karena memang tidak perlu menunggu…

*ditulis di Ms Notey, menjelang pergantian hari, sambil mendengarkan Ordinary People (John Legend), dan ya.. ini terinspirasi oleh Nata (thanks Bu!) :D *

Kamu pernah menunggu? Menunggu apa saja. Angkutan umum yang penuh sesak terus menerus sehingga kamu musti dengan sabarnya menanti sampai ada angkutan lewat berikutnya… Atau menunggu kapan tanggal gajian tiba *ini SAYA BANGET.. hehe* Dan.. hm.. menunggu kekasih yang janjinya datang dua jam yang lalu tanpa mengabari? Atau ini… menunggu sebuah kejadian yang kamu harap-harapkan semenjak sekian lama tapi belum terwujud sampai kamu lelah sendiri?

Saya pernah.

Check list: (1) menunggu angkutan umum…. pernah banget; (2) menunggu kapan duit hasil jerih payah saya selama sebulan di kantor (jerih payah yang dimaksud adalah ngeblog gratisan, ceting abis-abisan, email ke sana kemari, dan oh yaa.. namatin games hasil donlot Bro dari kantornya… hehe)… hem… ini malah always nggak pernah never :mrgreen: ; (3) menunggu kekasih yang janjinya datang beberapa jam yang lalu tapi nggak datang-datang juga…. ow, ini sering. dan lama-lama, saya kebal ^_^ ; dan.. ehmm…. yang ke-4, menunggu sebuah kejadian yang terlihat manis dalam kepala saya…. well… ini tidak perlu dipertanyakan, karena jawabnya mesti dan selalu adalah iya. Pernah. How often? Very.

Setuju nggak kamu, kalau menunggu itu sucks banget? Read the rest of this entry »

-6- Lelaki Dua Puluh

“Orang-orang itu memang keterlaluan, ya, Sai?” Monita yang sibuk mengingatkan Saila lagi pada kekesalan hatinya. “Apa, sih, urusan mereka?”

Saila tersenyum. “Mungkin mereka care sama aku, Mon, tapi caranya yang salah…”

“Yeee… perhatian gimana? Sai, Sai, yang namanya perhatian, tuh, mencari pasangan buat kamu, bukannya menggosip yang nggak-nggak! Huh, bikin kesel aja!”

“Sudah, lah, Mon, percuma kamu kesal sama mereka, toh mereka nggak pernah bisa berubah, kan? Aku, sih, sudah kebal sama mereka, Mon. Mungkin karena ini sudah gosip yang kesekian kalinya, jadi lama-lama badanku punya imun…”

Monita terlihat serius lalu menyerah setelah melihat Saila bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. “Sai, tapi yang paling penting… kamu baik-baik aja, kan?”

“Apa? Aku?” Saila menyentuh tangan Monita. “Mon, Mon. Kamu tahu, kan? Hatiku sudah terlalu capek untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Kamu pasti ingat gimana Biyan sudah menghabiskan seluruh kepedulianku, kan? Jadi, jangan khawatir, deh. Aku nggak sakit hati, kok…”

“Sai… jangan bohong, deh.”

“Hei, bohong sama kamu itu dosanya sama kalau aku bohong sama ibuku sendiri, Monita,” balas Saila sambil tersenyum.

“Tapi, Sai…”

“Apa lagi?”

“Mm… kamu yakin kamu nggak tersinggung dengan kata-kata mereka?”
Wajah bulat telur Saila menggeleng. “Nggak, tuh. Kenapa harus tersinggung, sih, Mon? Pekerjaan utama mereka di kantor, kan, memang cuman untuk bergosip, jadi buat apa aku susah payah mikir? Betul, kan?”

“Iya, sih…”

“Ya, sudah. Terus, apa?”

“Mm… I couldn’t help but wonder, Sai. Kalau memang Brondong bukan buat obyek seks semata, lantas, dia itu ‘apa’?”

Dan pertanyaan itu menyesak lagi.

bersambung…