(warning: ini akan jadi cerita yang sangat, sangat klise… jangan nyesel setelah baca, ya, kan saya sudah kasih peringatan.. hehehe)
Ada apa dengan perempuan dan pernikahan?
Ada apa dengan perempuan berusia hampir tiga puluh tahun tapi masih asyik dengan kesendiriannya?
Kenapa selalu saja orang langsung bilang, “Ah, sebentar lagi jodohnya pasti dateng kok…” dengan wajah yang super bijaksana, sambil mengelus punggung seolah ingin membagi kesedihan, ketika baru saja menanyakan pertanyaan klise ini, “Giliran kamu kapan nih?” dan dijawab dengan wajah datar, “Nggak tahu nih, belum ada…”
AAARRGGHH.
I hate that kind of questions. Or that kind of symphaty.
Betulkah mereka bersimpati? Atau mereka malah kasihan dengan perempuan lajang seperti saya yang masih lagi senang-senangnya ‘memperkaya’ diri dengan melakukan hal yang kami senangi? Tidakkah mereka tahu bahwa mungkin maksud mereka baik, tapi tidak untuk telinga kami-kami ini? Oh plis…
Tapi tunggu, tunggu…
Kenapa seorang Lala bisa angot begini?
Karena…. hari Jumat kemarin, ketika Aqiqah keponakan, si Eunicke Charmenita Zayra Assyarif (cute name, eh?), saya bertemu dengan adik kandung kakak ipar saya yang kebetulan baru saja mendapatkan buah hatinya. Dia dan istrinya seumuran dengan saya. Menikah dua tahun, sekarang sudah menimang buah hati sendiri. Ow, saya tidak iri. Saya malah senang dengan bayi kecil cantik yang pipinya gembil menggemaskan itu.
Tapi saya marah.
Dan sebal…….. karena mereka dengan ‘dewasanya’ bilang begini: “Kapan La, giliran kamu? Udah usia segini lho, nggak usah main-main terus..”
MAIN-MAIN TERUS?????
Great… great…
Ditambah dengan kalimat-kalimat begini, “Kalau kamu sudah punya anak La, kamu bakal ngerasa nikmatnya jadi perempuan…”
GGGRRRHHH….
Pertama. Saya tidak rela dibilang main-main. Kalau saya mau main-main, mungkin saya malah sudah menikah setahun kemarin. Tapi karena saya sedang tidak bermain-main, saya justru memikirkan yang terbaik untuk saya sendiri. Hell, i love my self. Jadi saya punya kekuasaan penuh untuk memilih laki-laki yang boleh menjadi imam seorang saya. Tidak boleh sembarangan. Dan syaratnya, I have to love him so fucking much. Bukan cinta yang seadanya, sehingga saya punya seribu alasan untuk meninggalkan dia di kemudian hari. Oh no. No way.
Kedua. Ya, ya, ya. Seorang perempuan akan semakin menikmati keindahan menjadi makhluk hawa ketika dia melahirkan dan menyusui anaknya, buah dagingnya sendiri. Yang lahir dari rahimnya sendiri. Yang kemudian dia besarkan dengan penuh sayang. Gila aja kalau saya nggak tahu soal ini. But…. wait… wait…. Apa perempuan baru terasa lengkap setelah memiliki anak? Bagaimana kalau Tuhan tidak mengijinkan si perempuan memiliki anak sendiri? Bagaimana kalau Tuhan memilih untuk mempercayakan buah hati perempuan lain untuk diasuhnya? Hanya itukah nilai perempuan? Sejauh dari kebisaannya melahirkan darah daging dari rahimnya sendiri?
Ketiga…… Hellooowwww…. Apa kabar soal karirmu, Ibuuu…???? Buktinya kemarin kamu langsung ngah ngeh ngah ngeh ketika saya tanya, “Gimana, Bu, sudah kerja di mana?” Hey, saya tidak mengecilkan arti seorang Ibu Rumah Tangga.. Buat saya, Ibu Rumah Tangga itu wanita yang hebat, lho. Mami saya juga begitu kok. Jadi, maaf, saya tidak berniat untuk bilang kalau saya lebih hebat dari house wife macam kamu. Tapi tidakkah kamu berpikir, kalau meskipun saya belum menikah, tapi karir saya sudah lumayan? Kalau saya punya kebisaan yang tidak bisa kamu lakukan? Kalau saya tiap hari bukannya cengar cengir doang, tapi bekerja untuk mencari uang… uang yang bisa menghidupi saya… membuat saya bisa membeli barang-barang yang saya inginkan?
Bisa nggak sih, menghargai saya sedikit saja, sebagai seorang perempuan 28 tahun yang belum ketemu jodoh yang tepat sehingga memilih untuk sendiri dulu sambil melakukan apa yang saya ingin lakukan???
Bisa nggak sih, nggak usah bertanya dengan roman wajah begitu, sehingga saya bukannya merasa ‘didukung’ tapi justru merasa dilecehkan?
Kalau saya lebih bercita-cita menjadi seorang novelis terkenal daripada buru-buru kawin, apakah itu salah?
Kalau saya lebih concern dengan dunia tulis menulis dan bagaimana caranya supaya cita-cita saya itu terwujud daripada sibuk plirak plirik cari jodoh, apakah itu salah?
Oh…
Saya bukannya tidak mencari.
Saya malah membuka pintu hati.
Ini cuman masalah perfect timing saja.
Saya akan tahu, kapan saya merasa waktunya telah tiba. Hey, begini-begini, saya masih sholat istikharah untuk minta petunjuk kok… Jadi biarlah ini jadi urusan saya dengan Tuhan saya.
Jadi…
please… please…. pleeeeeassssseeee…. STOP ASKING ME THAT KIND OF QUESTIONS.
Lepas dari kalian care sama saya… Buat saya… that’s my personal teritory that is forbidden for you to cross. So stop right there and say whatever you want to say… as long as I don’t hear that…
Is that a deal????
ps. See??? Saya sudah bilang kan kalau ini bakalan klise??? Nyesel tho…..
August 17, 2008 at 5:39 am
Lagunya Koes Plus bukan?
Hehehe.. kok malah nyanyi yaah…
August 17, 2008 at 10:26 am
hmmm…. what a cliche ya, Sis…
iya nih, kalo ngomel ya ngomel aja.
afteral, it’s my blog anyway.. hehehe
thanks!
August 18, 2008 at 12:17 am
sudah ditengok, Pak…
saya sih sebenarnya ga kenapa-kenapa ditanyain begitu, apalagi sama yang sudah senior…
tapi ntah kenapa, when the time isnt right, yang ada angot mulu bawaannya..
payah yaa…
August 19, 2008 at 9:53 am
yup…
gua sendiri juga ngerasa complete kalau udah nikah dan melahirkan…
tapi dengan penyampaian yang kurang tepat, sepertinya gua malah bereaksi sebaliknya: So what kalau gua belum menikah dan punya anak?
(intinya sih, jangan ngasih nasehat pas Lala lagi angot2nya.. hihihi)
August 19, 2008 at 11:01 am
Hm.. iya ya Bang…
berarti Lala musti sabar ya…
eniwei…
udah baca novelnya Ninit Yunita yang judulnya Test Pack?
Wajib baca tuh!
August 19, 2008 at 7:28 pm
bentar Om, ambil pulpen sama kertas dulu yaa…
kira-kira, prince-nya se-charming Om NH ga? hehehe
August 20, 2008 at 8:42 pm
Yes… what a ‘wonderful’ life…
August 25, 2008 at 10:13 am
ITULLLAAHHH MBOI!!!!
Lu sih bisa cuek… lah gua???
(sekarang sih jauh lebih cuek, tapi entah kenapa yang kemaren itu bikin gua empet banget! Hayah! Pingin gua jitak bolak balik ajah! hahaha… udah yang anarkis nih gua…)
August 26, 2008 at 3:53 pm
[...] brutalnya! haha). Kalau hati lagi emosi jiwa, mungkin saya akan marah-marah seperti di posting ini, lalu ‘menyikat’ seluruh hidangan dengan anarkisnya Tapi berhubung saya agak jaim [...]