Ketika kamu memiliki keinginan… imanilah, yakinilah. Niscaya, keinginan itu bisa terwujud, selama memang baik untukmu….
Itulah yang sempat dikatakan oleh sahabat saya, Yun, ketika kami ngupi sampai midnite di Starbucks. Menjelang pukul dua belas malam, dia mulai mengutarakan apa yang sedang bergumul dalam hatinya.
Sahabat saya, Yun, memang jarang sekali berpacaran. OK. Nge-date sana sini memang boleh dibilang tidak jarang, tapi untuk akhirnya terlibat dalam satu komitmen serius, sepertinya jarang. Lelaki-lelaki kutu kupret itu hanya datang sebentar, bikin hati berbunga-bunga, lalu mengacaukan suasana, dan memilih pergi. Padahal Yun susah jatuh cinta, sehingga ketika cinta itu tak lagi terasa, dia yang kesakitan karenanya.
Tapi hebatnya, Yun jarang bercerita. Setiap kami bertemu di acara kumpul-kumpul regular tiap bulan *atau kapanpun setiap kami butuhkan*, dia hanya berbicara soal pekerjaannya yang melelahkan, keluarganya yang makin out of control, dan lelahnya dia menanggung semua beban sendirian. Ya, dia memang humoris, suka becanda, tapi di selipan kebahagiaan itu saya tahu, dia sedang menyimpan gundah.
Di Starbucks, kami bicara dari hati ke hati. Saya bicara soal dia dan setumpuk masalah yang perlu kami selesaikan, Lin bicara soal RG yang hingga kini masih menjadi hantu dalam hidupnya, dan Yun bicara soal keimanannya akan sebuah keinginan.
Dan inilah yang menarik.
Seorang Yun, yang jarang bicara soal cinta, atau soal komitmen pernikahan, atau keinginannya yang menggebu soal janji setia sehidup semati itu, malam itu mengungkapkan segala keyakinannya.
Yun (Y) : Aku mulai stress ditodong untuk segera menikah, La…
Saya (S) : Masih ya?
Y: Ya iya, lah. Makin menjadi-jadi aja soalnya adikku kan sudah tunangan
*saat itu, Lin sedang ngelesot di sofa dan hanya ikut mendengarkan, tanpa komentar. Duh, ini anak….. Untung Starbucks udah sepi. Kalau nggak? Bisa-bisa dia didudukin orang karena ga bisa dibedain mana sofa mana manusianya.. hehe*
S: Terus?
Y: Ya aku bilang aja, tahun ini.
S: (tersenyum) Emang udah ada calon ya? Kok nggak bilang sama kita-kita?
Y: Haha, nggak ada sih.
S: Lhah? Kalau belum calonnya, kok bilangnya tahun ini sih? *pusing*
Y: Yang penting diyakini aja dulu, La.
S: Kalau nggak ada calon, mana bisa yakin, sih, Yun? *makin pusing*
Y: Prinsipku, selama kita meyakini bahwa keinginan kita akan terwujud, selama itu baik dan tidak merugikan kita, Tuhan pasti akan mengabulkan kok…
Saat itulah saya ingat B. Dia pernah bertutur, bahwa kita harus percaya dan meyakini bahwa keinginan kita pasti akan terwujud. Selama kita terus berdoa dan yakin, Tuhan pasti akan memberikan jalanNya…
Dan Yun ternyata memiliki prinsip yang sama.
Dia berkata, bahwa yang penting kita percaya. Yang penting kita mengimani. Selagi kita percaya, kita mengimani, secara tidak langsung kita juga berdoa kepada Pemilik Raga, memasrahkan hidup, mengikhlaskan apapun jalan ceritanya. Tuhan tidak pernah tidur, katanya. Tuhan akan selalu mendengarkan.
Y: dan aku percaya pada kekuatan pikiran, La. Pikiran itu akan membentuk keyakinan bahwa this year is my year. Dengan memiliki keyakinan itu, aku juga semakin terlecut untuk segera serius mencari pasangan hidup. Bukannya aku berdoa seorang jodoh akan turun dari atas langit lalu aku tinggal menadahkan tanganku untuk menangkapnya, tapi aku akan membuka mata hati untuk dia.. Membuka mata lebar-lebar untuk mengetahui dia ada di mana…
S: *termenung, asyik mikir sendiri*
Y: Aku percaya tahun ini akan menikah, La. Jarak dan waktu bukan halangan buat Tuhan untuk mempertemukan aku dengan jodohku. Mungkin saja sebentar lagi aku akan bertemu dengan dia, lalu berpacaran sebentar, menemukan kecocokan, dan menikah, misalnya? Apa sih yang tidak bisa dilakukan Tuhan?
S: Iya… You’re right
Y: Toh, apa susahnya sih, La, untuk meyakini sesuatu yang indah-indah? Tinggal terus mengimani dan dibarengi dengan doa, aku rasa, tidak perlu ragu untuk melakukannya…
S: dan kalau nggak terwujud, bagaimana? Bukannya kamu malah jadi makin stress, nantinya?
Y: *tersenyum* Kalau belum-belum sudah berpikir nggak akan terwujud, itu artinya nggak mengimani, Sayang… jadi hilang dong esensi dari iman dan percaya yang tadi aku ceritain itu…
S: hehe, iya juga yah *senyam senyum nggak jelas*
Y: Nah…. selagi kamu punya keinginan, pesan aku, yakinilah keinginan itu akan terwujud. Imanilah. Dan berdoalah. Tuhan pasti memberikan jalan untuk mewujudkannya. Jangan buang waktu untuk berpikiran negatif, pesimistis. Itu cuman racun yang bisa menggerogoti imanmu. Tapi teruslah berpikiran positif dan biarlah tangan Tuhan bekerja untukmu…
Saya dan Lin terdiam, mencermati kata-kata Yun yang tumben-tumbenan bisa sedemikian bijaksana
Dalam hati, saya berucap satu keinginan dan memantapkan hati juga perasaan bahwa keinginan ini akan terwujud, pasti akan terwujud.
Tak perlu saya bagi sama kalian yaa? Nanti, saya pasti akan mengabarkan berita baik ini buat kalian karena saat itu, saya akan merasa sangat sangat bahagia…..
Buat Yun, thanks untuk ilmunya.
Buat B, ternyata apa yang kamu bilang itu benar.
Percaya saja.
Imani saja.
Tuhan tidak pernah tidur lelap, tapi selalu terjaga.
We just have to believe. Period.
Iya, Om. Tinggal nunggu ada cowok yang khilaf aja yang mau sama saya.. wekekekeke.. kidding
tapi emang, perlu sekali untuk terus berikhtiar.
Dan percaya, segala yang indah itu akan tiba, tepat pada waktunya.
Bukan begitu?
Posted by nh18 | May 12, 2008, 12:26 pmameeen…
Posted by niaalive | May 12, 2008, 1:27 pmseep Boss….. berarti ini bukan soal tahyul semata, tapi memang bisa dinalar dengan logika ya?
Posted by RhyzQ | May 12, 2008, 3:52 pmterlalu fokus dengan satu hal, malah ga bagus ya, Mas..
Makanya perlu buka mata lebar-lebar.. eh sapa tahu ada pejantan okei buat eike…
*sambil ikutan tengok kiri kanan — mau nyebrang, Mas? hehe*
Posted by nindityo | May 12, 2008, 3:52 pmspeechless, tapi mengangguk-anggukan kepala.. alias setuuujjuuuhhhh
Posted by noone | May 12, 2008, 8:41 pmTaun ini emang belum berlalu…
tapi keinginan Yun untuk menikah sepertinya sudah berlalu… wekekekekeke…
Yes.
Lu emang bales dendam, Bu!
Thanks for dropping by!
miss yah!
Posted by lily | October 13, 2008, 12:11 ambegini jeung,
ini bukan komen cuma apa yg akhirnya aku semakin yakin aja *halah sama aja ya ..
ada beberapa fase dimana ketika aku berniat “ibadah” agar hidupku menjadi lebih “lurus”, ndilalah kok jalannya adaaa saja. Yang kalau tak pikir ulang, beuh! “KOK BISA YAA?!”
Entah kalimat seperti apa yang aku untaikan untuk Yang Maha Mendengar itu, tapi yang jelas menyatu didalam hati.
tapi memang tidak semua niat yang kupikir bisa membuat hidupku lebih lurus, menjadi terbuka jalannya. entah apakah niatnya yang salah, cara usahaku yang salah, atau memang Yang Kuasa menghendaki lain? Yang Jelas Dia tahu yang terbaik untukku.
Spesial bin Khusus untuk ibadah dengan tema “Menikah”, aku semakin percaya sekali bahwa itu salah satu jalan ibadah agar hidup menjadi lebih lurus dan karenanya “mungkin” Yang Diatas Sana senang bila ada umatnya memiliki niat suci seperti itu, dan wallohualam, yang jelas 3 sahabatku mengalami hal serupa.
btw, *postinganku itu sa’jane lebih untuk konsumsi kaum adam lho. gatel aja rasanya kalo liat laki-laki dah pantes usiane untuk menikah kok durung menikah. heheheh *tapi dudu sing kuwi lho, ojo mbo laporke .. ojo ya? isin mengko aku
Posted by mascayo | January 25, 2009, 9:46 pm