you're reading...
daily's blings, precious persons

my bestfriend’s wedding

Sudah tahu kan, kalau saya punya lima orang sahabat atau teman terdekat? Saya pernah menyinggung mereka di berbagai judul, salah dua-nya *hehe, karena ada dua, bukan satu* adalah those were the days part 6 (apa 7 ya?) My True Bestfriends dan Makasih, Om. Kalau kalian pernah membacanya, saya yakin kalian kenal dengan orang-orang yang saya cintai itu: Lin, Ly, Tat, Yun, dan Els.

Kelima orang sahabat inilah yang selama ini telah berhasil menerbitkan senyum di tengah segala gundah yang pernah ada. Ya, tingkah mereka yang ajaib itulah yang miraculously *bener ga? — sambil garuk-garuk dan nyari kamus yang ga ketemu-ketemu.. damn!* bikin saya senyam-senyum seperti orang sinting :D

Nah, di pagi hari yang sungguh cerah di bagian utara Surabaya, where the sun shines bright dan jalanan hampir bebas macet *hey, it’s a nice monday morning!*, saya akan bercerita tentang seorang sahabat saya, Els, yang akhir pekan kemarin sudah resmi menjadi seorang istri.

Els, sahabat saya yang kecil, mungil, mirip upil itu *hehe* akhirnya menikah juga, setelah perjuangan menjaga hubungan jarak jauh yang tidak mudah. Kalau saya dan dia terpisahkan oleh ratusan kilometer saja dan bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, sembilan jam perjalanan dengan kereta, atau dua belas jam *or more?* dengan mobil/bis/kendaraan darat, lain halnya dengan sahabat saya ini.

Dia dan Jem, suaminya, dulunya terpisah oleh lautan yang maha luas, oleh barisan rapat negara-negara, oleh waktu yang tak sebentar ditempuh. Ya, Els di Indonesia dan kekasihnya ada di Amerika.

Thanks to technology, jarak terasa rapat. Rindu bisa terjembatani dengan telepon yang sering dan SMS yang tak pernah putus. Memang, seringkali kita butuh sentuhan dari seorang yang tersayang untuk melegakan segala resah, gundah, juga perasaan kangen yang luar biasa. Tapi ketika waktu tak mengijinkan, ucapan selamat malam yang hangat di ujung telepon sudah cukup bisa melenakan perasaan.

Dan itulah yang terjadi dengan mereka berdua. Sejak pertama mereka bertemu sampai akhirnya mereka bersanding di depan gereja, menerima pemberkatan semoga kelak mereka bisa hidup bahagia bersama-sama, mereka mengandalkan teknologi yang canggih… juga rasa percaya.

Mari sejenak membayangkan betapa istimewanya hubungan mereka ini.

Sahabat saya dan suaminya itu berpacaran selama tiga tahun lebih sedikit. Dari perjalanan waktu yang selama itu, mereka hanya bertatap muka tidak lebih dari dua minggu!

Rupanya perjodohan ala Siti Nurbaya tidaklah selamanya buruk.

Els yang sering bertemu dengan orang yang salah, akhirnya tunduk dengan keinginan sang Ibu untuk dijodohkan dengan anak sahabatnya. Saat itu Els hanya mengetahui wajah calon suaminya lewat selembar foto dan mendengarkan suara Jem lewat telepon.

Ketika memutuskan untuk mau, Els berangkat ke Singapura untuk bertemu dengan Jem. Di situlah, Els mulai memutuskan untuk menerima tawaran sang Ibu. Di Singapura, cinta mereka bersemi. Cinta pada pandangan pertama? Hm, memang terkesan sangat dramatis, tapi itulah yang terjadi. Kurang dari satu minggu bersama di sana, mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk segera bertunangan (!).

Pulang dari Singapura, Mei 2005, mereka bertunangan. Hubungan yang sungguh singkat, mengingat mereka baru saja bertemu. Saya dan sahabat-sahabat yang lain pun cukup terkejut dengan keputusan Els, meskipun akhirnya kami tahu bahwa Els pasti telah memikirkan segalanya dengan baik-baik. Lagipula, kami ingat, ini adalah kehidupan Els, keputusan Els. Kami hanya bisa berdoa semoga semuanya berjalan lancar dan si kecil mungil ini selalu bahagia.

Dan memang benar.

Love isn’t always about rainbows.. or butterflies.. or beautiful things…

Tapi cinta juga memiliki badai, hujan, petir… dan hal-hal yang bisa menguras air mata dan kesabaran.

Tahun terakhir sebelum mereka memutuskan untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, Els dan Jem justru menemui banyak masalah. Komunikasi yang terputus-putus, rasa curiga yang meledak-ledak, hadirnya orang ketiga yang sempat membuat rancu, lalu teriakan-teriakan keinginan untuk berpisah, membuat kami semua sangat prihatin. Kami tahu, hubungan jarak jauh memang tidak mudah *eh, secara saya juga merasakan hal yang sama, ya pasti tahu lah*, apalagi mereka hanya bertemu sekali saja sebelum memutuskan untuk bertunangan, jadi benturan yang sedikit saja cukup bisa menggoyahkan hubungan mereka.

Sebagai sahabat, kami mendukung apapun keputusan Els, meskipun kami selalu berusaha memberikan saran, tapi kami tahu Els telah memantapkan keinginannya untuk berpisah.

Sedih? tentu saja. Merasa sayang? Pasti. Tapi ini hidup Els, kami tak punya kuasa sama sekali untuk membuat Els mengubah keputusannya.

…. Els memilih mundur.

Keputusan yang berat ini membuat Els bersedih. Kami tahu, meskipun senyum selalu menghiasi wajahnya, di dalam hati Els, gadis kami ini sedang berduka tapi berusaha melakukan segala cara untuk tidak memanjakan perasaan sakitnya itu.

Lalu berbulan-bulan kemudian…

Dengan senyum yang sangat ceria, dia mengabarkan berita ini.

“La…. aku sama Jem mau nikah tahun depan… Dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia….”

Wajah itu, senyum itu, keceriaan itu, tidak bisa membohongi perasaan hatinya saat itu.

Saat itulah, saya tahu, Els merasa lega bahwa keputusannya meninggalkan Jem tidak membuat segalanya menjadi lebih berantakan. Bahwa segala badai yang pernah terjadi di dalam hubungan mereka malah menguatkan Els dan Jem untuk tetap terus melangkah menuju masa depan.

Els dan Jem menikah hari Sabtu, 10 Mei 2008.

Mereka berlutut di depan pendeta dan dikelilingi sekelompok Jemaat Gereja yang memberi pemberkatan untuk kebahagiaan pernikahan mereka.

Usai mengucap janji sehidup semati, saya sempat melihat senyum wajah mengulas di wajah sahabat saya yang sedari tadi tampak tegang. Dan sebutir air mata yang menetes turun ketika mereka menatap kami *kebetulan yang sempat datang ke gereja adalah saya dan Lin*.

She looked so beautiful in the wedding dress..

She looked so happy…

And I was so damn happy, too!

Dear Els,

Mungkin saya nggak sempat mengucapkan kata-kata ini di hari bahagiamu kemarin. Tapi saya ingin kamu tahu, bahwa saya sungguh senang, lega, dan bahagia karena akhirnya kamu bisa menikah dengan lelaki yang kamu cintai. Bahwa saya sangat terinspirasi untuk terus menerus memiliki keyakinan bahwa badai tidak selamanya akan memisahkan dua hati yang sedang dihinggapi keegoisan lalu lupa bahwa mereka pernah saling jatuh cinta. Badai justru datang untuk menguji sejauh mana mereka mencintai pasangan mereka.

Badai datang kepada kalian berdua, untuk menyatukan kalian.

(Semoga badai yang sedang memporakporandakan keteguhan dan janji saya dan dia ini juga datang untuk menguatkan saya, ya? — ini tidak akan saya ucapkan kepada kamu, Els, ini ungkapan dalam hati saja kok… Kapan-kapan saya akan bagi cerita ini sama kamu, ya? Kalau kamu sudah nggak sibuk lagi…)

Selamat berbahagia, Sahabatku…

Selamat menempuh segala kegilaan hidup ini dengan seorang Suami yang semoga bisa membahagiakanmu sampai kelak kalian menjadi kakek nenek dengan belasan cucu…

Saya berdoa untuk kamu, Els.

Karena saya sayang sama kamu…….

*jadi istri yang baik, ya? nggak usah kebanyakan ngomel nggak penting… dan pastinya, luangkan waktu buat kumpul-kumpul seperti biasa, okay?*

Luv ya, Sayang…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 Responses to “my bestfriend’s wedding”

  1. mungkin ini adalah skenarioNYA. agar kamu belajar melihat badai dalam hidupmu sebagai keindahan dan belajar lebih banyak mengucap syukur dengan
    segala cinta yang kamu terima. just deal with your live.

    I’m dealing it… yeah, it’s not easy, but it worth to try :)

    Posted by noone | May 12, 2008, 8:06 pm
  2. duuuuuuuuuuuh i missed so many wedding this 2 years…..kalian ‘sisa2′…awas aja kalo nikah tanpa kehadiran gue….GAK sah!!!!
    :) Lilyana

    kalian ‘sisa2′???
    maksud lu????? :D

    iya, iya.
    Gua sih nggak akan nikah dalam waktu dekat, Mboi….
    Nyantei aja…
    Jangan-jangan elu yang duluan lagee!
    Nggak boleh!!
    Nggak boleh!!
    Harus gua duluan!!! :D

    Eh, eh
    ntar kalau gua nikah, elu pake kemben n sanggulan ya, Mboi..
    Kembaran sama the rest of the gangs…
    Nah.. kalau gua… kostumnya kasual aja.
    Wong temanya aja casual party kok. Di McDOnald lagi! hahaha…
    Pasti lucu dehhhh….

    Posted by lily | October 13, 2008, 12:25 am
  3. hai mbak..berkunjung ya

    Hai…
    Namanya sama! :D

    Aku Lala-Surabaya …
    Salam kenal…

    Posted by lala-batam | October 13, 2008, 11:22 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers

%d bloggers like this: