…in a thin ice

Thin ice.

Kamu kebayang nggak sih, apa yang saya maksud?

Okay, sebelum terlalu panjang, saya akan menyamakan persepsi saya dengan kamu. Thin ice yang saya maksud adalah sebuah danau, sungai, atau laut yang membeku ketika musim salju (hey, ini memang hasil nonton film-film drama romantis Hollywood itu!). Biasanya sih, saat permukaannya menjadi es, tempat itu dipakai untuk bermain ice skate. Cuman, bermain di tempat ini harus ekstra hati-hati. Kenapa? Ya pastinya, karena kita kan tahu kalau sebenarnya di bawah permukaan es itu ada air yang dalam, yang mungkin bisa menenggelamkan kita, dan membuat tubuh kita menggigil kedinginan.

So? Are you thinking what I’m thinking?

Nah.

Lantas kenapa judul post kali ini adalah a thin ice?

Hmmm…

Ini terinspirasi dari cerita seorang teman, yang belakangan hatinya murung karena dia mencintai orang yang tak akan pernah bisa mencintai dirinya. Not like she always wants him to be. Karena ada batas di antara mereka yang terlalu tinggi untuk terlampaui.

He’s not hers…

And she’s not his…

Mereka saling mencintai, tapi mereka tahu, kemanapun mereka melangkahkan kaki, kedua pasang kaki mereka itu tidak akan sampai kemana-mana. Mereka hanya akan stood still, tidak ada tempat yang mereka tuju. Mereka diam dalam waktu. Mereka akan membeku di tempat pertama kali mereka bertemu.

They’re not going anywhere… and they are aware of that…

“Yang penting aku bahagia…” kata Teman dengan mata berair. “Ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta tanpa menuntut…”

…karena memang, buat Teman saya itu, mereka tidak kemana-manapun tidak apa-apa, asal Teman saya tahu, lelaki yang paling dicintainya itu membalas apa yang terasa hangat di dadanya. Asal si Lelaki mencintainya, mengakui kalau Teman adalah perempuan yang terindah di hatinya, itu jauh lebih dari cukup. Tak perlu komitmen, tak perlu I love you setiap menutup telepon, tak perlu pelukan tiap hari untuk menghangati tubuhnya… Yang terpenting adalah: he loves her… and she loves him too…

Dan ketika si Lelaki mulai menyadari bahwa sudah saatnya mereka berhenti bermimpi dan memanjakan segala hasrat yang tak mungkin kesampaian itu, Teman merasa dunianya runtuh. Dia tahu, rasa cintanya buat si Lelaki adalah segalanya. Tapi dia harus menyadari, bahwa cintanya buat si Lelaki, akan melukai banyak hati.

She loves him too much to ruin everything.

But…

She loves him too much to just leave from his sight…

And let him leaves from hers…

“Aku nggak tahu harus gimana…. I love him.”

“Aku tahu.”

“Baru pertama kali aku mencintai seseorang, dengan membiarkan orang itu bahagia, meskipun aku terluka…”

“Hmm… aku tahu…”

But then I’m going crazy….

argh….

Keindahan yang semu. Yang nampak indah tapi sebenarnya mencelakai. Yang keliatan membahagiakan tapi sebenarnya mengiris hati.

Seperti menari-nari di atas lapisan es di permukaan sungai yang membeku.

Yang sewaktu-waktu bisa retak.

Yang sewaktu-waktu bisa membuat kita terperosok dan terjatuh di dalam celahnya.

Yang sewaktu-waktu bisa membawa kita tenggelam tak berdaya, sambil menggigil kedinginan karenanya.

Itulah, Teman. Itulah yang kini kamu lakukan.

Tapi Teman seolah tak peduli. Dia terus saja menari-nari di atasnya. Mengajak si Lelaki untuk terus berdansa di atas lapisan es yang mudah retak dan entah kapan akan membawa mereka terperosok ke dalamnya. Menari terus, dan terus, dan terus… sampai mereka lelah sendiri… Sampai lapisan itu retak dan mencelakai mereka…

Mereka terus menari….

Dan menari…

Dan menari…

Terus… dan terus…. sampai hari ini.

Saya tahu, mereka berdansa sambil memeluk… Sambil saling mengecup bibir… Sambil saling menghangatkan….

Tapi saya juga tahu…

Mereka berdansa…. sambil berlinangan air mata.

 

…I dont’ know when that thin ice will crack… But I’ll be there to help you get out from it… I promise!

 

ketika saya harus pergi… (2/7)

Saya sedang duduk sendiri. Setelah pergi dari rumah kamu, saya seperti tak punya arah dan tujuan. Seperti melayang tanpa mengerti harus kemana. Ingin sekali bisa hangat bercengkerama dengan kamu sambil menikmati hujan yang turun di depan teras. Mengomentari tentang berita-berita di koran, menggoda kamu yang sering bengong setiap saya bicara soal politik, lalu kamu menyandarkan kepala kamu di dada saya dan membiarkan waktu berlalu dalam diam. Ya, diam, tapi saya tahu, dan kamu pun juga tahu, hati kita yang sedang berdialog dan saling bercerita saat itu.

Ah…
Sampai kapan saya begini? Harus puas menikmatimu tanpa bisa memiliki? Harus bisa memilih, kamukah? Diakah? Dia yang memiliki saya. Dia yang membuat saya tak akan pernah bisa memilikimu… tak pernah boleh…

“Udah dateng rupanya. Darimana?” tiba-tiba dia sudah datang.

“Saya nggak kemana-mana, kok…”

“Oohh…” Dia duduk mendekat. “Wajahmu kenapa?”

“Kenapa?”

“Keliatan sedih sekali…” Dia mendekat, mengusap wajah saya. “What happened?”

Nope.. nothing.” Padahal saya tahu, dia bisa mengetahuinya dengan mudah. Tapi saya nggak ingin cerita. Dia tahu saya lebih memilih kamu, Sayang. Tapi dia tahu, saya nggak akan bisa meninggalkannya… uuuuhhh!!!

“Kamu tadi ketemuan sama dia, ya?” Dia tersenyum. “How was it?”

“Udah, ah, nggak usah nanya-nanya.” Saya mulai ketus.

“Kamu masih nggak bisa ninggalin dia?”

BAGAIMANA BISA??????
Dia menyentuh pundak saya.

She loves you…

Saya tahu. Saya tahu kamu mencintai saya; karena saya juga sangat sangat cinta sama kamu…

But I love you the most,” kata dia sambil mengerling.

Dia mengecup kening saya. Hangat sekali. Saya merasakan kehangatan itu mengalir ke dalam pembuluh darah saya. It feels so warm… Dan saya merasakan cinta itu… Cinta darinya yang sungguh berbeda…

Uuuh… tapi saya cinta kamuuuu!!!!

masih bersambung….ketika saya harus pergi… (3/7)

after 23 years…

My long lost bestfriend

My long lost bestfriend

Kota Jakarta tidak hanya menyimpan kebencian yang amat sangat terhadap Orang Jelek Itu (which actually, sudah tidak lagi saya benci karena saya sudah memutuskan untuk let go), tapi di belantara Ibukota yang banyak orang bilang kejam *tapi banyak pula yang datang untuk mengais rejeki* itu, juga menyimpan seorang sahabat masa kecil yang baru bertemu kembali setelah puluhan tahun berpisah, Mbak Neph.

Banyak yang tidak percaya kalau saya masih bersahabat dengan teman TK saya. Apalagi kami dipisahkan jarak yang sangat jauh untuk ukuran anak umur 5 tahun, kala itu. Apa sih yang masih terekam dalam ingatan bocah umur lima tahun? Apa memungkinkan daya ingat kami yang terbatas itu mengingat kembali pada persahabatan masa kecil, 23 tahun yang lalu?

Saat itu kami berdua memang sangat dekat sekali. Saya sendiri lupa bagaimana kami bisa dekat. Apa Mami yang bersahabat dengan Mama? Apa memang ini semua karena ulah Mbak Pit yang bersahabat dengan Mbak Ika?

Yang saya ingat…

Mbak Neph, saat itu, adalah anak kecil yang tomboi. Tidak seperti Jeung Lala yang kemayu dan keliatan narsis-nya sejak usia dini :D

Kalau saya pakai baju kebaya Jawa saat peringatan Hari Kartini, Mbak Neph memilih memakai baju Dayak Kalimantan.

Kalau rambut saya dikuncir tinggi-tinggi, Mbak Neph memakai ikat kepala.

(ah, aku masih mencari photo-photo masa kecil itu, Mbak… tunggu ya…. ntar aku upload deh)

Kata Mami, karena saya lebih luwes, saya lebih sering menang lomba Kartini-an daripada Mbak Neph (aduh, aku nggak bisa klarifikasi nih, Mbak… Soalnya ini kata Mami, bukan akyuuuhh.. hehehe). Masih kata Mami, “Akhirnya Mamanya Nevi beliin hadiah yang sama buat Nevi, supaya Nevi nggak gondok…”

Lucu ya?

Saya dan Mbak Neph hanya dekat selama setahun. Saat itu, Mbak Neph harus pindah ke Jakarta, sementara saya tetap di kampung halaman tercinta, alias Surabaya. Umur lima tahun, kami berpisah. Tidak ada acara tangis-tangisan saat itu (nggak seperti di Gambir kemarin ya, Mbak? Waktu keretaku mau berangkat ninggalin Gambir dan kita nangis bombai kayak orang pacaran itu? hehehe). Ah, ini karena kami masih terlalu kecil jadi belum tahu kalau perpisahan itu artinya kita akan jaraaaaannggg sekali bertemu dengan orang itu.

Tapi, meskipun dibatasi dengan jarak yang ratusan kilometer itu, kami masih saling bertukar kabar lewat surat. Tadinya sih cuman nitip-nitip salam lewat Mbak Pit dan Mbak Ika, tapi setelah kami mulai cukup besar dan bisa menulis sendiri, akhirnya kami pun menulis surat dan menitipkannya ke kedua kakak kami tercinta itu. Itulah kenapa saya hafal sekali dengan alamat rumah Mbak Neph. Hafal, fal, fal, fal di luar kepala. Sampai sekarang!

Dan tahu ga, sih.. ini sangat membantu saya ketika saya sedang ada di Jakarta dan kepingin ketemu dia…

Ceritanya, sejak terakhir kali bertemu saat umur lima tahun itu, kami praktis tidak pernah bertemu lagi. Surprisingly, Mbak Neph adalah saudara sepupu tetangga yang saya taksir! Aha! Tengsin dong saya. Ini saya ketahui ketika Mbak Neph main-main ke rumah saudara sepupunya itu. Saat kami sudah 12 tahun dan sama-sama chubby itu…

Tapi kami tidak otomatis menjalin hubungan lagi. Hm, kenapa? Mungkin karena saya sudah punya teman-teman baik di Surabaya, sehingga saya tidak lagi menjalin hubungan dengan Mbak Neph. Dan saya pikir, Mbak Neph pun berpikiran hal yang sama.

Sampai suatu ketika, saya berlibur ke Jakarta. Saat kesepian tengah malam, entah kenapa tiba-tiba saya teringat kalau saya punya teman masa kecil di kota ini. Ah… tapi gimana caranya mencari tahu dia ada di mana ya? Masa tanya tetangga saya yang ganteng itu? Masa saya ngubek-ngubek Jakarta (hell, gila aja kali! hehe)? Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menelepon rumahnya sambil berharap, Mbak Neph tidak pindah rumah!

Bermodal ingatan itulah, saya mencari tahu nomor teleponnya. Setelah tahu, buru-buru saya mendial nomor telepon tadi. Agak deg-degan saat itu, takut sekali kecewa. Tapi setelah telepon itu tersambung… senyum saya segera terkembang dengan sempurna… karena…… it was her who picked up the phone!!!

Aaahhh…

Senaaaannnggg sekali. Setelah puas ngobrol sambil mengenang masa lalu, saya dan Mbak Neph pun berjanji untuk ketemu esok malamnya. Saya tidak tahu kapan persisnya, tapi in that March, 2003, akhirnya saya bertemu kembali dengan sahabat masa kecil yang sudah 18 tahun tidak bertatap wajah…

Hmmm….

Saya sangat bersyukur karena masih bisa bersahabat dengan perempuan manis yang super baik ini. Kalau bukan karena dia, saya bakal down sekali ketika Pacar meragukan saya. Kalau bukan karena dia, saya bakal sedih sekali setiap malam. Kalau bukan karena dia yang selalu mendengarkan saya, mungkin hari-hari saya di Jakarta adalah living hell.

I have to admit that she’s really my angel. Dia yang telah membuat saya bertahan selama di Jakarta dan selalu menumbuhkan semangat setiap saat saya meragukan kemampuan diri saya sendiri. She makes me stronger than ever. Mungkin tidak melulu dengan kata-kata yang (tumben, Mbak) bijak :) Tapi juga lewat usapan di punggung, sodoran tissue ketika hidung meler, dan sentuhan lembut di punggung tangan. It was so simple, but I felt it so damn special.

And now…

After twenty three years…

Saya tahu, saya adalah termasuk orang yang terpilih.

Ya.

Terpilih oleh Tuhan, untuk memiliki seorang Sahabat yang baik, seperti Mbak Neph… :)

Miss ya, Mbak!!

ps. Mbak, Mbak… jadi ke Bali, kan???