“Aku dengar kamu sudah beberapa kali kencan sama Mas Didit, ya, Sai? Ngaku, deh…” tanya Monita saat mereka makan siang di Amigos, alias agak minggir got sedikit.
“Mmm… sejak kapan kamu punya waktu untuk jadi mata-mata?”
“Sejak aku punya uang untuk bayar Mbok Darmi supaya dia buat laporan harian buat aku, Sai!” Monita tertawa. “Apa susahnya, sih, Sai, tanya sama Mbok Darmi? Dia, kan, yang paling bahagia kalau kamu dekat sama seseorang…”
“Mungkin dia kasihan melihat aku sendirian terus, Mon.”
“Atau kesal karena kamu sok selektif dan menempatkan luka hati di masa lalu di atas segala-galanya?”
Monita ingat bagaimana Biyan telah menciptakan luka itu dan tidak ada satupun lelaki yang bisa membuat sahabatnya tertawa dengan hati yang bahagia, kecuali… ya, mungkin hanya dengan Brondong satu itu. Lelaki baik, tapi salah, itu.
“Apa kabarnya, ya, si Brondong?” tanya Monita tiba-tiba.
Saila meneguk es teh tawarnya. “Ibnu? Dia lagi KKN,” sahutnya pendek.
“Oh ya? Kapan baliknya?”
“Nggg.. Belum pasti juga, sih, Mon. Kata Ibnu, sih, masih memungkinkan ada perubahan rencana. Bisa lebih lama, bisa tepat waktu, tapi nggak akan bisa lebih cepat dari jadwal.”
“Kamu nggak telepon dia?”
“Nggak ada sinyal, Mon. Dia malah bilang kalau telepon aku itu butuh perjuangan.”
“Kenapa?”
“Karena harus menempuh waktu dua jam untuk sampai ke wartel terdekat.”
“Jadi, dia nggak tahu kamu lagi dekat sama Mas Didit?”
Biasanya Ibnu selalu jadi orang pertama yang tahu lelaki mana yang sedang dekat dengan aku, tapi entah kenapa aku nggak pernah menceritakan soal Mas Didit padanya… Tanpa alasan yang jelas, yang pasti hanya aku nggak ingin melukai dia.
Saila menggeleng.
Monita menghela napasnya lalu menyentuh jemari Saila dengan lembut.
“Saila, kenapa kamu nggak…”
“Mon,” potong Saila dengan suara yang bergetar, “Waktu itu kamu tanya, kan, Ibnu itu ‘apa’ buat aku?”
Monita menunggunya.
“Dia…” Saila menunduk sebentar sebelum berkata, “…segalanya.”
bersambung…