Saya dikejutkan oleh seorang teman baik pagi ini, persis ketika saya sedang menyisip perlahan kopi instan Torabika Capucino with choco granule yang harumnya selalu bisa membuat hidung saya megap-megap semangat dan seolah mendapatkan suntikan energi untuk melewati hari ini.
Bukan kejutan seperti ini: tiba-tiba dia mengirim kue tar ulang tahun (plis deh, ulang tahun saya masih tahun depan).
Bukan kejutan seperti ini: tiba-tiba dia mendorong saya ke tangga terus saya jatuh terguling-guling sampai bawah (hei, ini sih saya bakal marah-marah, bukan terkejut! hehe)
Dia hanya bilang begini, “La, kadang saya cemburu dengan kamu dan Pacar.”
“Hah? Cemburu? Kenapa?”
“Ya… cemburu. Dengan cara kalian.”
“…” Cara kami… apa?
“Apa aura pacaran itu memang lebih romantis ya?”
… lalu saya mulai menangkap kemana arah pembicaraan ini…
“…karena saya jadi bertanya-tanya, La… apakah pernikahan itu, dengan seiring berjalannya waktu, akan terasa hambar?”
….
Lalu dia bercerita soal perkawinannya. It’s been going on for years and years… lalu belakangan dia mulai merasa romantisme dalam pernikahannya sudah tidak sehangat dulu.
“Tapi saya cinta sekali dengan istri saya, La…”
“I know…“
“Dan dia juga cinta sekali sama saya…”
“I bet she does.”
“Cuman saya merasa, kalau terlalu cinta, terkadang kita malah menjadi buta….”
….
Cinta.
Dalam kadar tertentu ia memang akan melumpuhkan seluruh panca indera. Seringkali, atas nama cinta, kita merasa berhak untuk posesif terhadap pasangan, merasa berhak untuk mencemburui setiap lawan jenis yang datang mendekati pasangan meskipun minus kepentingan romansa, berhak sedih karena pasangan terlalu sibuk, berhak menuntut, berhak menuduh karena hati mulai merasa curiga…
Tapi benarkah itu cinta?
Bukankah cinta adalah soal kita bahagia kalau orang yang kita cintai bahagia?
Bukan soal kita harus terus menerus menuntut untuk dibahagiakan oleh orang yang kita cintai…
Lantas mengapa kita seolah menganggap bahwa kita melakukan ini semua karena rasa cinta terhadap pasangan? Bahwa segala tindakan destruktif yang berlebihan itu adalah wujud dari segenap rasa cinta yang kita rasakan buat pasangan kita? Just to let them know that we love them so much…
…seperti apa yang kita lakukan ini Pacar… we’re hurting each other in the name of love… a love that we can’t survive…
Tidakkah kita sadar bahwa itu bukan cinta?
Bahwa itu adalah ketakutan-ketakutan seorang manusia yang tak ingin merasa sakit hati (hell, siapa yang ingin sakit hati sih? Kecuali kamu masochist — eh, bener ga sih tulisannya– sejati, saya rasa nggak ada yang mau tunjuk jari di sini)
Bahwa itu adalah ketakutan-ketakutan kita, manusia biasa saja, yang hanya ingin merasa keindahan saja, kenikmatan saja… bukan kepedihan.. bukan hati yang teriris-iris lalu berdarah lalu mengaduh kesakitan… Tapi bahagia saja. Period.
Tapi…
Maukah kita menyadari bahwa itu memang bukan cinta… tapi kita yang egois? Tapi kita yang too demanding?
Hmmm…
In an instant, I remember this song….
Too much love will kill you
Just as sure as none at all
It’ll drain the power that’s in you
Make you plead and scream and crawl
And the pain will make you crazy
You’re the victim of your crime
Too much love will kill you
Every time
Too much love will kill you
It’ll make your life a lie
Yes, too much love will kill you
And you won’t understand why
You’d give your life, you’d sell your soul
But here it comes again
Too much love will kill you
In the end…
In the end
(too much love will kill you – Queen)
Hmmm… yes, indeed.
Too much love will kill us.
And in the end… we’re gonna regret about things we said and done back in the old days…
things that we did…
words that we said…
in the name of love.
Ps. Teman, sumpah, saya nggak tahu… saya nggak bisa menjawab pertanyaan sederhana kamu itu…. karena saya belum menikah… karena saya belum tahu romantisme pernikahan yang menghilang ketika tahun-tahun terus bergulir dan menggerus rasa cinta kita terhadap pasangan… tapi saya cuman bisa bilang begini sama kamu…
hurricanes may come along your ways… but please do remember the day you fell in love with your wife and why you chose her over any other girls… And when you remember all that…. soon you’ll recognize that you still have it… (because I know, you do) OK?