Dalam batas pandangan saya sore kemarin, di atas sebuah kereta pagi Argo Anggrek yang membawa saya pulang kembali ke pelukan kampung halaman, Surabaya, saya melihat sebuah pemandangan yang seakan membuat saya merasa tercubit dengan realitas dan membuat saya menghela nafas panjang.
Apa yang saya lihat?
Hm…
It was just a simple sight, actually.
Bukan pemandangan mengharukan seperti seorang Ibu tua yang menjajakan dagangannya di sebelah luar kereta di stasiun Lawang, Semarang, sambil berteriak-teriak menawarkan barang-barang yang digendongnya. Ibu tua dengan wajah keriput, suara serak, tapi masih berjualan dengan semangat (meskipun pada akhirnya memang tidak pernah ada yang membeli).
Bukan pemandangan mengharukan lain seperti seorang Ibu yang mengusap wajah anaknya dengan kasih sayangnya, dan kebetulan mereka duduk di samping saya. Ketika si Anak mulai rewel, ngamuk-ngamuk, tapi si Ibu masih dengan sayangnya berusaha menenangkan si Anak. Meskipun si Anak bandelnya minta ampun, berteriak-teriak, nangis panjang, dan memukul-mukul wajah dan menjambak rambut Ibunya, tapi perempuan berumur 34 tahun itu *yes, I asked her! hehe* masih dengan sabarnya berkata, “Sayang, kamu maunya apa? Ayo, dong, Nak.. Jangan begini, ya.. Ibu bingung…”
…then I got this thinking, sebandel-bandelnya saya dulu, Mami masih selalu memeluk saya erat-erat dan mengusap rambut saya, sambil memberikan wejangan-wejangan ala seorang Ibu yang sungguh mampu menenangkan badai yang bergemuruh di hati. She was always there in my rainy days… and I need her now, to hug me.. to hold me… to calm my hurricane that I’m having right now…
Dua hal yang saya deskripsikan di atas adalah pemandangan yang sederhana. Tapi apa yang menginspirasi saya untuk menulis posting ini adalah bukan dua hal itu.. because it was too simple. Way too simple.
Apa?
Kemarin sore itu, beberapa menit lepas dari Stasiun Pekalongan, entah di mana letak persisnya *Ilmu Geografi saya cukup mengkhawatirkan, jadi maaf-maaf aja kalau saya nggak tahu.. hehe*, saya melihat pemandangan sederhana ini.
A rushing river to the sea.
Sebuah sungai yang mengalir menuju muaranya; Laut. Sungguh sederhana bukan?
Lantas kenapa itu membuat saya harus menghela nafas panjang?
Hmmm..
Karena saya akhirnya menyadari, bahwa bagaimanapun perjalanan yang kita lalui; mudahkah? Atau susah?; akan tetap menggiring kita untuk menuju muara kita, akhir dari perjalanan kita. Sebuah destiny atau takdir. Bagaimanapun berlikunya hidup yang sedang kita jalani ini, bagaimanapun banyaknya rintangan yang ada di setiap kelokan pilihan yang kita hadapi, bagaimanapun derasnya arus kehidupan yang mengalir, atau lambatnya waktu yang terasa ketika pedih menghujam hati… tetap saja, hidup kita akan terus mengalir.. mengalir.. dan terus mengalir, lalu berhenti… sampai ke muaranya…
Seperti sungai yang meskipun banyak tercemari oleh sampah yang menghambat alirannya tapi tetap saja, meskipun alirannya menjadi lambat, sungai yang tercemar itu akan mengalir juga menuju laut… that’s what life is.
And yes, the poluted river will sometimes explode… tak kuasa menahan polusi-polusi lalu mulai penuh dan banjir… bukankah kitapun demikian? Ketika kita merasa sudah tak kuasa menahan sakit dan luka lalu kita ingin teriak saja? …meskipun kita pun tahu, saat kita ‘meledak’ itu, hidup kita terus berjalan dan segala ledakan itu tidak membuat detik waktu berhenti berputar.
Sudah tahu kan kenapa pemandangan itu membuat saya menghela nafas panjang dan mengaduh sakit karna tercubit oleh realitas?
Karena saya masih naif….
Begitu memanjakan rasa sakit saya yang kehilangan Pacar dalam hidup saya.
Karena saya masih tolol…
Begitu bobroknya bendungan ketangguhan saya yang ‘hanya’ kehilangan statusnya saja, tapi bukan kehadirannya dari dalam hati.
Karena saya begitu bodohnya…
Menganggap bahwa hidup saya akan remuk dan hancur setelah saya (lagi dan lagi) kehilangan orang yang sungguh bisa menghadirkan senyum yang sempat hilang itu.
Now I understand, kenapa Tuhan Tercinta ‘membangunkan’ saya dari tidur sejam yang lalu, sebelum menyentuh stasiun Pekalongan…
Now I understand, kenapa Tuhan Tercinta ‘memaksa’ saya untuk melek dan menyuruh saya menoleh ke sisi jendela sore itu…
Karena Tuhan ingin mengingatkan saya kembali pada realitas ini.
Lala Sayang… it will always rush to the sea… Believe me, OK?
(Okay, Tuhan. I believe You… like always)