ketika saya harus pergi… (3/7)

Kamu sedang duduk di depan meja rias, bercermin mengamati wajah sendumu di sana ketika saya datang. Perlahan, saya peluk kamu dari belakang. Saya ciumi belakang kepala kamu, leher kamu, dan saya peluk kamu erat-erat. Herannya, wajahmu nampak makin sendu. Kenapa, Sayang?

Hey… I’m here…” kata saya lalu membawanya ke atas ranjang, duduk di bagian tepinya. “Kok masih sedih, sih?”

Kamu diam, tapi saya tahu, hatimu ingin berteriak tapi tak mampu.

“Kamu kenapa? Is everything alrite?”

Kamu menggeleng. “Semuanya nggak baik-baik aja, Sayang… It’s never alrite, kamu tahu???” Nadanya meninggi. Kamu kenapa, Sayaaaannnggggg…

Kamu beranjak dari samping saya, mondar-mandir di depan saya sambil menggerutu tak jelas. Sungguh. Saya nggak bisa mendengar dengan pasti apa yang sedang kamu omelin itu, Baby. Apa? Kenapa?

I don’t know… Kamu yang kasih tahu saya, Baby. Apaaaaa…??? Apa yang sudah bikin kamu uring-uringan begini… Nggak biasanya kamu marah begini… Biasanya kamu malah menunggu-nunggu kedatangan saya… Kamu jadi aneh begini…”

“ANEEEHHHH????” Nada suaramu masih tinggi. “Ya, saya memang aneh. Goblok. Tolol.” Kamu malah memaki-maki diri kamu sendiri.

Saya coba untuk meraih tanganmu, tapi dengan serta merta kamu menepisnya.

Baby…”

“Kamu tahu?? Kamu tahuu???”

“Apa, Sayang…”

“Saya capek….” Kamu mengucapkannya dengan nada suara yang lemah. Berbeda sekali dengan kamu yang tadi.

“Kamu capek kenapa Sayang?” Saya meraih tanganmu dan kali ini kamu menurut untuk duduk di samping saya, lalu kamu sandarkan kepala kamu di bahu saya.

“Saya capek….”

“Iya… capek kenapa…”

Saya pandangi wajahmu. Matamu mulai berair. Bibirmu pun bergetar. Detik itu juga saya memilih untuk mencium bibirmu, menghilangkan segala gundah di hati kamu yang entah apa itu. Kamu memang tak bereaksi; cenderung dingin saja ketika saya kecup bibir bagian atasmu dengan lembut. Lalu saya peluk kamu erat. Lebih erat. Kita berdua seperti manusia yang terlahir tak sempurna. Sungguh lekat.

Saya rasakan hembusan nafasmu, lekat sekali di telingaku. Begitu memburu. Seolah ada yang sedang berusaha kamu buang lewat setiap hembusannya.
Oh Sayang…. Saya cinta sekali kamu… Kamu kenapa…

Detik perlahan berubah menjadi menit. Dalam diam, kamu pun mulai mengendurkan pelukan saya. Kamu menatap saya. Setelah itu, kamu memejamkan mata dan mulai mencium saya. Saya membalasnya.
Lalu kita bercinta.
Dan bercinta.
Dan ketika pagi mulai menyentuh dan saya harus pergi, kamu pun berbisik di telinga saya, yang membuat saya menangis saat mendengarnya.

“Saya capek harus terus kamu tinggalin seperti ini, Babe… I want to hold you.. forever! Saya capeekkk… Saya ingin berhenti saja…”
Saya menangis, Sayang.
Karena kamu tahu, saya tak mampu untuk meninggalkan dia…

masih bersambung… ketika saya harus pergi (4/7)