Beberapa malam yang lalu, saya sempat terlibat ‘debat kusir’ dengan Pacar. Cuman karena saya bilang sama dia, kalau di RCTI sedang ada lagu Sempurna-nya Andra and The Backbone. Lagu itu dinyanyikan ulang oleh gang Indonesian Idol (ada Mike, Judika, Delon, dan Lucky) bareng sama runner up Australian Idol *kalo nggak salah ya* yang ternyata blasteran Aussie-Indonesia.
Lagu itu terdengar cantik sekali meskipun kadang suka ‘kejar-kejaran’ dengan musiknya. Tapi above all, lagu cantik itu makin cantik saja dengan harmonisasi suara yang okay…
Nah, ternyata ini menyulut masalah. Atau menjadi bahan debat yang nggak bikin saya nggak nyaman sekali. Kenapa? Karena akhirnya saya cerita dengan Pacar, ketika lagu itu selesai dinyanyikan, saya malah menangis…
“Itu karena kamu masih punya harapan sama dia, Sayang…” kata dia, yang membuat perasaan saya malah nggak karuan.
“Masih punya harapan??? Nggak… Aku udah nggak punya harapan apa-apa sama dia… Aku cuman marah sekali sama dia, Cinta… Aku nggak ingin dia balik, aku cuman maraaahhh…”
“Ah, itu defense mechanism. Kalau kamu nggak punya rasa apa-apa, kenapa kamu musti nangis…”
…yang jelas, aku sudah nggak berharap lagi sama dia, Cinta… Aku nggak berharap bisa membuat dia menoleh lagi sama aku dan menyesali semua yang telah dia lakukan… Aku nggak berharap ada keajaiban yang membuat dia akhirnya memilih aku dan meninggalkan perempuan (yang demi dia, orang jelek ini meninggalkan aku)… Aku hanya marah sama dia…
Lantas kenapa saya musti marah? Bukankah marah dipicu karena saya masih punya something yang mungkin saya nggak tahu apa namanya? Bahwa saya masih punya undescribable feeling yang bikin saya nggak nyaman hanya dengan mengingat namanya, mendengarkan lagu yang pernah saya persembahkan khusus untuknya… dan bahkan, saya sampai menangis sesenggukan karenanya?
Apakah benar yang dibilang Pacar kalau saya masih.. mm… cinta sama dia?
Entahlah. Yang jelas ini bukan cinta. Tapi saya belum melupakan dia, totally, itu benar. Entah di bagian mana, but I know he’s there, somewhere. Masih ada beberapa kenangan yang bikin hati saya nggak tenang dan cenderung sedih setiap terlintas di kepala. Saya nggak cinta dia *saya sudah punya kamu, Cinta*, tapi saya belum benar-benar bisa mengusirnya pergi dalam hati saya…
Lagu Sempurna adalah lagu yang pernah saya persembahkan khusus buat dia. Mantan kekasih yang terlihat begitu sempurna di mata saya lalu menghancurkan segala harapan kami begitu saja. Entah kenapa, tiap mendengar lagu itu, yang terbayang memang wajahnya, sehingga kala itu, saya sengaja men-set lagu ini sebagai ring tone setiap dia menelepon…
Jadi, wajar kan, kalau lagu Sempurna itu begitu memorable? Bahwa lagu dengan lirik indah ini begitu mengusik saya sampai ke relung hati ketika dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya dan meninggalkan saya yang hampir tak percaya bahwa dia sedemikian teganya?
Mendengarkan lagu Sempurna bisa dianalogikan seperti berjalan di medan yang penuh ranjau. Saya musti hati-hati. Karena kalau saya careless atau ceroboh, saya bakal ingat dia dan nangis nggak karuan. Ah, saat itu, saya memilih untuk tidak mendengarkan lagu itu, lagu favorit yang sudah saya cintai sebelum saya mulai pacaran dengan dia. Saya delete saja lagu itu dari koleksi lagu-lagu yang saya simpan di laptop. Saya delete lagu itu dari memory card ponsel. Saya matikan tivi ketika iklan produk perawatan wajah yang menjadikannya sebagai jingle iklan. Saya menutup telinga ketika lagu itu bergema di pengeras suara mal.
Ini karena saya takut…
Karena saya takut akan menangis…
Sampai akhirnya, diskusi saya dengan Pacar membuat saya ingin melakukan sesuatu. Sederhana, tapi ini akan membuat saya lebih lega nantinya. Mungkin akan berat, tapi saya tahu, this is the only way to prove myself that…yes, I’m no longer in love with him.. dan ya… Pacar adalah satu-satunya manusia yang saya sayang dan cintai, bukan laki-laki di masa lalu saya itu.
Lantas apakah sesuatu yang sederhana itu?
Hmmm…. Saya menakhlukkan ketakutan saya. Ya, my fear… Ketakutan saya untuk menangis-nangis darah saat lagu itu terngiang di telinga.. Ketakutan saya untuk mengingat kembali laki-laki yang pernah saya anggap segalanya itu… Ketakutan saya untuk meragukan rasa cinta saya buat Pacar yang sekarang ini…
Dan sesuatu yang sederhana itu… sudah saya lakukan…. semalam.
Di sebuah acara seorang teman, saya diundang olehnya untuk bernyanyi diiringi electone. Karena menghargai tuan rumah dan yang punya hajatan, tentu saya sempat-sempatkan untuk menyanyi meskipun sumpah, saya ngantuk banget dan pingin segera pulang ke rumah. Tapi.. yaah… in the name of friendship, saya melakukannya.
Entah kenapa, ketika ditanya mau menyanyikan lagu apa, tiba-tiba lagu itu yang meluncur keluar. “Kalau Sempurna… bisa kan, Mas?”
Dan setelah dia mengangguk, saya mulai dijalari oleh rasa ketakutan. Apalagi ketika jari-jemari si keyboardist itu mulai lincah memainkan bagian intronya. Uuuuhhh… Saya gemetar… Saya hampir mati rasa di depan banyak orang…
Sebelum bernyanyi, saya berharap semoga saya bisa melewatinya dengan mulus. Saya berharap untuk tidak menangis di depan orang banyak yang pastinya akan segera menilai bahwa saya ini orang gila *hey, tiba-tiba ada cewek yang nangis sesenggukan di tengah-tengah lagu, pasti bikin orang ngerasa aneh, kan???*
Dan ternyata…
Ya.
Lagu itu… selesai juga dengan… SEMPURNA.
Ternyata saya tidak menangis. Ternyata saya tidak bersedih. Ternyata bukan wajah dia yang terbayang ketika saya melagukan lirik-lirik indah lagu ini…. Karena ternyata, di dalam hati saya, malah berdesir sebuah perasaan yang hangat… Dan ya… Saya langsung teringat pada sang Pacar dan betapa ’sempurna’nya hidup saya setelah mengenal dia. (Ini beda. Kalau dulu, saya merasa dia yang sempurna, tapi kini… saya merasa hidup saya sempurna karena dia. Bukan karena dia tidak sempurna. Tapi karena dia adalah makhluk yang ordinary tapi extraordinary di mata saya…)
Di akhir lagu itu, saya tersenyum. Saya tersenyum lebaaaarrrr sekali. Ada rasa bahagia yang menyusup dengan hangat di dalam hati saya. Membuat saya ingin segera menelepon Pacar dan bilang bahwa saya merindukan dia… Dan bahwa saya hanya mencintai dia, bukan siapa-siapa.. Bukan mantan pencuri cinta yang telah pergi beberapa saat sebelum cinta kami ini saling menyentuh hati…
Karena ternyata, dia sudah pergi….
Karena ternyata saya sudah melupakannya….
Hmmm…I’m totally over him, Cintaku.
Akhirnya…
ps. Hari ini, saya minta seorang teman untuk mem-bluetooth lagu sempurna itu ke ponsel saya.. dan kamu tahu, saya sedang mendengarkannya sambil menulis post ini… Tahu, what’s the best part? I DON’T FEEL A THING!