Saya bilang Ties adalah cerminan seorang Lala karena entah kenapa, somehow, hidup saya dan Ties memiliki pattern of life yang bisa dibilang sangat mirip.
Kami lahir dari sepasang orang tua dan memiliki dua orang saudara. Bedanya, saya bungsu. Dia, anak tengah. Kami juga lahir di keluarga yang terlihat bahagia sekali, tapi ternyata menyimpan badai… Dan ini baru kami ketahui setelah beranjak dewasa. Pengalaman yang sama ini membuat kami sama-sama tahu bahwa segala hal yang indah di permukaan belum tentu indah di dalamnya. Dan untungnya, saya dan Ties tidak minder atau malu, tapi malah mempelajari sesuatu…. Ah, she’s a great mentor…
Kami sama-sama suka bahasa. Dulu pernah hampir satu fakultas di Sastra Inggris. Sama-sama masuk kategori satu dengan biaya sekolah yang paling murah, tapi akhirnya saya menuruti Papi untuk kuliah Fakultas Teknologi Pertanian dan Ties akhirnya lolos UMPTN di tahun berikutnya lalu kuliah di Fakultas Sastra universitas negeri. Kecintaan kami terhadap bahasa terbukti dengan betapa hobinya dia belajar bahasa Belanda (that time) dan betapa cintanya saya dengan Nihongo (ya, baru mulai belajar). Sebenarnya pingin sekali belajar satu kelas di tempat kursus Bahasa Perancis, tapi sampai sekarang, niat itu belum kesampaian juga…
Setelah lulus kuliah, ajaibnya, saya dan Ties malah kerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang sama, alias Pelayaran. Ya. Hanya tiga bulan setelah saya kerja di perusahaan yang sekarang, eh tau-taunya dia juga diterima di perusahaan yang lokasinya hanya berjarak lima menit dari kantor saya! Ah, kebetulan yang sangat menyenangkan nih…
Love pattern saya dan Ties juga sangat mirip. Di usia yang beda satu bulan itu (dia lebih tua satu bulan dan saya lebih berat 20 kg dibanding dia.. haha), kami punya love issues yang nggak pernah okay. Berkali-kali pacaran, berkali-kali pula putus. Berkali-kali jatuh cinta, berkali-kali pula musti patah hati. Lucunya, tidak sekali dua kali saya mengalami kisah cinta yang mirip dengan dia. Sama-sama pernah dekat dengan foreigner (bedanya, Ties sempat pacaran selama dua tahun dan sudah jalan-jalan keliling Eropa sama cowok itu sementara saya cukup dinner dan lunch aja selama tiga bulan.. hehe), sama-sama pernah diselingkuhin habis-habisan, sama-sama pernah dibuat menunggu tapi ternyata si cowok itu nggak pernah keliatan lagi batang hidungnya… Banyak kesamaan itulah yang membuat saya dan Ties punya satu kesamaan lagi.
Yaitu, kami berdua, sama-sama bukan orang yang judgmental (insyaAllah, sih bakal begitu terus). Mencoba untuk mengerti apa yang mendasari perilaku orang yang nggak banget itu. Kalaupun kami nggak setuju, biasanya kami hanya diam dan tidak menuding orang-orang itu. Ah, kesannya ini narsis sekali ya? Tapi hey, that’s the way we are… Makanya kami paling nggak suka sama orang-orang yang suka ngomongin orang lain… It’s not our capacity.. and it never will be, so shut your mouth
Selain itu, ada kesamaan-kesamaan kecil lainnya yang membuat saya berani menyebut Ties sebagai cerminan saya. Sama-sama suka Japanese food, misalnya. Sama-sama suka nonton live music concert di cafe-cafe. Sama-sama suka dandan. Sama-sama suka belanja. Sama-sama suka memotret pakai HP kalau menemukan barang-barang ‘ajaib’ dan nggak banget (misal: dekorasi korden diikat dengan karet gelang.. remember Ties?). Dan ya.. pastinya nih.. kami berdua, sama-sama narsis sunaris alias Narsis Akut!
Sekarang…
Kami berdua, sedang mengalami jatuh cinta yang sama dahsyatnya… Yang penuh dengan tantangan… Yang membutuhkan ekstra kesabaran supaya bisa survive…
Kekuatan dia dalam menghadapi hidup adalah energi buat saya. Keberanian dia dalam menyikapi semua masalah adalah semangat saya.
She’s really my mirror…
And I love her for everything she’s done for me.
Makasih ya, Ties… Please be strong, okay? Cause whatever you feel… that’s exactly what I feel… ^_^

Yes … pertamax …
Hhmmm .. kayak soulmate ya …
BTW someway somehow …
Didi you realize kalo wajah kalian juga “agak” sama ??
Senyumnya pun “agak: sama …
(at least that’s my eye’s observation …)
Posted by nh18 | July 16, 2008, 2:47 pmIni foto tahun berapa La?
Rasanya bedanya nggak nyampe 20 kilo deh…
Benar nggak, Bos Nh?
Posted by heryazwan | July 16, 2008, 4:21 pmwah, mirip…jangan-jangan kakak beradik
Posted by akokow | July 16, 2008, 4:41 pmOm NH
Yes, she’s a soulmate, indeed.
Hm, I didn’t realize that fact, Om. Masa sih?
Abang
Ini foto awal April kemarin kalau nggak salah, saking narsisnya, saya sama Ties suka photo-photoan nggak kenal tempat.. termasuk di kamar mandi.. hehehe
Soal beda yang 20 kilo itu.. percayalah….. percayalah Sodara-Sodara… ^^
Koko
Hehe, mirip yaah? Saking seringnya ngrintil bareng kali yaah… Dan nope, nope, bukan kakak beradik… *tapi deket buanget sih iya…*
Ah, EmiChan kemana yaaaaaaaa….
Posted by jeunglala | July 16, 2008, 5:38 pmHADIIIIIIIIIIIIR
katanya
katanya sih
bahwa selalu ada kembaran kamu ntah di dunia belahan mana
dan untungnya kamu ketemu nya deket kan?
nah…kembaran gue manaaaaa?
(comment nyampah!!!)
Bener itu, katanya kita punya kembaran yang entah di mana…
tadinya selama ini saya pikir saya kembar sama Tamara Blezynski *alah, namanya kok ribet seh, pasti salah tulis deh…* tapi ternyata makin ke sini, kenapa saya lebih cantik dari dia yaa???? HAHAHA….
kembaran EmiChan yang mana?
waduh…….. coba tanya mas google, kali ini dia bisa cari nggak ya…
Posted by Ikkyu_san | July 17, 2008, 3:09 amDan ini baru kami ketahui setelah beranjak dewasa
Hahahaa.. samaa, Laa.. gua ama temen2 yang deket dari jaman sekolah dulu juga baru bisa ngeliat “benang merah” yang menyatukan gua dan mereka tuhh baru tahunan dari sejak kami pertama dekat
Dipikir2 luar biasa yaa.. jiwa kita itu emang ternyata terus mencari orang yang mana kita bisa connect dengannya walau dari luaran mungkin kita ngga ada mirip2nya ma mereka, ahahaha :p
Posted by Indah | February 13, 2010, 1:25 pm