perawan : ketika robeknya selaput tipis dipertanyakan

Karena ikut milis yang kebanyakan anggotanya adalah perempuan, hal-hal yang sering dibahas tak jauh-jauh dari masalah kewanitaan: cinta juga belanja.

Soal cinta juga tidak jauh-jauh dari perselingkuhan, cinta yang tidak berani diungkapkan, atau putus cinta, lalu menangis darah. Klise? Boleh dibilang begitu. Tapi, itulah kenyataannya. Mau tak mau, hal-hal yang sama akan terus berulang-ulang dalam kehidupan kita, dengan lain pelakon, sama sutradara, skenario mirip, tapi pelakon memiliki hak mutlak untuk improvisasi… dan voila! Jadilah cerita yang (intinya) sama, melahirkan komentar yang sama, dari orang-orang yang berbeda usia, jenis pekerjaan, dan gaya hidup.

Selingkuh? Reaksinya hampir seragam: “Coba deh kalau itu yang terjadi sama kamu?” atau ini “Seharusnya karena sama-sama perempuan, kamu harus tahu gimana perasaan cewek itu kan?”
dan sebagainya… dan sebagainya.

Lalu soal cinta tak terungkap… sama saja. Komentarnya: “Ungkapkan saja, jangan dijadikan beban buat masa depan kamu, mungkin saja dia juga suka, kan?” atau “Kalau memang belum siap, ya jangan lah. Daripada sakit hati.”

Saya mencoba untuk objective, terkadang saking asyiknya membaca komentar teman-teman milis, saya sampai lupa menyampaikan pendapat saya. Hal ini berlangsung cukup lama sampai akhirnya saya mendapati satu email yang bercerita soal Virginity dan perlukah dia mengaku pada calon suaminya bahwa selaput daranya telah robek karena bercinta.

Tergeraknya saya untuk ikut berkomentar bukan karena saya ingin membela kaum perempuan yang sudah tidak perawan lagi, tapi karena saya merasa perlu meluruskan bahwa sebenarnya “Keperawanan Bukanlah Indikator Kualitas Seseorang”. Hal ini sempat membuat saya emosi jiwa saat rata-rata dari mereka mengatakan bahwa intinya, perempuan yang masih perawan adalah perempuan yang lebih berkualitas *kualitas dari Hongkong??*

Ya.
Siapa yang berani bilang bahwa Oprah Winfrey adalah perempuan yang jauh dari kualitas? Dia adalah salah satu tokoh idola saya, seorang aktivis sosial yang luar biasa, sibuk menderma ke sana ke mari, mendirikan sekolah-sekolah di Afrika sana sebagai wujud perhatiannya pada dunia, and not to mention, memberikan beasiswa kepada siswa-siswi yang berprestasi tapi minus biaya. Tapi coba lihat lagi? Dia pernah diperkosa oleh kerabatnya dan kini hidup kumpul kebo dengan kekasihnya. Sekarang saya jadi bertanya, apa dia bukan perempuan yang hebat?
… dan seandainya ada yang bilang saya cukup aneh untuk menganggap Oprah adalah perempuan hebat… saya rela, serela-relanya, untuk dianggap aneh :)

Saya sedih dan khawatir dengan orang-orang yang menganggap bahwa virginitas itu adalah simbolisasi dari perempuan yang sempurna. Bahkan banyak yang cenderung mengatakan bahwa perempuan yang masih virgin adalah perempuan yang paling baik.

Kenapa saya sedih?

Karena saya tahu sendiri, masih banyak di antara teman-teman saya yang virgin (ya, setidaknya itu yang mereka akui), melakukan hal-hal yang tidak baik. Bergosip, misalnya. Suka dugem, misalnya. Atau culas? Atau backstabber? Perawan ya perawan, tapi kalau soal karakter, bukankah itu sama sekali tidak ada hubungannya?

Yang saya maksud adalah, berhentilah menghujat orang-orang yang telah kehilangan mahkotanya (apa kalian pernah tahu, apa penyebab hilangnya mahkota tersebut?) sebagai perempuan dengan kualitas lebih rendah. Hentikan memandang orang dari kemasan atau label yang menempel di jidatnya. Karena sesungguhnya, perawan atau tidak perawan, mereka juga manusia yang memiliki kehebatan tersendiri, yang tidak kalian miliki.

Jadi… kenapa juga masih harus mempertanyakan robeknya selaput tipis bernama selaput dara tersebut?
Toh, kalian tidak pernah tahu apa selaput dara itu bukan bikinan dari Dokter Ahli Operasi Plastik yang bisa membuat selaput dara yang jebol itu tadi kembali utuh kan? ^_^

27 Responses to “perawan : ketika robeknya selaput tipis dipertanyakan”

  1. V66 Says:

    emang cintanya ama virginitas doang…sempit banget.
    btw ini pertamax ya hehehehe
    emang hilang virginitas hanya karena hubungan badan, kadang enggak juga.
    Dan sekarang betul yang kamu bilang…sudah bisa dirapatkan lagi ama dokter…hehehehe
    cuman biayanya berapa yak?

  2. jeunglala Says:

    Bener banget tuh. Ilang keperawanan bisa karena jatuh dari sepeda atau kuda atau olahraga ekstrim kan? Bukan semata-mata dari faktor seksual semata.

    Soal berapa biayanya… Ga tahu juga Mas, belum dirapetin lagi nih.. wekeke…

  3. Rere Says:

    Tapi apakah lelaki mau menerima perempuan yang sudah ’sobek’, bener-bener bisa ikhlas menerimanya, dan tidak akan mengungkit hal-hal tersebut di kemudian hari, apapun yang terjadi? Hanya para lelaki yang bisa menjawabnya :)

    @ Lala :

    Soal berapa biayanya… Ga tahu juga Mas, belum dirapetin lagi nih.. wekeke…

    Belum juga ditanya, dah mengaku secara tidak langsung. Entah ini kebenaran atau hanya kebetulan semata… :)

    Sekali lagi, semua itu tergantung bagaimana kita melihatnya. Toh, di luar sana masih saja yang peduli dengan “label” seseorang, baik virginity, divorce, dsb. Tapi, sekali lagi masalah latar belakang dan kebudayaan kita yang berbeda. Kita besar di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai dan norma-norma yang ada. Pernikahan di Indonesia tidak melulu dengan pasangan, tapi dengan keluarga. Toh, sebagai manusia biasa kita juga ingin calon pasangan yang sempurna, yang belum terjamah, kalau bisa. Bagi saya pribadi, kalo hal itu sudah terjadi, ya sudah. Itu masa lalu. Bagi saya yang terpenting masa sekarang dan dan masa depan yang akan kita jalani. Mungkin memang lebih enak bicara ketimbang melakukannya, ya. Saya akui itu.

    nb : kok komenku panjang banget yah? jadi berasa postingan blog aja. Semoga yang punya blog, tidak merasa keberatan dan ngambek seperti keponakanya :)

  4. deteksi Says:

    ya ya ya… saya rasa masih ada hubungannya antara kemampuan dalam mempertahankan keperawanan dengan kualitas seseorang

    mempertahankan keperawanan yang saya maksud adalah dia dengan sekuat usaha menghindari berbuat maksiat dan zina, tidak melakukan hubungan sex secara sengaja dengan pasangan di luar nikah [jadi sudah jelas, tidak termasuk perkosaan atau jatuh dari sepeda atau sejenisnya, karena keperawanan bukan hanya soal selaput dara semata]

    kualitas yang saya maksud adalah kualitas keimanan dia kepada tuhannya. agama sudah memberikan batas yang jelas bahwa hubungan sex di luar nikah adalah zina. oleh karenanya, seseorang yang kehilangan keperawanannya [atau keperjakaannya] karena aktifitas sex dengan pasangan diluar nikah, maka bisa dikategorikan orang yang rendah kualitasnya

    -

    masuk ke case study, tentang oprah, meskipun dia kelihatan hebat, menyumbang sekian trilyun, tetapi ternyata dia melakukan zina, sudah sangat jelas, kalau ditinjau dari kualitas yang saya maksud di atas, secara sah dan meyakinkan, bahwa dia bukanlah orang yang berkualitas

    -

    saya menjadi curiga, wanita yang menganggap keperawanan tidak penting biasanya dirinya sendiri sudah tidak perawan, demikian pula dengan laki-laki, yang menganggap keperawanan tidak penting biasanya dia sendiri sudah tidak perjaka.

    -

    percayalah, laki-laki baik-baik akan mendapatkan wanita baik-baik, begitu juga sebaliknya

    -
    [wah, komenku panjang juga]

  5. jeunglala Says:

    @deteksi: met kenal ya. Kalo bicara soal kualitas keimanan, ya pasti lah saya nggak akan ‘emosi jiwa’. Saya tahu itu zinah dan berzinah itu dosa. Otomatis kualitas itu nggak ada.
    tapi kenapa saya emosi jiwa? karena seringkali, yang dinilai adalah kualitas mereka dalam masyarakat. Ada lho temen kantor saya yang dengan ‘cerdasnya’ menghubung-hubungkan kualitas intelektualitas seseorang dengan virginitasnya. Waduh… apa saya nggak marah?

    Mm.. jadi pingin nanya. Bercumbu tapi tidak sampai kebobolan apa masih disebut perawan? Selaput darahnya sih utuh, tapi yang lain-lain?

    Saya bukannya pro-kontra keperawanan, saya hanya nggak mau menjadi sangat subjective dalam menilai seseorang. Lihatlah dia dari apa yang bisa dia lakukan di masyarakat, di kehidupan sosial. Masalah dia berkelakuan timpang di kehidupan pribadinya, itu urusannya saat Tuhan mempertanyakan seluruh organ tubuhnya di alam kubur, bukan urusan orang lain.

    Perawan atau tidak perawan, secara manusia sebagai makhluk sosial, saya anggap sama saja.
    Biar Tuhan sendiri yang menentukan, saya nggak mau ikut-ikutan :)
    … eh jadi ikutan panjang komentarnya.. hehehe

    @rere: Iya, bisakah calon suami menerima mereka apa adanya. Tapi itu jadi indikator rasa cinta lho Re. Mungkin saat pertama kali tahu, calon suami akan marah, kecewa, dll dsb. Tapi kalau sudah level yang cinta sekali…. mungkin… mungkin lho ya… hal ini nggak akan jadi masalah.
    Dan oh ya? Pengakuan duluan? Haha… Bukannya itu ambigu.
    “Belum dirapetin lagi” bisa berarti “sudah dan akan dirapatkan” atau “ngapain dirapetin kalau sudah rapet”?
    Nah lho… :)

  6. deteksi Says:

    @jenglala: seperti yang saya tulis di komentar di atas, bahwa keperawanan bukan semata masalah selaput dara. di bawah ini beberapa pendapat umum tentang keperawanan:

    >>asal selaput dara masih utuh, berarti masih perawan
    >>kalo selaput dara robek karena kecelakaan, berarti juga masih perawan
    >>selaput dara masih utuh, tapi sudah melakukan aktifitas seksual [berciuman, payudara diremas2, oral sex, petting dan sejenisnya] berarti sudah tidak perawan
    >>selaput dara sudah robek, tetapi belum pernah hamil dan melahirkan, berarti masih perawan

    dan masih banyak sekali pendapat yang lain. tentu saya sangat subjektif. tetapi dalam subjektifitas ini harus ada patokan yang bisa dijadikan standard. apa lagi kalo bukan agama?!

    mana yang lebih baik? yang selaput daranya masih utuh, yang moralnya terjaga, punya attitude dan altitude yang bagus. ada gak ya???!!!!

  7. jeunglala Says:

    yang jadi pertanyaan:
    - apa hubungan keperawanan dan kualitasnya dalam pekerjaan atau sebagai makhluk sosial — apa dijamin orang yang perawan bukan backstabber? Tidak akan pernah mencuri ide lalu mengatasnamakan ide tersebut dengan namanya sendiri? Tidak akan pernah korupsi?
    - bagaimana kalau sudah tobat? Apakah moralnya tetap tidak baik?
    Mohon dicatat, saya tidak pro… juga tidak kontra. Saya tidak mau menjudge orang, karena saya sendiri tidak sempurna. Selama orang itu baik dan tidak menyakiti, saya tidak akan repot-repot mem-visum dia di dokter kandungan ^_^

  8. V66 Says:

    Anjrit…..berarti kalo menurut Det, saya dah ndak perjaka lagi gituh…hanya karena menganut paham bahwa istri yang saya nikahi udah gak perawan? Hahaha naif amat yak? Asli ngakak.

    manusia gak ada yang sempurna ndul………..

    Apalagi dijaman seperti ini. Bukan ngejudge, cuman ngeri aja, BF Lokal aja berkeliaran dimana-mana. Sapa tau mungkin dari kita-kita juga ada kedapetan pasangan yang dah gak perawan dan beraninya ngomong kalo dah gak perawan setelah nikah. Emang nikah ama selaput dara loe….nikahkan itu kan menyatukan perbedaan pendapat, visi, misi dua orang yang berlainan jenis untuk beribadah, kemudian dapat amanah untuk membesarkan anak (kalo diberi).

    Jadi inget dulu ada seorang penyanyi namanya lupa tapi yang badannya super besar, setelah menikah bojone langsung dipegat, gara-garane pada saat hubungan pertama tidak mengeluarkan darah…..huahahaha ngakak bok.Balik SMP aja lagih….

    So, Saya cuman gak mau nelen ludah sendiri aja, topik beginian udah pernah kita bahas jaman saya masih kuliah dengan teman-teman di Akuntansi, so Kalo punya pendapat, akan tetap saya yakini. Walaupun memang rada gelo. Tapi tetap itu adalah rahasia pribadinya dan Allah swt.

    @Det, Bagaimana dengan laki-laki yang tulus mengangkat seorang PSK, yang dijadikan istri, yang jelas sudah bobol berkali-kali? Trus mengenai Petting oral dan lain-lainnya ato apalah, kita dan pasangan mungkin gak pernah tahu, its the past. kenapa juga harus mengungkit, yang penting menatap kedepan. Let’s think Postive.(maksudnya kalo dapat pasangan baru, syukur-syukur tuh pasangan ngaku hehehe)

    So, mo hubungan badan diluar nikah, siap-siap aja karmanya.

    hehehe ini adalah koment terpajang saya.

    Hidup Aunty.

  9. V66 Says:

    Pertanyaanku apakah Det masih perjaka? *wink-wink*
    *kabuuurrrrr sebelum disambit sapu ama det*
    *berlari cari perlidungan ke anak-anak Cah Andong penggila JAV*

  10. jeunglala Says:

    *baru kali ini baca komen panjang lebar dari V66* :)

    Maaf kalau melenceng, saya jadi pingin nanya. Kenapa keperawanan harus ditanggung perempuan saja? Apa kabar dengan laki-laki?
    Coba saja ada selaput jaka ya…
    Biar perempuan bisa punya ‘mimpi muluk’ juga ^_^

  11. niaalive Says:

    haaa, kok banyak banget tulisan-tulisan keliaan, saya pusing,,, yang jelas, bila kamu mencintai seseorang, terimalah apaadanya..

    simple kan =)

  12. V66 Says:

    Aunty,
    Ya Itulah Laki-laki adanya perjaka bukan selaput jaka hehehehe
    ndak bisa koment saya kalo yang itu. wis kodrate ngono.
    balik ke moral aja deh….
    berani ngaku gak hehehehe

  13. Rere Says:

    kenapa jadi ribet ya? :) yup, inilah manusia. selalu ingin mendapatkan yang terbaik dan tersempurna, tanpa (kalo bisa) dia sendiri harus jadi lebih baik. definisi keperawanan ini pun berbeda-beda, tergantung bagaimana kita memandangnya. sekali lagi, saya tidak suka dan tidak ingin menghakimi orang lain. jujur tidak sedikit teman-teman saya yang hidup dulu (bahkan sekarang) dengan bebas. sebagai teman, tugas saya hanya mengingatkan, tidak lebih dari itu. toh, mereka sudah dewasa. saya yakin mereka melakukannya dengan alasan tertentu. juga latar belakang dan lingkungan yang berbeda-beda. jadi, tak mungkin menghakimi orang hanya karena hasil akhir. mungkin kita melihatnya hasil akhir adalah salah atau negatif, karena kondisi sosial di sekitar kita tlah anggap itu negatif. karenanya saya sampai saat ini tidak bisa menghakimi orang karena saya tidak lebih dari orang lain. bahkan barometer menilai orang baik atau tidak pun, relatif.

    *sambil nonton di TePe*

  14. deteksi Says:

    @v66: walah, kalo baca yg bener lah pak.. diulang2 dan dipahami.. sy sudah memberi batas yg jelas. dan komentar sy juga bukan berupa judgement. kok komennya melebar ndak fokus gitu

  15. V66 Says:

    ndak fokus yah…hehehehe mbuh wes…*ada mbah sangkil gak ya, tak pake mbuh wesnya*

  16. deteksi Says:

    yawes ayo ngopi maneh ae… hekekeke…
    *nyruput kopi areng*

  17. jeunglala Says:

    hepi ending juga akhirnya *kedip2*
    yuk… nyeruput kopi ajaaahh…

  18. V66 Says:

    yooook ngopi lagi…
    sek tak ngopi paste opo ngopi toffee hehehehe

  19. mac Says:

    Sedikit komen neh,

    bukankah keperawanan telah dijaga dgn kasih sayang kita sendiri dari kita masi kecil, tul gak?? …tanpa sadar kita telah ikhlas banget merawat serta menjaganya bukan?…berapa lama anda tlah menjaganya??? dan hanya dengan emosi sekian menit anda rela seseorang merobeknya???

    so? virginity menurut gw sangat-sangatlah penting dan itu sebagai tolak ukur seseorang yg menjaga dirinya dengan kasih sayang itu dan jangan lagi beralasan seseorang itu khilaf dan rela dirobeknya tp toh ternyata orang yg merobeknya tidak lagi menyayangi kita sebagaimana kita tidak lagi menajga apa yg sudah kita jaga…

    perlu diingatkan, berhubungan suami istri bukanlah untuk penyaluran hasrat diri semata, melainkan untuk memperoleh keturunan melalui pernikahan..!!!

    bagi yg sudah terlanjur, berkomitmentlah untuk selalu tetap menjaga diri, berkasih sayanglah kepada seseorang yg layak kita sayangi

    tks

    bagus juga komentarnya. tapi saya tanya sedikit saja: robeknya selaput dara kan tidak melulu harus dari proses ‘kerelaan’ semata kan? bagaimana dengan jatuh dari sepeda, olahraga ekstrim? atau lebih parah lagi… pemerkosaan, yang pastinya tidak rela?

    Saya sih bukannya tidak menganggap penting atau mengecilkan arti dari simbolisasi virginity itu sendiri. Saya hanya mengatakan, bahwa virgin atau tidak, selama orang itu baik terhadap saya, tidak akan sedikitpun saya mempertanyakan kualitasnya :)

  20. aku Says:

    Kenapa sih ribut masalah Selaput Dara, yg penting kan sekarang!
    emg klo udh robek trus mau gmn…..
    asal ada komitmen dari setiap pasangan, buat saling jaga dan menghargai kan selesai masalah.

    klo mnurut aku sih, yg udah ya udah…yg penting skrg kan udah tau akibatnya kan?
    jd dr bpk/ibu yg udh isi comment, yg pnya adek ce thu dijaga dr co PIKTOR..

    bt ce yg pnya co PIKTOR trus, minta mcm2 mending udahan aja dr skrg, soalnya kbanyakan co klo udah dpt “Itu” nya ce suka seenaknya, mlhan bnyak jg yg enak gonta-ganti, cr yg virgin..( ky penjahat kelamin )…ha4.

    ….bt co yg pnya ce jg djaga…klo yg msh virgin dijaga, yg ngga virgin ya djaga jg, soalnya kbnyakan ce emg nda bs nolak co bt skedar petting pd keadaan mendesak, hasilnya = co senyum bangga hbs ngelakuin, ce mikir+kecewa seumur hidup.

    - nulis smbl ngupil – ha4

  21. aseagullflap Says:

    hmm… agree with u jeunglala..

  22. stey Says:

    wah..sama..saya pernah debat di milis yang saya ikutin tentang keperawanan..tapi bedanya saya debat saya cowok..it makes me more mad when he said,” yang baik, pasti dapat yang baik juga”..maksudnya apa coba?not that im legalized sex before married tapi kan itu kerdil..:D

  23. lily Says:

    perawan itu PERLU, tapi cukup ke diri sendiri aza kaleee.
    penting ga seh kenalan sambil bilang
    ‘kenalken nama saya lily, saya masih perawan loooo’
    (tingtingtingting)

    jijik abiezz!!!

    :) Lilyana

  24. uPha Says:

    Lam knal y jeunglala.
    ya menurut aku seh memang kePERAWANAN itu penting bagi perempuan,tapi ga semua perempuan yang ga PERAWAN itu jelek dimata Laki2 kan?
    Bisa aja yang ga perawan itu lebih baik dari yang perawan.
    Terkadang Laki-laki suka munafik,bilang mau punya pasangan yang PERAWAN,tapi mungkin aja dia sebelum2nya udah berhubungan suami istri dengan perempuan lain.
    Toh sama aja kan?Dia juga udah ga perjaka.
    Jadi kenapa mesti dipermasalahin.
    HArus dilihat dari diri sendiri terlebih dahulu,sebelum menjudge orang.hehe

  25. tutinonka Says:

    Seru mengikuti diskusi lewat komentar-komentar para pembaca. Kalau saya mah setuju bahwa ukuran integritas kepribadian seseorang adalah pada akhlaknya. Jika akhlaknya baik, seorang gadis tidak akan kehilangan keperawanan kalau bukan karena jatuh, naik sepeda, atau diperkosa.

    Bagaimana kalau itu terjadi karena kekhilafan masa lalu, dan sekarang sudah tobat? Ya kita lihat yang sekarang saja. Sekarang baik, ya berarti baik. Tidak ada orang yang lepas dari kesalahan, dan Tuhan Maha Pemaaf.

    Alangkah sombongnya kita jika tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, sedangkan Tuhan Yang Maha Kuasa saja selalu bersedia memberikan maafnya.

    Salam,
    Tuti

  26. iKo Says:

    aduu mbak..
    Aq ank sMa, grade akhr.. Aq pux pcar, dy ank rntau & otmatis jauh dri ortuu.. Hubungn kmi dah brlgsg 2,5 taon.. Aq khilaf, aq ambil perawanx dy & dy pun mau.. Aq bingung mbak skrg.. Tar aq mau ngmg apha sma ortu q & ortux dy.? Mna aq m dy bda kyakinan.. Pliz bntuin aq mbak..

  27. Febrian Says:

    Jeunglala hebat ya.. topik ini dibahas dari Maret 2008 sampe
    November 2008. Dan sekarang aku nambahin sampe Maret 2009. Biar pas setahun..hehe… Menarik bgt loh..


Leave a Reply