are you lonesome tonight?

Pacar…

Malam ini saya kangen kamu. Padahal distraksi apapun sudah saya lakukan untuk menepiskan segala rasa kangen yang pelan-pelan membuat saya lelah sendiri.

Saya sudah melintasi puluhan kilometer dari sini, untuk membuat segala pikiran saya tidak hanya tertuju kepadamu. Tapi apa yang terjadi? Kamu malah selalu ada dalam setiap kedipan mata saya…

Saya sudah menghabiskan waktu dengan berjalan ke sana ke mari, untuk membuat saya berhenti fokus kepadamu. Tapi apa yang terjadi? Kamu sama sekali tak pernah jauh dari benak saya…

Saya sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, untuk tidak terlalu merindumu. Tapi apa yang terjadi? Kamu justru dengan asyiknya bermain-main di dalam isi kepala saya…

Dan segala kerinduan yang menggila setiap detiknya ini membuat saya ingin bernyanyi lagu ini… Lagu yang sempat saya nyanyikan perlahan persis di telinga kamu, beberapa hari terakhir sebelum kamu pergi malam itu… Ingat kan, Pacar?

Are you lonesome tonight?
Do you miss me tonight?
Are you sorry we’re drifted apart?

Does your memory stray to a bright summer day?
When I kissed you and called you Sweetheart
Do the chairs in your parlour seen empty and bare?
Do you gaze at your door step and picture me there?

Is your heart filled with pain?
Shall I come back again?
Tell me Dear, are you lonesome tonight?

(Are You Lonesome Tonight, Elvis)

Ya, Pacar…

Are you?

(karena saya sungguh kangen kamu!)

terlena, merdeka

Mumpung Negeri Tercinta, Indonesia, sedang merayakan hari kemerdekaannya yang ke-63 pada hari ini, saya akan latah juga bicara soal kemerdekaan. Hm, ini bukan soal kemerdekaan negeri ini, tapi tentang rasa kemerdekaan yang sudah saya cecapi selama 28 tahun saya menjadi seorang Lala, perempuan yang bawel, cerewet, egois, super moody, dan sensitif ini.

Sudahkah saya benar-benar ‘merdeka’? Kapan saya benar-benar merasa sudah boleh mempergunakan hak saya sebagai seorang anak perempuan yang bebas memilih apapun yang saya inginkan, tanpa perlu tunduk terus terhadap keinginan orang tua?

Lalu saya flash back, mundur ke tahun-tahun sebelum hari ini, ketika saya masih merasa seluruh keinginan saya terpasung oleh cita-cita Papi dan Mami yang menginginkan anaknya menjadi orang hebat, anak ideal, yang entah kenapa itu selalu identik dengan dokter, dokter, dan selalu dokter. Itulah kenapa, buat Papi dan Mami, sekolah adalah nomor satu. Les privat bila perlu.

Dari ketiga anaknya, yang paling penurut adalah si Bungsu, alias saya. Si Perempuan bernama Lala itu paling patuh terhadap instruksi. Disuruh sekolah yang rajin, ya rajin. Disuruh ikut les tambahan, ya manut saja. Apa saja yang masuk ke telinga saya, itulah instruksi yang wajib laksana. Sounds so ideal, right?

Hm… Nanti dulu. Sabar. Sabar saja… :)

Saya sendiri memang pernah bercita-cita menjadi dokter anak-anak. Cita-cita mulia ini sempat muncul karena saya ingin mengobati teman-teman saya yang sakit. Haha, kalau dipikir-pikir, bego juga ya saya. Kalau saya sudah menjadi dokter, bukankah mereka juga akan tumbuh sebesar saya? Lhah, mana mungkin saya mengobati mereka sebagai seorang Dokter Anak? Dari Dokter Anak, saya beralih menjadi Dokter Umum saja. Biar saya bisa mengobati siapa saja.

Tapi ketika saya semakin besar… semakin besar… lalu mulai rajin menulis, cita-cita menjadi Dokter itu luntur sudah. Saya lalu bercita-cita menjadi seorang Novelis terkenal. Dengan mimpi bahwa suatu saat kelak, saya bisa melihat buku-buku saya terjajar rapi di rak best seller, di toko buku terkemuka di Indonesia, atau malah di mancanegara. Ah, indah sekali sepertinya.

Ketika keinginan saya menjadi Dokter meluntur, Papi dan Mami masih bertahan dengan keinginannya, “Salah satu anak Papi harus ada yang menjadi Dokter.”

Dan sialnya… ketika itu… kedua kakak tercinta saya, sudah tak mungkin menjadi dokter lagi. Mbak Pit kuliah di Fakultas Ekonomi Manajemen Unair dan Bro mengambil jurusan Informatika di STTS.

Oh my… Tinggal saya… Anak perempuan bungsu mereka… Yang benci Matematika dan nggak doyan masuk lab kimia ini… Gila.. Gila…. *padahal saya suka sekali dengan bahasa… saya suka sekali menulis…*

Saat penjurusan SMU, Papi sudah wanti-wanti. Jangan sampai nilai IPA saya jeblok, soalnya kalau masuk fakultas Kedokteran, harus dari jurusan IPA, tidak bisa IPS atau Bahasa. (puyeng, puyeng deh Lala saat ituh….)

Meskipun akhirnya saya masuk IPA juga dan menjadi rangking 2 terus selama kelas 3, bukan berarti saya cinta dengan pelajaran-pelajaran itu. Karena tidak nyaman, saya malah rajin cabut dari kelas dan jalan-jalan dengan teman-teman… Ini tidak pernah diketahui oleh Papi dan Mami, karena saya mainnya cantik banget saat itu :) Akibatnya, nilai ujian saya jeblok dan makin stress lah saya.

Ketika UMPTN, saya ingin sekali mengambil jurusan Sastra Inggris, Psikologi, atau Hubungan Internasional. Tapi apa yang terjadi? Papi dan Mami menyuruh saya untuk mengambil pilihan ini: Kedokteran Umum dan Kedokteran Gigi. HAH??? Dengan otak terbatas dan pesaing yang seluruh Indonesia, bagaimana bisa saya berkompetisi sehat di sini? Saya sudah nggak yakin… Sangat tidak yakin.

But again… Karena saya anak yang penurut, saya tidak berani komentar macam-macam. Saya isi saja sesuai dengan keinginan mereka, sembari melepas segala mimpi saya. Saat itu, saya tidak memiliki keberanian untuk menolak. Saya cuman anak mereka. Saya sudah membuat mereka kecewa dengan nilai yang tidak bagus kala itu.

Dan benar..

Ketika pengumuman keluar, saya memang tidak masuk kemana-mana.

Papi dan Mami kecewa? Ah itu pasti. Kalau saya? Saya malah lebih kecewa daripada mereka. Ada beberapa hal yang membuat saya kecewa. Satu, karena saya telah membuat sedih orang tua. Lalu kedua, karena sebenarnya saya ingin bersaing di sebuah kompetisi di mana saya ikutan ‘lari’, bukannya jalan di tempat :(

Lalu Papi bilang… “Sudah, masuk Fakultas Pertanian di UWM aja. Bagus tuh. Paling nggak, kayak Papi dulu…” (Papi adalah mahasiswa IPB angkatan 6).

Fakultas Pertanian? Teknologi Pangan dan Gizi? Kimia, Fisika, Matematika……. Praktikum-praktikum….. Oh My God!

And again… I didn’t have any courages to say, “Please Dad, I want to study English Literature. I want to be a writer…” Atau bilang ini, “C’mon Dad… Aku pingin jadi Psikolog aja…”

Karena saya hanya bilang, “OK, Dad. Aku daftar hari ini, ya?”

4,5 tahun mempelajari mata kuliah-mata kuliah yang tidak saya cintai adalah penderitaan yang luar biasa. Thanks to Gang Gila yang sudah membuat hari-hari saya di sana tidak seperti living hell. Dengan kehadiran mereka, 4,5 tahun kuliah di sana bisa jauh lebih menyenangkan.

Sampai umur 22 tahun, saya tidak memiliki ‘kemerdekaan’ yang dimiliki sahabat-sahabat saya yang lain. OK, untuk jam malam sampai pukul 9 itu memang terus mundur dan mundur sampai pagi *apalagi ketika saya aktif nge-band awal kuliah dulu*, tapi kalau urusan pilihan, saya benar-benar tak bisa berkutik. Apa yang keluar dari mulut Papi dan Mami adalah harga mati. Tidak bisa ditawar.

Beasiswa kuliah di Fakultas Sastra Inggris di Malang…. tidak bisa saya pergunakan.

Kuliah dengan biaya murah karena saya masuk peringkat satu di Fakultas Sastra Inggris di UWM… juga tidak bisa pergunakan.

Kesempatan untuk ganti kuliah di Fakultas Psikologi… juga sekedar janji-janji manis.

Saya tidak bisa menolak.

Dan sebenarnya saya sangat gerah.

Saya harus memiliki momen yang tepat untuk mengakhiri ‘penderitaan’ saya. I have to say no when it comes to my own needs. Saya sudah cukup dewasa. Saya harus bisa meneriakkan apa yang saya maui, bukannya selalu tunduk tapi menggerutu terus menerus.

Lalu kapan momen itu datang? Momen yang tepat untuk menghirup udara ‘merdeka’ dan berani menyuarakan apa yang saya inginkan?

Saya tak tahu kapan persisnya, tapi perlahan-lahan, setelah saya mulai bekerja dan mendapatkan ganjaran rupiah tiap bulannya, Papi mulai mengendurkan pengawasannya. Kalau dulu Papi mirip seorang Bos, perlahan-lahan Papi berubah menjadi seorang Penasihat.

Kemerdekaan ini tidak saya peroleh karena saya berani bilang tidak.

Tapi ini hadiah dari seorang Papi, yang mulai menyadari, bahwa his little girl, telah berubah menjadi perempuan usia dua puluh tiga tahun yang bisa mencari uang sendiri setiap bulannya…

Jujur. Kalau bicara soal ini, saya sedikit malu. Ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa seorang Lala telah menjadi perempuan yang cukup pemberani untuk menyuarakan apa yang ada di dalam hatinya. Karena yang ada, mulai sekarang, saya mulai didengarkan…..

Hmmm…

Inikah yang disebut kemerdekaan? Bahwa mulai sekarang saya bebas melakukan apa saja yang saya inginkan, dengan bekal satu kalimat saja dari Papi, “Jangan sampai melakukan sesuatu yang kamu sesali di kemudian hari”? Bahwa kini saya bebas pulang selarut apapun yang saya mau? Berpacaran dengan cowok manapun (dari yang tengil sampai wanginya minta ampun)? Asal saya bahagia… Asal saya senang….

Aduh…

Kok saya malah jadi rindu dengan pengekangan Papi dan Mami saat itu ya? Ketika saya pulang lebih malam dari jam yang telah ditentukan, ponsel saya selalu berdering-dering tanpa henti? Ketika saya berpacaran dengan orang nggak penting, Mami langsung melarang?

Karena sekarang, ironisnya, saya justru merasa kemerdekaan ini telah melenakan saya….

Hhhhhhh…

kapan, La? kapan?

(warning: ini akan jadi cerita yang sangat, sangat klise… jangan nyesel setelah baca, ya, kan saya sudah kasih peringatan.. hehehe)

Ada apa dengan perempuan dan pernikahan?

Ada apa dengan perempuan berusia hampir tiga puluh tahun tapi masih asyik dengan kesendiriannya?

Kenapa selalu saja orang langsung bilang, “Ah, sebentar lagi jodohnya pasti dateng kok…” dengan wajah yang super bijaksana, sambil mengelus punggung seolah ingin membagi kesedihan, ketika baru saja menanyakan pertanyaan klise ini, “Giliran kamu kapan nih?” dan dijawab dengan wajah datar, “Nggak tahu nih, belum ada…”

AAARRGGHH.

I hate that kind of questions. Or that kind of symphaty.

Betulkah mereka bersimpati? Atau mereka malah kasihan dengan perempuan lajang seperti saya yang masih lagi senang-senangnya ‘memperkaya’ diri dengan melakukan hal yang kami senangi? Tidakkah mereka tahu bahwa mungkin maksud mereka baik, tapi tidak untuk telinga kami-kami ini? Oh plis…

Tapi tunggu, tunggu…

Kenapa seorang Lala bisa angot begini?

Karena…. hari Jumat kemarin, ketika Aqiqah keponakan, si Eunicke Charmenita Zayra Assyarif (cute name, eh?), saya bertemu dengan adik kandung kakak ipar saya yang kebetulan baru saja mendapatkan buah hatinya. Dia dan istrinya seumuran dengan saya. Menikah dua tahun, sekarang sudah menimang buah hati sendiri. Ow, saya tidak iri. Saya malah senang dengan bayi kecil cantik yang pipinya gembil menggemaskan itu.

Tapi saya marah.

Dan sebal…….. karena mereka dengan ‘dewasanya’ bilang begini: “Kapan La, giliran kamu? Udah usia segini lho, nggak usah main-main terus..”

MAIN-MAIN TERUS?????

Great… great…

Ditambah dengan kalimat-kalimat begini, “Kalau kamu sudah punya anak La, kamu bakal ngerasa nikmatnya jadi perempuan…”

GGGRRRHHH….

Pertama. Saya tidak rela dibilang main-main. Kalau saya mau main-main, mungkin saya malah sudah menikah setahun kemarin. Tapi karena saya sedang tidak bermain-main, saya justru memikirkan yang terbaik untuk saya sendiri. Hell, i love my self. Jadi saya punya kekuasaan penuh untuk memilih laki-laki yang boleh menjadi imam seorang saya. Tidak boleh sembarangan. Dan syaratnya, I have to love him so fucking much. Bukan cinta yang seadanya, sehingga saya punya seribu alasan untuk meninggalkan dia di kemudian hari. Oh no. No way.

Kedua. Ya, ya, ya. Seorang perempuan akan semakin menikmati keindahan menjadi makhluk hawa ketika dia melahirkan dan menyusui anaknya, buah dagingnya sendiri. Yang lahir dari rahimnya sendiri. Yang kemudian dia besarkan dengan penuh sayang. Gila aja kalau saya nggak tahu soal ini. But…. wait… wait…. Apa perempuan baru terasa lengkap setelah memiliki anak? Bagaimana kalau Tuhan tidak mengijinkan si perempuan memiliki anak sendiri? Bagaimana kalau Tuhan memilih untuk mempercayakan buah hati perempuan lain untuk diasuhnya? Hanya itukah nilai perempuan? Sejauh dari kebisaannya melahirkan darah daging dari rahimnya sendiri?

Ketiga…… Hellooowwww…. Apa kabar soal karirmu, Ibuuu…???? Buktinya kemarin kamu langsung ngah ngeh ngah ngeh ketika saya tanya, “Gimana, Bu, sudah kerja di mana?” Hey, saya tidak mengecilkan arti seorang Ibu Rumah Tangga.. Buat saya, Ibu Rumah Tangga itu wanita yang hebat, lho. Mami saya juga begitu kok. Jadi, maaf, saya tidak berniat untuk bilang kalau saya lebih hebat dari house wife macam kamu. Tapi tidakkah kamu berpikir, kalau meskipun saya belum menikah, tapi karir saya sudah lumayan? Kalau saya punya kebisaan yang tidak bisa kamu lakukan? Kalau saya tiap hari bukannya cengar cengir doang, tapi bekerja untuk mencari uang… uang yang bisa menghidupi saya… membuat saya bisa membeli barang-barang yang saya inginkan?

Bisa nggak sih, menghargai saya sedikit saja, sebagai seorang perempuan 28 tahun yang belum ketemu jodoh yang tepat sehingga memilih untuk sendiri dulu sambil melakukan apa yang saya ingin lakukan???

Bisa nggak sih, nggak usah bertanya dengan roman wajah begitu, sehingga saya bukannya merasa ‘didukung’ tapi justru merasa dilecehkan?

Kalau saya lebih bercita-cita menjadi seorang novelis terkenal daripada buru-buru kawin, apakah itu salah?

Kalau saya lebih concern dengan dunia tulis menulis dan bagaimana caranya supaya cita-cita saya itu terwujud daripada sibuk plirak plirik cari jodoh, apakah itu salah?

Oh…

Saya bukannya tidak mencari.

Saya malah membuka pintu hati.

Ini cuman masalah perfect timing saja.

Saya akan tahu, kapan saya merasa waktunya telah tiba. Hey, begini-begini, saya masih sholat istikharah untuk minta petunjuk kok… Jadi biarlah ini jadi urusan saya dengan Tuhan saya.

Jadi…

please… please…. pleeeeeassssseeee…. STOP ASKING ME THAT KIND OF QUESTIONS.

Lepas dari kalian care sama saya… Buat saya… that’s my personal teritory that is forbidden for you to cross. So stop right there and say whatever you want to say… as long as I don’t hear that… :)

Is that a deal????

ps. See??? Saya sudah bilang kan kalau ini bakalan klise??? Nyesel tho….. :)

ketika saya harus pergi… (4/7)

Dia adalah seorang yang istimewa. Banyak yang jatuh hati padanya. Banyak pula yang memuja-mujanya, berharap bisa dicintainya. Tapi anehnya, meskipun saya tahu dia mencintai saya, tapi cinta saya buat kamu… seorang perempuan cantik, bawel, cerewet, super moody, ngambekan, tapi segalanya buat saya…. tak bisa saya jelaskan dengan seluruh kosa kata yang pernah saya pelajari selama ini.
Kamu adalah segalanya.

Kamu yang membuat saya berubah, membuat saya meninggalkan segala yang bisa menghancurkan saya… dan ironisnya, kamulah yang mengenalkan saya pada dia. Ya. Dia. Yang kini memiliki saya. Yang di pelukan dialah saya terlelap; meskipun pikiran saya selalu mengembara padamu, tapi saya tak pernah bisa meninggalkan dia. I wish I could, Babe. I wish

“Hey, you… Ngelamun aja…  Ada apa lagi sekarang? Sedih kok kebiasaan…” Dia tertawa. Wajahnya terlihat bercahaya.

“Hmmmm….”

“Tadi ketemu dia lagi?”

“Hmmmm…”

“Dia bilang apa? Tired?”

“Hmmmm…”

“Kamu sendiri?” Dia memandang saya. “Are you tired?”

Entahlah…
Entahlah… Apa saya capek… Apa saya sudah tak minat lagi untuk meneruskan permainan ini… Terkadang perasaan rindu saya pada kamu malah membuat saya lemah. Sungguh lemah. Saya berusaha menepis rasa ini, tapi…. it’s here. Right here. Tersembunyi di balik keegoisan saya… Kamu membuat saya lemah. Membuat saya merasa capek berdiri begitu saja di persimpangan jalan. Saya nggak bisa milih kamu, tapi saya juga nggak bisa meninggalkan dia, Sayang…!! I’m helpless

Perlahan dia mengusap punggung tangan saya.
“Kamu cinta sama dia?”

With all my heart and my soul…

“Kamu cinta sama saya?”

I don’t have any choice left… You’ve had me.

“Harusnya saya tersinggung, lho, kamu lebih mencintai dia. Ya, ya. Saya tahu, sejarahmu dengan dia begitu panjang… Dan ya, dia yang memperkenalkan kita saat itu… and I should thank her for that… Tapi… saya ingin… kamu lebih memperhatikan saya, lebih mencintai saya… Bukannya takdir sudah terjadi, Sayang? Bukankah kamu sudah menjadi milik saya? Dan bukankah sudah waktunya kamu meninggalkan dia dan membiarkan dia bahagia?”

She’s not happy?”

“…mmm… I’m afraid not.”

“Tapi dia terlihat bahagia…”

“Itu bahagia yang semu, Sayang. She pretends to be happy, padahal jauh di dalam hatinya, she’s so tired… Dia ingin berhenti… tapi dia nggak tahu bagaimana caranya… kalau kamu datang dan terus datang… dia malah terdistraksi… dia malah melupakan kebahagiaan sejatinya… dia memilih untuk menikmati secuil bahagia yang semu ini dan melupakan hidupnya sendiri…”

Saya terdiam. Benarkah saya membuat kamu nggak bahagia, Sayang?

“Saya tanya sekali lagi ya?” Dia memandang saya, lamat-lamat. “Kamu cinta sama dia?”

“Iya…”

Dia tersenyum. “Kalau begitu, jangan egois… She’s not yours, you’re not hers. You’re mine. And better tell her, I’m sorry… but someday, she’ll understand this situation.”

Hhhh…

 

masih bersambung… ketika saya harus pergi (5/7)

I’m sorry….

Sebuah pesan pendek dari seseorang di masa lalu saya, masuk ke dalam ponsel sore kemarin, dan membuat hati saya bergetar.

I just called u to say how I am terribly sorry 4 everything… I guess obviously it is that I’m bothering u… I am sorry, and u don’t want to be bothered anymore by me. I will never disturb u no more… here’s the last one.

 Saya membaca itu berkali-kali, meraba getaran jantung yang mendadak mulai acak adut, dan memejamkan mata saya. Membayangkan bagaimana raut wajahnya ketika menulis kata-kata itu lewat ponselnya yang sama persis dengan milik saya itu.

I know him… He’s so sensitive… Dan apa yang telah saya lakukan ke dia sekarang pasti akan membuat hatinya bersedih. Mungkin dia menyalahkan dirinya sendiri yang telah menyakiti saya, kala itu. Mungkin dia menyesali semua perbuatannya, kala itu. Mungkin dia malah marah dengan dirinya sendiri yang telah mengkhianati cinta saya buat dia, dua tahun yang lalu. Mungkin karena itulah, akhirnya dia memutuskan untuk mundur saja, setelah penolakan demi penolakan yang telah saya lakukan selama ini. Dengan diam saja. Dengan menutup pintu komunikasi. Dengan tidak peduli.

Hmm…

Cha…

I care about you. About you family. About your everything.

Tapi berilah saya sedikit ruang bernafas, ya?

Saya nggak tahu kenapa saya menolak semua kebaikan kamu.

Yang saya tahu hanya…

Saya sedang tidak ingin sakit hati lagi.

Tidak lagi… dengan kamu lagi…

I’m sorry…

I really am…

Daddy’s Little Girl

You’re the end of the rainbow, my pot of gold
You’re daddy’s little girl to have and hold
A precious gem is what you are
You’re mommy’s bright and shining star

You’re the spirit of Christmas, my star on the tree
You’re the Easter bunny to mommy and me
You’re sugar you’re spice, you’re everything nice
And you’re daddy’s little girl

(Daddy’s Little Girl, Michael Buble)

 

Lagu ini saya temukan di koleksi MP3 seorang teman, ketika saya menumpang di dalam mobil Honda Jazz silvernya, yang membawa saya sampai ke Tunjungan Plaza. Salah satu lagu Michael Buble yang bikin saya makin jatuh cinta sama si Ganteng bersuara hhrrrggghhh ini.

Karena kegilaan saya terhadap musik yang a bit jazzy ini, apalagi liriknya yang sedep banget, akhirnya keesokan paginya, saya menodong seluruh koleksi MP3 yang ada di mobil Peter (si teman itu tadi) dan saya download habis-habisan sebagai pelengkap koleksi lagu-lagu cantik di Miss Notey tercinta.

Tapi memang, di antara banyak lagu-lagu Michael Buble yang so sweet, saya paling jatuh cinta dengan Daddy’s Little Girl. Dengan instannya, saya langsung dibawa asyik berimajinasi tentang seorang Ayah yang menimang-nimang batita perempuannya yang ngoceh nggak jelas, sebentar-sebentar tertawa, lalu memandangi sang Ayah dengan kedua bola matanya yang bundar, cantik, dan menggemaskan. Pemandangan yang indah, bukan? Entah kenapa, saya selalu tergoda untuk menikmati view seperti itu. Seorang Ayah dengan anaknya yang masih kecil. Sepertinya, di situlah letak ‘kejantanan’ seorang Lelaki. How he treats his son or daughter, dengan lembut dan sayang… Aduh, saya bisa termehek-mehek deh pokoknya! Psst, apalagi kalau Ayahnya ganteng.. lengkap sudah ‘penderitaan’ saya.. hihihi…

Eniwei…

Then, everytime I hear this song, selain segera terbayang dengan visualisasi seperti di atas, saya selalu terbayang dengan wajah seorang Papi. Iya, Papi saya. Pak EDP, mantan dosen, mantan programmer, mantan editor suatu koran komputer yang cukup terkenal, lalu pernah memutuskan untuk menerbitkan majalah komputer sendiri meskipun harus bubar karena capek mengurus sendiri *aduh, anak-anaknya gemana seeh iniiihh.. :( * dan sekarang masih aktif menulis buku meskipun dengan kondisi mata yang sangat minim karena penyakit gula yang parah.

Yah! MY DADDY! Ayah terhebat di mata seorang Lala, yang selalu terbayang di depan mata ketika lagu itu terngiang di telinga…

Hmmm…

Di balik segala salah yang pernah Papi lakukan…

Di balik segala luka yang pernah Papi goreskan…

Di balik segala sikap yang perlahan membuat saya menitikkan air mata kala malam menjelang…

Di balik segala marah saya…

Di balik segala kebencian saya…

He’s still my Daddy.

Seorang Ayah yang pernah sabar mengajari saya naik sepeda roda dua… dan sukses membuat lutut saya berdarah-darah hebat… meskipun akhirnya langsung bisa.

Seorang Ayah yang pernah dengan gagahnya mengantarkan Lala kecil ke sekolah… dengan mobil baru yang masih kinyis-kinyis, hasil kerja kerasnya di mana-mana… yang insyaAllah, katanya tanpa korupsi…

Seorang Ayah yang tak pernah mencubit, memukul, bahkan berkata-kata dengan nada tinggi, meskipun saya adalah seorang anak perempuan yang bandel..

Seorang Ayah yang memberikan segenggam kepercayaannya pada saya… *dan berkali-kali saya lalai karena saya marah… Ah, maafin Lala ya Dad…*

Seorang Ayah yang selalu mendukung saya untuk terus semangat memperbaiki IPK yang jeblok di awal semester dan yakin sekali kalau saya pasti bisa lulus dengan nilai yang baik…

Seorang Ayah…. yang telah mengajari saya… bahwa saya tidak boleh berhenti berjuang… tidak sebelum Tuhan mencabut seluruh panca indera dan menyuruh kita berhenti saat itu juga…

Seorang Ayah yang sampai detik ini masih selalu menjadi kebanggaan saya.

Hh… Dad.

Maybe I never told you how much I love you. Or how much you mean to my life. Tapi pelukan yang kemarin malam itu.. Kecupan di kedua pipi Papi yang keriput itu… Adalah tanda bahwa Lala sayaaaanngggg sekali sama Papi. Lala sangat sayang dan cinta sekali sama Papi.

Lala janji, Dad.

Lala akan segera menulis buku.

Lala janji nggak malas-malasan lagi menulis. Papi saja dengan kemampuan terbatas begitu, masih rajin mengirim naskah ke penerbit, kenapa Lala nggak kan, Dad?

Dan oh ya, Dad.

Buku-buku itu…

Semua buku-buku yang Lala tulis kelak…

Akan Lala persembahkan untuk Papi.

Just because…. I love you…. So much.

(Please take care… Jangan sakit ya, Dad…….)

Love,

Your ‘Not So Little Anymore’ Girl; Lala

you’re just a flesh blood, Dear…

Sebelum ada campaign untuk menggugah hati Ibu-Ibu masa kini untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi-nya, Mami rupanya sudah menyadari kalau ASI itu penting sekali untuk tumbuh kembang ketiga anak-anaknya. Cuman, karena Mbak Pit dan Bro musti berebut ASI saat itu *gara-gara jarak usia yang terlalu mepet, akhirnya Mami memutuskan untuk memberikan susu formula karena jumlah ASI-nya nggak cukup*, akhirnya yang jadi ‘proyek’ pemberian ASI dua tahun cuman anak bungsunya, si Lala. Iya. Saya ini.

ASI dipercaya memberikan vitamin, mineral, dan gizi yang paling dibutuhkan oleh bayi. Terbaik bila diberikan sampai usia dua tahun. Lebih dari itu, khasiatnya sama sekali tidak ada. Ditambah pula, dengan iming-iming bahwa ASI bisa membentuk antibodi pada bayi yang mengkonsumsi. Ugh, jadilah sang Mami tercinta begitu senangnya menjejali mulut kecil saya dengan minuman segar langsung dari pabriknya itu. Dan ya, Sodara-Sodara… Sampe dua tahun!

Boleh dibilang, Dokter kandungan Mami memang tidak berbohong. Kenapa saya bilang begitu? Ya, karena terbukti, di antara ketiga putera-puterinya, memang hanya  puteri bungsunya yang bandel ini saja yang memiliki daya tahan luar biasa terhadap penyakit.

Kalau Mbak Pit, sedikit-sedikit, pingsan. Tekanan darah rendah. Anemia. Gampang capek. Dan lain-lain, dan sebagainya.

Kalau Mas, pernah thypus *meskipun rawat jalan di rumah*, gampang sakit, dikit-dikit capek juga. Dan lain-lain, dan sebagainya juga.

Kalau Lala?

Alhamdulillah… belum pernah sampai kena penyakit yang parah *sambil knocked on wood, amit-amit kalo kejadian saya kena penyakit parah…*

Paling, saya cuman kena flu. Batuk. Paling parah, diare. Kata orang Jawa, penyakit’e nggak mbois *dari kata boyish kali.. hehehe… ngaco ah*, yang artinya: penyakitnya nggak keren *nggak kayak orangnya… cuih, cuih.. muntah ya? Silahkan lho, jangan ragu-ragu.. hehe*. Dan itupun, jaraaannngg sekali terjadi… Alhamdulillah…

Tapi, nih…

Karena saya sok kepedean dengan daya tahan tubuh saya yang *Alhamdulillah* lumayan ini, akhirnya saya malah suka menggampangkan diri ketika penyakit-penyakit itu datang. Saya paling anti dengan Dokter juga dengan obat-obatan. Sebisa mungkin, saya menolak untuk minum obat. I just want to let myself to cure itself. Yeah, I mean the antibody thing yang tadi saya bilang itu. I just want to know, sampai di mana sih saya kebal *hahaha, konyol sekali ya, Sodara-Sodara…*

Jadi, ketika saya sakit flu…. saya tunggu sampai sehari… atau sampai tepar sekalian, baru minum obat.

Ketika saya sakit batuk… ah.. tunggu dulu deh… nanti kalau sudah ganggu banget baru minum obat.

Nah… goblognya nih, ketika hari Senin kemarin saya kena diare, saya malah dengan ‘hebatnya’ menguji ketahanan tubuh; mencari tahu, masa sih Lala nggak bisa sembuh sendiri.. *eits, dah.. kapan lu jadi Supergirl ya La???? Plis deh!*

Hari Senin kemarin, saya masih nekat minum kopi sampai tiga mug. Padahal sudah berkali-kali saya mondar-mandir ke kamar mandi *sampai Office Boy menggoda saya: “Ke sana lagi, Mbak??” Idiiihh, emang saya mau gitu mondar-mandir?? kalo bisa nih, saya pindahin aja kamar mandinya ke deket ruangan saya! hehe*, tapi tetap saja tidak mengurangi niat saya untuk menyisip kopi kesukaan saya. Sebagai seorang Sarjana Food and Nutrition Technology *narsis, narsis… hehe*, harusnya saya tahu sekali kalau kopi bisa memicu asam lambung sehingga menyebabkan saya harus semakin rajin ke kamar mandi. That’s why I said earlier… goblognya… goblognya…

Dengan kepercayaan bahwa saya ini adalah seorang Supergirl gadungan, saya malah tidak mau bin ogah untuk mengkonsumsi obat-obatan. Si Bunda malah dengan khawatirnya bilang, “Udah, cepet ke dokter, biar cepet sembuh. Periksain tuh perutnya. Ntar ada kenapa-kenapa lho…” Dan saya dengan badungnya bilang, “Ah, nggak apa-apa Bun. Besok juga beres….”

BESOK JUGA BERES PALE-LU, LA????

Karena besoknya saya makin tepar-par-par-par… :(

Selasa saya tepar. Ini hari terparah. Saya sendirian di rumah dan tidak ada yang meladeni. Waduh, kalau lagi begini, saya langsung dengan sok mellownya jadi pingin segera kawin aja. Halah. Kalau ini sih nggak usah nungguin elu sakit kali La.. :) Malemnya, saya nggak kuat dan segera kabur ke rumah Mbak Pit biar ada yang meladeni *di situ ada ‘asisten’ (pinjem istilahnya ya Om!) yang akan meladeni saya kalau ada kenapa-kenapa*.

… lalu menyerah, minum obat.

Rabu?

PARAH. Obat tidak banyak membantu. Mata saya cekung-kung-kung. Seperti pecandu narkoba deh, kayak di pilem-pilem ituh :)

Kamis?

Dimarahin Kakak Ipar, si Mas Ar. Dia, yang kebetulan cuti dua hari menjelang Aqiqah Keke *keponakan saya alias anak bungsunya*, langsung ‘menyeret’ saya ke UGD Rumah Sakit Mitra Keluarga. Akhirnya, karena memang sudah nggak kuat lagi dan takut badan saya jadi kurus kayak peragawati (kayaknya saya butuh diare yang menahun kalau pengen jadi peragawati! hahahaha), saya menurut juga. Di hari Kamis itulah… akhirnya saya di suntik!

Eh, ajaib!!! Sembuh!!! Kenapa ga dari dulu ya….. :)

Hari Jumat sampai hari ini.. alhamdulilah… jauh lebih mendingan… Kalau kata keponakan, “Aunty makannya sudah banyak, ngomongnya sudah cerewet… kayaknya sih sudah sembuh deh…” Hahaha.. tauuuu ajah!

Sampai di sini, saya jadi cengar cengir sendiri.

Hati kecil saya bilang begini: “OK, La. Kalau urusan lu batuk, lu pilek, lu sakit flu… sehari lu tahan, masih OK lah… Tapi kalau udah urusan perut lu melilit, terus lu boker sampe lebih 20 kali sehari… dan lu lemes… dan lu kayak orang mau mati begitu… kayaknya lu sinting kalau masih percaya lu itu punya anti bodi yang hebat kayak Supergirl… Ya, emang rada langsing sih.. tapi mana enak kencan sambil kepala nyut-nyut dan boker tiap sepuluh menit sekali?? Nikmatnya dimane, Mpok…”

Argh…

From now on, I have to stop thinking that I have a great antibody and start using medicines and go to the doctor if needed.

Because you’re just a flesh blood, Dear… Lu bukan Supergirl!! :D

*sambil janji, kalau kapan-kapan sakit lagi (knocked on wood, again.. hehe), saya nggak akan sungkan-sungkan ke rumkit…*

*pppssstt… apalagi perawat yang handle saya kemarin…. manis banget!!! huahahaha… Ternyata oh ternyata, penyakit tidak membuat sifat ganjen saya berkurang… hihihihi*

*aaaahhh… senangnya bisa ngeblog lageeehhhh!!! Uhuiii.. :D *