Pagi ini saya blogwalking. Ada beberapa blog teman yang sengaja saya cantumkan di blogsurf; ini memudahkan saya untuk mengetahui posting-posting terbaru mereka tanpa harus menduga-duga mereka sudah meng-update blognya atau tidak.
Dan pagi ini, saya membaca salah satu posting Sang Khilaf, salah satu blog favorit karena bahasanya yang puitis, blog yang tidak asal posting tapi memberikan something to read, to learn, ketika kita selesai mengunyah ceritanya. Sederhana, cantik, dan valuable. Itulah yang membuat saya betah nongkrong di rumah teman saya ini, apalagi setelah saya baca postingnya yang terbaru.
Dari yang saya baca melalui berbagai posting-nya, saya tahu, teman saya ini termasuk laki-laki yang idealis. Ow, maaf, ini terlalu kasar. Mungkin ini yang lebih tepat: dia tahu apa yang dia mau. Tidak seperti saya yang sering kerepotan menganalisa keinginan diri sendiri. Belum tentu yang saya lakukan adalah benar-benar saya inginkan, demikian pula sebaliknya.
Ceritanya tentang tidak mau begitu saja menikah karena tak rela membiarkan hidup calon istrinya tidak lebih baik dari hidupnya yang sekarang, membuat saya tertegun. Agak lama. Lalu berpikir. Dia bilang begini *maaf ya, Mas, saya kutip*
“Jika engkau berada pada posisiku, relakah kau meminang anak gadis orang dan membiarkannya tertidur tanpa alas yang empuk dan selimut yang lembut seperti di rumah orang tuanya? Relakah kau menyuapinya hanya dengan sepiring nasi putih bertabur garam. Relakah kau membiarkannya berjalan jauh tanpa alas kaki yang utuh? Aku jelas tidak rela.”
Oh…
Jadi itu yang ada di dalam kepala seorang laki-laki? Suatu konsep bahwa menikah adalah memberi kebahagiaan buat wanita pujaannya dan berbuat yang terbaik untuk si belahan jiwa?
Dengan rumah yang hangat….
Dengan asap dapur yang selalu mengepul…
Lalu saya berpikir. Itukah yang sedang dia hadapi sekarang? Berjuang untuk membahagiakan saya? Tak ingin kenyamanan yang diberikan oleh Papi atau yang sudah saya ciptakan sendiri sampai detik ini, terenggut paksa kalau harus menikah dengan dia *yang entah kenapa itu sampai terlintas di dalam pikirannya*?
Kadang saya ingin menjerit, bahwa saya tak apa-apa. Tak perlu kemewahan, tak perlu ketersediaan segalanya, asalkan dia ada, bersama-sama saya mengarungi kehidupan ini. Saling berdiskusi, bertukar pikiran, dan menyelesaikan segala masalah sambil duduk berdua. Bukan lari, bukan sembunyi.
Tapi, yaa…
Ternyata kita… Saya… dan kamu, para laki-laki.. kita memang berasala dari planet yang berbeda. Apa yang saya anggap penting, belum tentu kalian anggap perlu. Apa yang kalian junjung tinggi-tinggi, belum tentu itu yang saya butuh. Perbedaan-perbedaan ini memang tak bisa terelakkan karena kamu dan saya, memang ditakdirkan untuk saling melengkapi
Hmmm…
Sekarang saya tahu, bahwa segala resah dan gundah ini mungkin sudah waktunya berakhir. Mungkin sudah waktunya saya belajar untuk menempatkan posisi saya di posisi orang lain. Mencoba untuk berpikir dengan kapasitas seorang dia, bukan melulu memanjakan keegoisan saya.
Mungkin saya tak butuh kenyamanan itu… tapi kalau dia ingin menghadiahi saya kenyamanan yang luar biasa sebagai tanda cintanya, masih perlukah saya menderita karenanya? Masih perlukah saya bertanya-tanya tentang seberapa besar dia mencintai saya? — beib, I’m sorry… I’m trying to learn, to understand you, to know how it feels in your position… Please wait… –
Thanks to Sang Khilaf yang sudah membagi cerita indah ini di blognya. Ini salah satu bukti bahwa membaca blognya sama dengan mempelajari sesuatu: saya bisa menulis dengan lancarnya begini dan memahami apa itu perbedaan. Masih nggak percaya? Meluncur ke sana aja deh…