam tidur, saya membuka HP kamu dan melihat inbox message-nya.
Dari Mey.
Dari Mey.
Dari Mey.
Dan banyak lagi dari Mey.
Isinya, kurang lebih, adalah ini:

     Mau sampai kapan kamu begini, heh?
    Sudah dua bulan lebih.
    Ini sudah parah.
    Kamu harus bangun, Sayangku….
    DIA UDAH MATI.
    Ngerti nggak sih?????

Dan saya menangis…

masih bersambung… ketika saya harus pergi (6/7)

Me, Myself, and My Coffee

Ternyata…

Dari adiksi saya terhadap kopi (yang sudah bikin saya tepar nggak berdaya di ranjang sampai berhari-hari lamanya) bisa ketauan kalau saya itu…

what kind of coffee girl is Lala?


You Are a Plain Ole Cup of Joe


But don’t think plain – instead think, uncomplicatedYou’re a low maintenance kind of girl… who can hang with the guysDown to earth, easy going, and fun! Yup, that’s you: the friend everyone invites.And your dependable too. Both for a laugh and a sympathetic ear.

 

 

OK. OK. Jadi seorang Lala itu ternyata a plain ole cup of Joe *halah, kenapa nama mantan pake kesebut juga ya? hehehe* Tapi hey… banyak benernya yaa…. apalagi bagian easy going and fun! Yippeee….. Sama ini juga… dependable, both for laugh and sympathetic ear… Boleh GR dong saya sekarang… :)
Sekarang… hasil tes kedua… kalau seandainya saya ini adalah secangkir kopi….
What kind of Coffee is Lala?

You are a Black Coffee


At your best, you are: low maintenance, friendly, and adaptableAt your worst, you are: cheap and angstyYou drink coffee when: you can get your hands on itYour caffeine addiction level: high

 

 

Hah? Caffeine addiction level : HIGH??? Ampun La.. Bahkan tes di internet pun mengukuhkan adiksi kamu terhadap kopi yang ampun-ampunan ituh…
Nah sekarang… tes ketiga…
Kita tanya pendapat secangkir latte tentang seorang Lala…
Te, Latte… *hah, kok kayak orang Madura yang jualan Sate Ayam keliling itu ya? hehe* Lala tuh gimana sih….
And…. this is what latte has to say about Lala…

What Your Latte Says About You


You don’t treat yourself very often. You find that indulging doesn’t jibe with your very disciplined life.You can be quite silly at times, but you know when to buckle down and be serious.Intense and energetic, you aren’t completely happy unless you are bouncing off the walls.

You’re addicted to caffeine. There’s no denying it.

You are a child at heart, and you don’t ever miss the opportunity to do something playful.

You are deep and thoughtful, but you are never withdrawn.

 

Aih, aih…
I can be quite silly sometimes??? I can be quite silly MOST OF THE TIMES! hahaha…
Tapi hey… saya suka bagian : a child at heart. Ya, ya, karena sebetulnya, saya emang ‘masih anak kecil’. Terperangkap di body gedhe ala satpam inih.. hehehe…
Deep and thoughtful?
Makasih Latte… you’re the best deh… :)
Dan kini…
Hasil tes terakhir…
Karakter seorang Lala, dilihat dari pilihan Frappuccino-nya…. Eng ing eng….

Caffe Vanilla Frappuccino


Smooth and sweet, you fit in to almost any crowd. No one would suspect you of being a coffee tweaker!
Smooth and Sweet????
Fit in almost any crowd???
Aaahhh… Am I???
But eniwei…
Semua hasil tes di atas, adalah pendapat secangkir kopi tentang seorang Lala.
Kalau menurut kamu, my dearest friends, Lala itu seperti apa, ya?
(boleh ikutan tes di http://www.blogthings.com)