it will kill you…

2008 August 7
by jeunglala

Saya dikejutkan oleh seorang teman baik pagi ini, persis ketika saya sedang menyisip perlahan kopi instan Torabika Capucino with choco granule yang harumnya selalu bisa membuat hidung saya megap-megap semangat dan seolah mendapatkan suntikan energi untuk melewati hari ini.

Bukan kejutan seperti ini: tiba-tiba dia mengirim kue tar ulang tahun (plis deh, ulang tahun saya masih tahun depan).

Bukan kejutan seperti ini: tiba-tiba dia mendorong saya ke tangga terus saya jatuh terguling-guling sampai bawah (hei, ini sih saya bakal marah-marah, bukan terkejut! hehe)

Dia hanya bilang begini, “La, kadang saya cemburu dengan kamu dan Pacar.”

“Hah? Cemburu? Kenapa?”

“Ya… cemburu. Dengan cara kalian.”

“…” Cara kami… apa?

“Apa aura pacaran itu memang lebih romantis ya?”

lalu saya mulai menangkap kemana arah pembicaraan ini…

“…karena saya jadi bertanya-tanya, La… apakah pernikahan itu, dengan seiring berjalannya waktu, akan terasa hambar?”

….

Lalu dia bercerita soal perkawinannya. It’s been going on for years and years… lalu belakangan dia mulai merasa romantisme dalam pernikahannya sudah tidak sehangat dulu.

“Tapi saya cinta sekali dengan istri saya, La…”

I know…

“Dan dia juga cinta sekali sama saya…”

I bet she does.”

“Cuman saya merasa, kalau terlalu cinta, terkadang kita malah menjadi buta….”

….

Cinta.

Dalam kadar tertentu ia memang akan melumpuhkan seluruh panca indera. Seringkali, atas nama cinta, kita merasa berhak untuk posesif terhadap pasangan, merasa berhak untuk mencemburui setiap lawan jenis yang datang mendekati pasangan meskipun minus kepentingan romansa, berhak sedih karena pasangan terlalu sibuk, berhak menuntut, berhak menuduh karena hati mulai merasa curiga…

Tapi benarkah itu cinta?

Bukankah cinta adalah soal kita bahagia kalau orang yang kita cintai bahagia?

Bukan soal kita harus terus menerus menuntut untuk dibahagiakan oleh orang yang kita cintai…

Lantas mengapa kita seolah menganggap bahwa kita melakukan ini semua karena rasa cinta terhadap pasangan? Bahwa segala tindakan destruktif yang berlebihan itu adalah wujud dari segenap rasa cinta yang kita rasakan buat pasangan kita? Just to let them know that we love them so much…

seperti apa yang kita lakukan ini Pacar… we’re hurting each other in the name of love… a love that we can’t survive…

Tidakkah kita sadar bahwa itu bukan cinta?

Bahwa itu adalah ketakutan-ketakutan seorang manusia yang tak ingin merasa sakit hati (hell, siapa yang ingin sakit hati sih? Kecuali kamu masochist — eh, bener ga sih tulisannya– sejati, saya rasa nggak ada yang mau tunjuk jari di sini)

Bahwa itu adalah ketakutan-ketakutan kita, manusia biasa saja, yang hanya ingin merasa keindahan saja, kenikmatan saja… bukan kepedihan.. bukan hati yang teriris-iris lalu berdarah lalu mengaduh kesakitan… Tapi bahagia saja. Period.

Tapi…

Maukah kita menyadari bahwa itu memang bukan cinta… tapi kita yang egois? Tapi kita yang too demanding?

Hmmm…

In an instant, I remember this song….

Too much love will kill you
Just as sure as none at all
It’ll drain the power that’s in you
Make you plead and scream and crawl
And the pain will make you crazy
You’re the victim of your crime
Too much love will kill you
Every time

Too much love will kill you
It’ll make your life a lie
Yes, too much love will kill you
And you won’t understand why
You’d give your life, you’d sell your soul
But here it comes again
Too much love will kill you
In the end…

In the end

(too much love will kill you – Queen)

Hmmm… yes, indeed.

Too much love will kill us.

And in the end… we’re gonna regret about things we said and done back in the old days…

things that we did…

words that we said…

in the name of love.

Ps. Teman, sumpah, saya nggak tahu… saya nggak bisa menjawab pertanyaan sederhana kamu itu…. karena saya belum menikah… karena saya belum tahu romantisme pernikahan yang menghilang ketika tahun-tahun terus bergulir dan menggerus rasa cinta kita terhadap pasangan… tapi saya cuman bisa bilang begini sama kamu…

hurricanes may come along your ways… but please do remember the day you fell in love with your wife and why you chose her over any other girls… And when you remember all that…. soon you’ll recognize that you still have it… (because I know, you do) OK?

11 Responses leave one →
  1. 2008 August 7

    “apakah pernikahan itu, dengan seiring berjalannya waktu, akan terasa hambar?”

    Mungkin karena secara fisik akan ada banyak hal yg berubah, yg dulu cantik & ganteng jadi berubah..

    Kalo yang saya coba lakukan sekarang ini adalah, belajar lebih mencintai diri sendiri dulu, menerima dan memaafkan segala kelebihan dan kekurangan dlm diri sendiri. Semakin saya bisa menerima diri apa adanya, semakin mudah saya menerima dan mencintai pasangan saya..

    saran yang bagus, Mas Hari… Thanks ya…
    memang menurut saya, pernikahan yang didasari rasa cinta terhadap fisik akan sangat rapuh… karena seperti quote yang terkenal: beauty is skin deep. Somehow, kecantikan itu akan luntur karena waktu… dan apa yang terjadi sama pernikahan yang dibangun karena itu? Hmm…. you know the answer, don’t you?

  2. 2008 August 7

    lam kenal jeung :)

    salam kenal juga…

  3. 2008 August 7

    Its all about commitment, once you have it, then die with it…

    hmmm.. you’re rite!

  4. 2008 August 7

    enggak akan pernah bosen…sama seperti kita tidak pernah bosen dengan dunia..jika seseorang menjadi dunia kita, kita tidak akan pernah bosan. Coba temukan sisi lainnya saja :D

    haa…. nice … nice… thanks Ko! Kamu emang paling bisa! :)

  5. 2008 August 7

    si nia bener banget tuh. Palagi untuk umat Katolik tidak boleh ada perceraian. Itu adalah sebuah komitment yang memang harus dijaga dan dipelihara. Tapi soal hambar memang akan timbul, namanya juga manusia. Dalam kehidupan kita sendiri kan ada naik-turunnya tuh grafiknya. Apalagi kehidupan dua orang yang notabene “asing”. Dalam bahasa Jepang dikatakan, anak adalah darah daging tapi suami/istri biar bagaimanapun adalah TANIN (orang lain). Tinggal kitanya saja bagaimana mengusahakan supaya kehambaran itu tidak sampai merusak komitmen.
    Di Jepang skr terjadi banyak fenomena perceraian pada lansia (bankon rikon) diatas 60 th. (ntar deh dibahas di postingan tersendiri yah hehehe)

    yep… emang setahuku, orang Katolik itu nggak boleh cerai, ijin cerainya musti minta Paus dulu, dan itu ribet dan panjang dan susaaahh banget. But it’s good, though. Bikin kita ga asal minta cerai sama pasangan…
    eniwei,
    ada satu kalimat yang pernah dibilang sama si JB, my first boyfriend. Dia pernah bilang begini, “Yang paling susah dalam berkomitmen adalah how to keep our passion alive ketika passion itu semakin lama semakin menghilang…”
    Itu kalimat yang fenomenal buat aku dan aku pegang sampai sekarang: just in case I’ll have my storm in the future…

  6. 2008 August 7

    emang gaya pacaranya jeung lala gmana sihhh????

    gaya pacaran saya??
    yang jelas… normal normal aja….
    nah, normal itu sebatas apa, hayooowww…. :)

  7. 2008 August 7

    Ehm… Cinta??? Bisa pudar sepertinya… seiring dengan berjalannya waktu… jika tanpa di pupuk… hehe… kaya’ tanaman aja ya…
    Bener gak sih mbak???
    Kalo dah nikah… diniatin aja Ibadah pada Allah… Karena Tiap yang kita lakukan tuk membahagiakan suami ato istri kita pasti berpahala… InsyaAllah begitu ;)

    yaa…
    seperti taneman.. kalo ga dirawat, pasti layu deh…
    Ah.. pinter sekali kamu, Erna.. :)

  8. 2008 August 7
    heryazwan permalink

    Cinta memang harus terus direjuvenasi (ah istilah apa ini). Apalagi bagi suami istri yang tiap hari ketemu. Pasti sesekali ada rasa bosan. Makanya, peran pertengkaran sebenarnya bagus untuk menambah seru sebuah pernikahan. Karena biasanya, kalau habis berantem, bawaannya jadi lebih mesra. Memang waktu berantem dongkol banget, tetapi sesudahnya asyik lagi.
    Saya jadi curiga, jangan2 kalau rumah tangga tanpa pertengkaran bisa2 tidak akan langgeng. Halah…hipotesa apa lagi ini?

    Hm, Bang…
    Kalau berantem yang cuman skala kecil sih nggak masalah, tapi kalau sampai saling melemparkan kata-kata yang menyakitkan, aku rasa itu malah berbahaya dan tidak boleh sering-sering. Karena apa? Karena menurut aku… however we make up later that day, tetap saja somehow someday, kita akan mengingat kata-kata menyakitkan yang pernah diucapkan pasangan pada kita….
    Tapi ya…
    At some point, it’s important. Karena dengan bertengkar, itu artinya kita berusaha menyampaikan perasaan kita terhadap pasangan. But remember, tidak dengan egois…. just want to let them know how we feel.. itu aja.
    (bloggersoktaupadahalmeritajabelum.com)

  9. 2008 August 7

    ngeri juga ya kalo kaya gitu. smoga kita nggk ngalamin hal yang kaya gitu. kata temen si cintai orang karena pribadinya. coz it will linger for along along time ^_^ smoga badai itu hanya sementara..

    yes…
    love our partner not just by the look… karena penampilan itu menipu banget… (kalo saya sih, udah cantik, baik pula.. wakakakakak)
    eniwei…
    semoga kita ga pernah menghadapi badai…
    tapi hey
    badai bisa juga menguatkan kita… somehow. tergantung juga sih :)

  10. 2008 August 8

    u know what… sekalipun banyak bener hal yang katanya menyebalkan yang bakal terjadi setelah pernikahan, guess thats not stopping me from wanting to get married…

    dunno how but i have faith for thing called marriage… eeerrr correction… my marriage :D

    hey!
    I got the same confidence in myself! ^^

  11. 2008 August 9

    cinta memang harus dipupuk … bisa macam-macam bentuk dan caranya , kalau saya biasa sesekali (ma’af) .. kentut di depan istri .. cerita selanjutnya silahkan anda bayangkan sendiri …
    dan hari ini .. cara saya ternyata benar menurut mas butet kartaredjasa (kompas. sabtu, 9 agustus 2008, hal 14)
    salam kenal … :)

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS