when I can’t see a light…

(inspired by Abang Hery Azwan di blognya ini )

Saya adalah perempuan yang phobia terhadap ruangan yang gelap. Saya bisa sesak nafas karenanya. Tiba-tiba hidung pesek saya ini langsung kesulitan mencari pasokan oksigen untuk paru-paru saya. Sepertinya kemampuan untuk bernafas mendadak sulit sekali dilakukan. Saya bisa menangis, karenanya. Saya bisa sangat, sangat, ketakutan.

Ya.

Sampai seperti itu.

Yang menolong saya untuk ‘terus bernafas’ setiap saat listrik padam di rumah ketika malam sudah gelap adalah dengan melihat satu titik di atas langit. Entah melihat bintang, entah melihat sinar bulan, atau melihat satu titik cahaya dari kilatan lampu pemancar radio yang berlokasi di dekat rumah, yang pastinya masih menyala karena bantuan genset. Setitik cahaya merah berkedip-kedip yang membantu saya memberikan sugesti bahwa it’s not that dark after all… masih ada cahaya, Lala… Di situ… di luar sana… So don’t be afraid… Keep on breathing, Sweetheart… C’mon…

Lalu saya memandang setitik cahaya itu. Hanya satu titik saja, tapi bisa membuat saya melewati ketakutan-ketakutan saya. Hanya satu titik saja, sudah cukup untuk membuat saya  tertidur nyenyak setelahnya. Tak perlu cahaya berlebihan seperti nyala lilin, flashlight, atau sinar dari emergency lamp. Karena saya hanya butuh satu keyakinan… that it’s not that dark after all…

Hmm.

Hanya dengan satu titik dan saya bisa bernafas dengan lega.

Tapi apa yang terjadi jika bahkan satu titik kecil cahaya itu tidak pernah nampak di mata saya?

Sehingga kegelapan yang gulita itu mengurung saya dalam tempo waktu yang tak bisa terbayangkan?

Apa jadinya dengan Lala, seorang perempuan yang takut terhadap gelap itu?

Mungkin…

Saya akan menangis tanpa henti. Atau perlahan-lahan, mensugesti diri bahwa saya tidak akan bisa bernafas karena gelap…

Tapi saya masih bisa punya keyakinan, kalau gelap itu akan berangsur lenyap. Bahwa meskipun tidak dalam tempo waktu yang saya ketahui itu, saya masih akan bisa menikmati cahaya lagi, dan terbebaskan dari kegelapan yang membelenggu saya saat itu. Sehingga saya bisa bebas bernafas lagi… Bebas tersenyum lagi… Bebas melakukan apa saja seperti sebelum-sebelumnya…

Lantas…

Bagaimana dengan orang-orang yang tak memiliki keyakinan itu? Bagaimana dengan mereka yang berhenti berharap pada keajaiban bernama cahaya, yang akan datang menerobos penglihatan mereka? Bagaimana dengan mereka yang terlahir tanpa mengetahui bahwa cahaya itu ada?

Lala, oh, Lala… bukankah mereka masih bisa bernafas, berinteraksi, dan melakukan hal-hal yang (bahkan) sangat mengagumkan itu? Kegelapan tidak membuat mereka berhenti menjadi manusia yang utuh. Kegelapan tidak menghalangi mereka menjadi orang yang hebat. In the darkness… they can see everything with their hearts… their intuitions…

Sampai di sini, saya seperti tertampar oleh realita.

Ketika saya ketakutan terhadap gelap, justru dalam kegelapan, teman-teman saya yang tidak memiliki kemampuan melihat malah menemukan dunia mereka. Berhasil menciptakan hal-hal yang tak bisa saya lakukan. Berhasil menjadi orang yang jauh lebih sukses dibandingkan saya yang memiliki panca indera lengkap tapi masih malas-malasan dalam mewujudkan mimpi-mimpi.

Kini, saya tahu.

Setitik cahaya adalah mimpi buat mereka, teman-teman saya yang tuna netra itu.

Dan, saya… tidak hanya memiliki satu titik cahaya saja. Tapi saya memiliki serangkum cahaya berwarna warni yang silih berganti dalam batas pandang saya.

Berarti saya memiliki mimpi mereka.

Masihkah saya harus putus asa dalam berjuang untuk bisa terus bernafas ketika kegelapan menyelimuti?

(Ayo Lala… don’t let this ‘darkness’ makes you drowned… Come on… get up, get up… BREATHE!)

when it comes back to my ears…

Ada sebuah kalimat yang meluncur dari mulut salah satu Adik Manis saya, Gang Maru, si Momo-Chan, ketika kami janjian bertemu di Delta Plaza, kemarin sore.

Kata-kata sederhana yang cukup menyentak perasaan saya.
Kata-kata ini:

“Lho, Mbak kan yang paling bisa ngasih kita nasehat, kok malah putus asa begini, sih?”

Hm, kenapa si Adik Manis itu tiba-tiba berkata demikian?

Pastinya, dia memiliki alasan yang sangat spesifik untuk mengatakan kalimat itu, persis ketika dia menemani saya hunting kopi Torabika Capucinno with choco granule yang dua sachetnya sudah habis terminum pagi ini.

Di salah satu lorong supermarket itu, Momo-Chan berhasil membuat saya berhenti sejenak. Untuk berpikir, untuk refresh kembali pikiran saya, dan menyadari bahwa saya memang tidak boleh melakukan sesuatu in emotional based.

Apakah itu?

OK. Saya akan sedikit malu untuk menceritakannya, but hey… kan saya emang open diary? Bahkan suatu personality test via internet pun mengabsahkan ke-njeplak-an saya (halah, bahasanya ini Om banget sih.. hehe). Jadi, what the heck, saya akan cerita saja :)

Buat yang tahu saya banget, pasti sudah tahu kalau saya ini punya  satu mantan kekasih yang sampai sekarang entah kenapa masih dengan khilafnya ingin menikahi saya. Haha, padahal apa sih yang hebat dari seorang Lala? Selain kadar kebawelan yang tinggi ini? Hehe…

Yang pasti, dia sudah ‘melamar’ saya sejak Agustus tahun kemarin. Dia bilang, “Gua akan nungguin elu, Sayang…”

Dan ada sejarah di antara kami berdua yang membuat saya tak segera bilang, “OK, saya mau. Tungguin ya?” Sehingga saya hanya bisa bilang, “Hmm… I don’t know… We’ll see about that.”

….and he did wait… nope, he’s waiting till this very momment.

Saat dia menunggu, saya berpacaran dua kali, dengan orang yang berbeda. Yang satu, si Orang Jelek itu. Dan yang kedua, dengan Piano Man a.k.a Pacar yang sampai detik ini masih jadi orang yang terindah buat saya.

Yang membuat saya tidak percaya adalah, meskipun saya sedang menjalani semua ini dengan orang lain, The Ex itu masih dengan setia menunggu. Dia bilang, “Gua tungguin elu sampai elu capek mencari calon suami, Sayang…. Elu ga ngeliat apa, kalau kita ini jodoh?”

well, jodoh atau nggak, itu bukan urusan saya, Ex… Karena saya ingin menjalani semuanya sampai saya capek sendiri… dan kalau memang saya berjodoh dengan kamu, then we’ll see about that later.

Nah.

Apa hubungan antara kalimat Momo dan ilustrasi yang saya ceritakan tadi?

Hmm…

Karena saat berjalan di salah satu lorong supermarket dan sibuk mencari-cari kopi favorit, tiba-tiba saya nyeletuk begini:

“Hhh…… apa aku nikah aja sama si Ex ya…” Setelah saya cerita dengan Adik Manis saya itu, kalau hubungan saya dan Pacar tidak jelas kemana arahnya.

“Lho, kan katanya Mbak Lala nggak ada feeling sama dia, kok sekarang ngomong ini sih…”

“Abisnya…. aku pingin cepet-cepet merit nih. Nggak apa-apa deh, biar kata merit nggak pake cinta…”

Lalu meluncurlah kata-kata yang membuat hati saya tersentak itu.

“Lho, Mbak kan yang paling bisa ngasih kita nasehat, kok malah putus asa begini, sih?”

DZZZIIIGGGHHHH…

Seorang Lala yang rajin nasehatin orang kok malah sekarang keok duluan…. :(

Arrghhh.. payah nih…

Tapi kemudian… later that night… saya menyadari sesuatu.

Bahwa ketika kamu menasehati seseorang… say it out loud (I mean, sampai kamu bisa mendengar sendiri di telinga kamu) lalu bisa terekam otomatis dalam ingatan kamu… and who knows, you’re going to need that to solve your own problems in the future... We’ll never know, rite?

Seperti nasehat yang pernah saya berikan pada Momo-Chan….  Yang akhirnya harus kembali lagi mengalun ke gendang telinga saya.

Karena si Adik Manis itu bilang begini:

“Jangan menikah tanpa cinta, Mbak. Atau karena terpaksa. Karena menikah adalah komitmen seumur hidup kan? Daripada menyesal, mendingan menunggu saja sampai ketemu dengan orang yang tepat…”

Iya, Adikku.

Thanks a bunch for reminding me….. :)

And I will find that guy…. A guy that will end my journeys in finding love… A guy that will never leave in my rainy days… I will find him… I will.

ternyata Lala itu….

Yes, Sistah…

Saya akhirnya ketularan juga ikutan personality test ala dirimuh dan Om Tersayang ituuuuuhhh… (siap-siap diledekin nih…. hihihi) Setelah pagi-pagi datang ke kantor, menjerang air buat bikin kopi Torabika Cappucino with choco granule yang uenak buanget itu, akhirnya saya buka page yang dimaksud untuk ikutan latah cari tahu, seperti apa sih seorang Lala ini…

Dan setelah bermenit-menit mengerjakan ratusan soal (dan menit-menit ekstra untuk buka kamus Inggris-Indonesia.. hehe), akhirnya… voila! Inilah hasilnya! Eng ing eng…..

Ternyata, Lala tuh….

Click to view my Personality Profile page

Extraverted? Hahahaha….. ini jelas banget, Sodara-Sodara sekalian! Malah kata Om, saya ini open diary…

More intuitive? Apa ini karena saya seorang Paranormal Gadungan? hehehe…

Do more thinking than using my feelings? aahh…. nggak deh kayaknya… karena bedanya tipis sekali Sodara-Sodara…

Perceiving? Daripada too much judging… yeah, OK

Originator? Hmm…. okay…

Intellectual? Eh, masa sih…

Linguistic? Ha, 100% tuh…… hehehe.. yang ini… yang ini.. saya setuju banget…

Musical? Hm, just because I love to sing and hear musics… ya, ya, ya.. I think I am

So? What do you think, Guys?

Ada yang keberatan barangkali karena hasilnya terlalu pintar dan berlebihan??? :)

Tapi..

Saya sedih nih…

Karena ternyata oh ternyata…. kemampuan matematika saya memang super minim… hahahaha…. (pantes aja pas kuliah dulu sempet ngulang lagi semester berikutnya.. hihihi)