Sudah tau kan betapa saya benci dengan kota Jakarta? Karena di kota canggih dan modern ini menyimpan sejuta kenangan saya dengan Orang Jelek yang memang benar-benar sudah lenyap di telan bumi. Sejak saya sampai di stasiun Jatinegara, minggu kemarin, yang terbayang adalah wajah si Orang Jelek dan wajah Pacar tercinta. Si Orang Jelek begitu jelas terbayang karena luka masa lalu yang menyisakan benci begitu dalam. Dan Pacar, begitu jelas terbayang karena saya bertengkar hebat dengannya ketika saya berangkat ke Jakarta.
Sampai di Jakarta, yang terbayang memang si Orang Jelek itu. Bagaimana tidak? The last time I came to Jakarta, dia adalah orang yang paling sibuk mengurus semua keperluan saya selama di Jakarta. Kasarnya, dia yang bertanggungjawab menerima saya di Jakarta dan bertanggung jawab pula mengembalikan saya sampai di Gambir. Saya masih ingat sosok tubuhnya yang tertimpa sinar matahari saat menjemput saya. Dia begitu menawan meskipun dia bilang kalau mandinya cepat-cepat karena musti menyusul saya pukul enam pagi. Argh… I still remember how he helped me carry all my bags and we walked together.
Dan ketika kemarin saya tiba di Jatinegara, bayangan itu yang muncul. Menggoda ketangguhan hati saya yang sudah berjanji bahwa saya akan melupakan dia. I have a boyfriend, now. Dan saya cinta sama dia.. (meskipun akhirnya kami harus berpisah karena menurut pacar, we have to end it before it’s killing us more!). Rasanya tidak etis kalau saya masih memikirkan orang lain ketika hati saya sepenuhnya milik seorang Pacar, my pianist, who made my life became like a merry go round, with beautiful songs as its soundtracks *remember that story, Cinta?*
Perjuangan untuk tidak menangis selama di Jakarta adalah cukup berat. Bagaimana tidak? Sepertinya segala jalan yang saya lewati bersama Mbak Neph adalah jalan kenangan saya dengan dia. Terlebih ketika saya menyusuri jalan-jalan di daerah Kelapa Gading, daerah tempat kosnya, di mana saya yang dulu begitu repot mengurus segala keperluannya di sana. Argh, saya nggak berani berkunjung, Orang Jelek. Karena saya takut ketemu kamu dan mungkin akan ‘kalap’ di sana…
Itulah kenapa saya benci Jakarta.
Benci sekali karena once a while, ketika saya melihat sesuatu di luar kaca jendela mobil Mbak Neph, saya merasakan berjuta kenangan itu terputar kembali dalam benak saya secara otomatis. Menyakiti saya perlahan-lahan. Menggerogoti kekuatan saya. Membuat saya merapuh seketika.
Kebencian saya semakin menjadi-jadi ketika saya berusaha meneleponnya dan dia masih saja mendiamkannya. Hey. Marahkah kamu sama aku, Orang Jelek??? Bukankah kamu yang selingkuh lalu berencana kawin dengan orang lain?? Kenapa sekarang aku yang jadi seperti orang sinting dan seolah ngarep banget?? Damn.
Arrrgghhh…
I really really hate it. Benci yang amat sangat. Pingin saya ‘kruwes-kruwes’ mukanya dengan kalap… Haha.. ini sudah anarkis, Lala. Stop it.
Tapi itukah yang membuat saya masih menulis blog dengan internet gratisan pada hari menjelang pukul satu pagi ini?
Ow tidak…
Bukan itu.
Bukan itu.
Kamu tahu kenapa saya ketik “NOW I HATE YOU MORE!” di kolom judul di atas???
Well..
Ini karena…
Ketika kunjungan saya di Jakarta sekarang ini…
Saya berpisah dengan Pacar yang sangat saya cintai.
I know, bukan salah Jakarta.
Ini hanya waktu yang memilih ketika saya ada di Jakarta dan Pacar menyudahi semua yang kami miliki ini…
Now, you see why I hate Jakarta even more?
Because it reminds me of my heartache, once again…