you're reading...
daily's blings, precious persons

till midnite, at starbucks

Akhir pekan kemarin, usai datang ke pesta pernikahan Els, sahabat saya, kami (saya, Yun, dan Lin) memutuskan untuk ngupi di Starbucks sebelum akhirnya tepar karena capek dan ngantuk.

Pulang dari acara, kami pulang ke rumah Lin untuk mengganti kostum. Ini harus dilakukan karena kostum kami sungguh tidak layak untuk menghadiri Starbucks yang berkesan casual. Bayangkan kami dengan sepatu hak tinggi, selendang, dan baju bling-bling. Kami cukup tahu diri untuk tidak mengenakan pakaian ajaib itu di tempat nongkrong minum kopi itu. Pertama: karena memang tidak nyaman. Dan kedua: karena kami tidak ingin menjadi tontonan. Hey, kami bertiga ini kan masih butuh tebar pesona dan plirak plirik kanan kiri kan… hehehe…

Kami bertiga memesan menu favorit masing-masing. Saya dengan Java Chip, Lin dengan Hazelnut-nya, lalu Yun dengan Caramel yang legit. Semuanya dalam ukuran paling besar. Ya, ya. Perempuan-perempuan macam kami ini memang sulit dipisahkan dari diskon/promo. Begitu tahu kalau ada promo 1 gratis 1, kami langsung kalap memesan yang paling besar… yah.. meskipun baru bisa gratis kalau kami pesan makanan sih…

Eniwei…

Saat itu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih sedikit. Herannya, kota Surabaya makin ramai saja meskipun sudah hampir midnite. Sepanjang perjalanan menuju Starbucks, masiiiihhh saja macet. Untung kami bertiga memiliki keinginan yang kuat untuk nongkrong di sana, karena kalau tidak, kami bisa putar balik ke rumah Lin dan ngobrol-ngobrol tidak jelas di sana sampai pagi.

Kami memilih duduk di pojokan, di empat buah sofa super empuk, besar, berwarna merah. Karena sudah malam, kami tidak mengindahkan tata krama *alias, duduk sakarepe dhewe.. jadi jangan membayangkan kami duduk dengan sopan di sana… kaki di mana, kepala di mana.. hehe*. Yang penting PW alias Posisi Wuenak.

Lin, dengan kostum sporty (celana panjang jeans, kaos, dan jaket bertudung dari bahan kaos berwarna pink), sudah nggak karuan posisinya — sampai-sampai kami sulit membedakan, mana sofanya, mana orangnya.. hehe… Dia ngelingker di sofa dengan wajah melas *apa nyesel karena malam ini dia yang nombokin semua tagihan? Tenang aja, Bu… kita pasti ganti kok.. akhir bulan.. hehe* Ehm, pastinya, sih, dia bertampang melas begitu karena wiken kemarin, dia yang jadi bahan diskusi yang paling utama… kasiiaaaaann… :D

Yun, dengan kostum sekseh-nya (mini dress warna putih tanpa lengan dengan manik-manik warna hitam di bagian dada, sepatu putih bersol super tebal — biar agak tinggian, paling nggak nyamain saya sama Lin lah.. hehe), duduk di seberang saya dan Lin sambil memeluk cushion sofa yang super empuk itu. Repot rupanya pakai mini dress begitu (untung saya sudah ganti di rumah Lin.. hehe). Begitu duduk, malah jadi super sekseh :D Thanks to Starbucks yang menyediakan sofa-sofa ukuran raksasa…

Saya? Hmm… cuman kaos hitam, lengan pendek sedikit ngepuff, leher yang lumayan rendah *hahaha… susah deh mendeskripsikan diri sendiri, takut dibilang narsis..*, celana jeans gelap, dan open toed shoes. Cara duduk saya lumayan ironis (mengingat gaya dandan saya malam itu yang cukup feminin). Kepala saya rebahkan di lengan sofa sebelah kiri dan kaki saya selonjorkan di lengan sofa sebelah satunya. Walhasil, saya seperti ikan pesut yang tertangkap nelayan :D

Ngobrol dengan gaya nggak karuan begitu ternyata malah nikmat. Lin bebas menceritakan urusan hatinya, Yun juga bebas bertutur masalah keinginannya *saya akan bahas di posting yang lain*, dan saya juga bebas mencurahkan apa yang saya rasakan.

Dan di malam itu, yang harus berakhir ketika kami diusir oleh karyawan Starbucks *hehe*, kami merasakan bahwa hidup ini lebih indah jika kita lalui bersama orang-orang terdekat…. Bersama para sahabat yang tahu benar soal hati dan rasa kita, bersama para sahabat yang tidak menghakimi tapi membantu mencari solusi, bersama para sahabat yang menggenggam tangan ketika kita membutuhkannya…

Suatu pemandangan yang cantik dan unik mengingat persahabatan kami sudah berjalan sepuluh tahun yang lamanya.

Senior kami saat masih kuliah dulu, saat di pernikahan Els, berkata begini:

“Kalau nggak ada acara seperti ini, kalian nggak bisa sering-sering ketemuan yaa.. Berarti untung Els menikah, kan? Jadi kalian ada kesempatan untuk ketemuan…”

Kami tertawa, lalu berkata, “Nggak perlu nunggu ada kawin kali, Cie… Kita akan wajib ketemuan paling nggak sebulan sekali… Haram tuh hukumnya kalau sampai nggak…”

Dan pandangan si Senior langsung berubah menjadi kagum :D

Satu hal yang saya pelajari dari acara ngupi till midnite di starbucks adalah ini:

no matter how painful your life is, as long as you have a friend, you learn how to laugh again…

And the best part is…

I have five!! How lucky!! :D

About these ads

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “till midnite, at starbucks

  1. Starbuck mana aunty?

    Starbucks Sogo, Mas… Akses paling cepat dan mudah :D

    Posted by avy | May 12, 2008, 11:08 am
  2. coffee is a must for you, isn’t it? happy ‘coffee-ing’

    apparently… unfortunately… yes.. it is.. :(

    Posted by noone | May 12, 2008, 8:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 105 other followers

%d bloggers like this: