Ini adalah sebuah fiksi (been posted earlier in this blog tapi saya putuskan untuk membaginya menjadi 7 bagian biar lebih enak di baca… apalagi buat kamu-kamu yang doyan speed reading itu! hehehe. Enjoy!)
Kamu membuka jendela kamarmu, setelah mengikat tirainya di samping kiri dan kanan kusen jendela. Matahari pagi memang belum mengintip, tapi dari sejuknya udara yang menerobos masuk ke dalam kamar, saya tahu, ini sudah saatnya. Sudah pagi.
Hhh.. Saya hanya bisa memandangi sosok tubuhmu yang berjalan mendekat ke ranjang; mendekati saya yang masih terkurung selimut; yang hangat, karena saya dan kamu. Setelah sosok kamu mendekat, akhirnya saya bisa jelas memandangi wajah cantikmu itu. Hh, you’re always this beautiful. Entah rahasia apa yang diturunkan oleh Ibunda dulu karena anak perempuan satu-satunya ini telah menjelma menjadi sosok wanita yang anggun dan sangat cantik.
“Ngeliatin apa kamu?” Suaramu manja. Saya mencubit hidung kamu, gemas sekali rasanya.
“Ngeliat kamu, lah… Kamu yang cantik..”
“Saya baru bangun begini kamu bilang cantik?” Kamu mulai merajuk. Kamu tahu, saya selalu menganggapmu cantik. Sejak pertama bertemu sampai detik ini, kamu tahu, saya adalah pengagum sejati seorang kamu. Dan kamu menikmatinya. Dan kamu membiarkan saya melakukannya.
“You’re always beautiful… Nggak usah nanya lagi deh,” kata saya lalu mulai bangun dari ranjang, setelah mencium bibirmu dengan hangat.
Kamu memperhatikan saya yang tengah mengambil celana panjang yang kemarin saya lempar entah di mana. Saya butuh penerangan yang cukup, tapi kamu selalu menolaknya. Kamu lebih menikmati suasana yang damai; kamu bilang, dengan nuansa yang gelap, kita bahkan bisa mendengarkan detak jantung kita yang saling bersahutan. Hmm.. terserah kamu saja, deh.
“Kamu harus pulang?” Kamu bertanya. Wajahmu nampak tidak senang. Ohh… Sayang… jangan sedih begitu yaa? Kamu tahu, saya juga beraaat sekali meninggalkan kamu, tapi…
“Nggak bisa ya, kamu tinggal lebih lama?” Kamu memohon.
“Baby…. please…. kamu tahu kan…” Saya cium hidungmu. Sekilas.
“Kenapa saya nggak bisa memiliki kamu sepenuhnya, Sayang?” Kamu memandang saya dengan kedua bola mata kamu yang cantik. Bola mata yang diteduhi dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Bola mata berwarna hijau kecoklatan yang indah; yang membuat siapapun merasa jatuh cinta seketika itu juga setiap memandangnya.
“Baby….”
Kamu mulai merengut. “Ya, ya. Saya tahu…. You don’t belong here…” katamu dengan mulut cemberut; membuat saya ingin mencium bibirmu terus menerus tanpa kenal waktu… “Ya sudah, pergi sana. Pack your bags, then leave me… like always...” Kamu terlihat sangat sedih.
“Baby,” kata saya sambil duduk di sebelahmu, “Kamu tahu, saya nggak bisa melakukan apa-apa, kan? This is fate… I don’t belong here.. Saya musti pergi dulu, okay?” Saya cium kening kamu, turun ke hidung, lalu mencium lembut bibirmu sekali lagi. Saat saya mencium hidungmu, saya merasakan ada butir air mata yang menetes dari mata indah milik kamu itu. You’re crying… Oh Geez! I hate it when you cry! Saya seperti kehilangan segala daya untuk meninggalkan kamu!
“Sudah, sudah, pergi aja. I’m okay… I really am…” Kamu tahu saya paling nggak tahan melihat air mata. Lalu kamu sunggingkan senyum palsu kamu; senyum yang tampak terpaksa, tapi tetaplah sangat manis di mata saya.
Kedua tangan saya memegang pipi-pipi kamu yang halus mulus. Saya pandangi kamu lamat-lamat sambil sesekali menghapus air mata kamu yang masih turun perlahan. “You okay?” tanya saya.
Kamu mengangguk. “Iya… Saya tahu kamu bukan milik saya. Saya paham kamu musti pergi. Tapi nggak apa-apa… I’m okay… Hmmm… as long as… you...”
“Kenapa? As long as I what?”
“As long as… you… come back again… every night… dan saya bisa tidur memeluk kamu…”
Oooh Baby…
(masih ada lagi…… ketika saya harus pergi… (2/7) Read the rest of this entry »